MALANG, KOMPAS-Seorang pendaki ilegal Gunung Semeru di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, bernama Cakra (18) dilaporkan terperosok ke jurang. Proses evakuasi terhadap korban terkendala medan berat.
Medan yang terjal dan curam dilaporkan mengiringi proses evakuasi. Untuk menjangkau lokasi korban berada, tim harus berjalan kaki selama delapan jam.
“Masih proses evakuasi,” ujar Koordinator Unit Siaga SAR Malang Raya Imam Nahrowi, Rabu (3/6/2026) malam.
Sebelumnya, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) Rudijanta Tjahja Nugraha, mengatakan, menerima informasi dari masyarakat terkait kecelakaan yang dialami pendaki di jalur tidak resmi.
Mereka mendaki melalui jalur Candi Jawar Purbakala Desa Argoyuwono, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang.
“Jalurnya bukan pendakian resmi yang dikelola BBTNBTS. Lokasi tersebut merupakan akses tidak resmi. Masyarakat setempat juga mengetahui jalur tersebut bukan pintu masuk pendakian Semeru,” ujarnya.
Rudijanta menambahkan, hingga kini, pendakian ke puncak Semeru masih ditutup. Semeru masih berstatus Siaga dan erupsi masih berlangsung.
“Oleh karena itu, pendakian oleh ketiga orang itu ilegal dan tidak tercatat dalam sistem pelayanan pendakian BBTBTS,” katanya.
Mengenai kronologi kejadian, Rudijanta memaparkan tiga pendaki itu berasal dari Semarang, Malang, dan Pasuruan. Mereka mulai mendaki Sabtu (30/5/2026).
Namun, dua hari kemudian, Senin (1/6/2026), sekitar pukul 10.00 WIB, salah satu pendaki menghubungi orang tuanya. Dia mengatakan terjatuh di lereng Semeru dan membutuhkan pertolongan. Korban juga sempat mengirimkan titik koordinat lokasi terakhir sebelum komunikasi terputus.
Menindaklanjuti informasi itu, keluarga korban kemudian berkoordinasi dengan Komando Rayon Militer (Koramil) Tirtoyudho dan Koramil Ampelgading untuk melakukan pencarian.
Pada Senin malam, sekitar pukul 22.00 WIB, orangtua korban bersama enam orang warga Kaliputih, Ampelgading, menuju ke lokasi.
Pada Selasa (2/6/2026), sekitar pukul 10.00 WIB, korban ditemukan. Namun, proses evakuasi terkendala medan berat sehingga dibutuhkan personel tambahan.
Pada Selasa sore ada tambahan warga, masing-masing dari Desa Tamansatriyan dan Tlogosari di Kecamatan Tirtoyudo serta Desa Tamansari di Kecamatan Ampelgading membantu proses evakuasi.
Rabu, sekitar pukul 06.00 WIB, tim gabungan terdiri dari petugas BBTNBTS, Badan SAR Nasional, masyarakat, dan relawan kembali bergerak menuju lokasi guna melanjutkan proses evakuasi.
Berdasarkan perkembangan terakhir, jika cuaca dan medan memungkinkan, korban diperkirakan tiba di posko evakuasi tengah hari.
“Ambulans dan tenaga kesehatan telah disiapkan di posko evakuasi untuk guna memberikan penanganan medis awal kepada korban sebelum dirujuk ke rumah sakit,” kata Rudijanta.




