Ada Alumnus Beasiswa LPDP di Balik Sukses Kopikina, Ini Kisah Inspiratif Raras Cynanthia

medcom.id
7 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Perjalanan akademis hingga tingkat paling tinggi sering kali diidentikkan dengan karier di dunia akademik seperti menjadi peneliti atau menjadi dosen. Namun, hal itu tak berlaku bagi Raras Cynanthia.
 
Bergelar S3, Raras membuktikan bahwa kedalaman ilmu pengetahuan yang diraihnya bisa menjadi jalan di bidang industri rill. Alumnus penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) itu justru berhasil membangun ekosistem industri kopi di Indonesia. 
 
Raras tercatat sebagai generasi penerima manfaat beasiswa LPDP angkatan paling pertama. Pada usia yang tergolong sangat muda yaitu 23 tahun, ia telah memantapkan langkah terbang ke Inggris demi menempuh pendidikan tingkat doktoral.

"Berangkat ke Inggris untuk S3 itu di usia 23 tahun, di tahun 2013. Saya pada saat itu mendapatkan beasiswa LPDP PK1, yaitu batch yang paling pertama," kata Raras dikutip dari unggahan instagram @lpdp_ri, Rabu 3 Juni 2026.
  Baca juga: Kabar Gembira! Pramono Anung Matangkan Program LPDP Khusus Warga Jakarta, Target Cair Tahun Depan
Selama menjalani masa studi PhD di Inggris, Raras secara spesifik mendalami keilmuan manajemen dengan fokus riset pada perilaku konsumen. Bidang ini mengupas tuntas tentang cara manusia berpikir, mengambil keputusan memilih produk, hingga membangun keterikatan emosional pada sebuah pengalaman.
 
"S1 saya di Psikologi UGM, S2 saya di University of Sheffield (Management Practice), kemudian lanjut PhD di University of Manchester. Kuliahnya manajemen, fokus di risetnya Consumer Behavior," jelasnya.
 
Kembali ke Tanah Air, bekal riset akademis teoritis itu tidak dibiarkan mengendap di dalam perpustakaan atau jurnal ilmiah semata. Raras melihat potensi besar dari tren kedai kopi yang sedang menjamur di Indonesia, lalu merumuskan strategi bisnis yang berbeda dari kompetitor kebanyakan.
 
"Ilmu yang dulu dipelajari di ruang riset itu hari ini justru hidup di tempat yang kini begitu digandrungi anak muda, industri kopi. Jadi kita berpikir pada saat itu, 'Oke, sekarang coffee shop lagi cukup booming di Indonesia," lanjutnya.
 
Alih-alih langsung membangun kedai kopi mewah demi bersaing ketat dengan modal besar, Raras bersama suaminya memilih masuk ke industri ini sebagai penyuplai bahan baku. Langkah taktis menjadi penyedia kopi ini diambil karena membutuhkan modal awal yang jauh lebih terjangkau namun memiliki dampak jangkauan yang luas.
 
"Tapi kalau kita mau main, competing with all those coffee shops yang fancy, kita nggak bisa. Gimana kalau kita jadi supplier-nya aja? Nah, pada saat itu akhirnya karena jadi supplier modalnya lebih kecil," ungkap dia.
 
Memulai perjalanannya dari sektor hulu, bisnis kecil ini terus bergerak maju dengan mengoperasikan fasilitas pemanggangan biji kopi mentah secara mandiri. Raras secara konsisten menawarkan produk berkualitas tersebut ke berbagai korporasi berskala besar guna membangun fondasi bisnis B to B yang kokoh.
 
"Kemudian akhirnya mulai nge-roasting green bean, terus mencoba untuk jualan ke beberapa company besar. Dari menjadi roastery dan supplier, hingga berkembang menjadi brand," kata dia.
 
Kini, usaha rintisan yang bermula dari skala kecil tersebut telah bertransformasi menjadi sebuah ekosistem rantai pasok kopi yang modern dan terintegrasi. Tidak hanya mengolah fisik komoditas, Raras juga memanfaatkan pengolahan data analitik mutakhir untuk memetakan perilaku dan preferensi pasar di berbagai wilayah.
 
"Kita punya the whole ecosystem. Kita punya pabrik, kita jadi data center juga. Means kayak kita tahu titik-titik mana coffee consumption paling tinggi, jenis kopi apa yang paling banyak diminati di area tertentu. Itu baru dari sisi marketplace," sebut dia.
 
Melalui nama Kopikina dan Kina Specialty, ruang yang dihadirkan bertumbuh melampaui fungsi kedai kopi konvensional pada umumnya. Tempat ini dikembangkan sebagai pusat bertemunya berbagai komunitas, mulai dari pecinta olahraga, pegiat literasi, hingga penikmat seni dan musik.
 
"Kina Specialty goes beyond only the coffee. Kita tap in di music, kita tap in di art, kita tap in juga di communities. Jam 7 kita akan sering full sama runners, jam 10 kita akan bedah buku, malam kita akan ada music concert," terang dia.
  Baca juga: Anti Ribet! Beasiswa Kemenag 2026 Tawarkan Kuliah S1 Langsung S2 Buat Santri
Skala bisnis yang masif ini dibuktikan dengan kepemilikan pabrik pengolahan besar yang beroperasi di kawasan industri Cikarang. Keberadaan ekosistem usaha ini secara langsung telah menjadi tumpuan hidup dan sumber nafkah utama bagi ratusan karyawan lokal yang mereka pekerjakan.
 
"Saat ini kami memiliki 260 karyawan. Kita punya pabrik di Cikarang. Hari ini, karya dan kontribusi Raras bukan hanya membawa Kopikina bertumbuh sebagai bisnis, tetapi juga menjadi sumber nafkah bagi ratusan pekerja," imbuhnya.
 
Dampak ekonomi dari bisnis rintisan alumnus penerima beasiswa negara ini juga sangat dirasakan secara nyata oleh sektor pertanian di berbagai pelosok nusantara. Setiap bulannya, perusahaan menyerap puluhan ton biji kopi langsung dari para petani lokal untuk kemudian disalurkan ke pasar korporasi maupun kedai mandiri.
 
"Untuk per bulannya kita sudah membeli lebih dari 50 ton kopi dari petani dari seluruh Indonesia yang kita proses dan kita jual secara B to B ke beberapa company lain ataupun juga kita jual di Kopikina kita sendiri. Membuka pasar bagi ratusan petani kopi dari berbagai daerah di Indonesia," tutur Raras.
 
Sebagai bentuk tanggung jawab moral dari seorang akademisi sekaligus sosiopreneur, perusahaan yang dipimpin Raras senantiasa mematuhi regulasi keuangan negara. Kontribusi nyata tersebut bahkan mendapatkan apresiasi resmi berkat kepatuhan dan besaran nominal setoran pajak yang diserahkan kepada kas negara.
 
"Pernah juga dapat penghargaan penyumbang pajak terbesar dari KPP Matraman. Serta ikut berkontribusi kembali kepada negara melalui penerimaan pajak," pungkasnya. 
 
Kisah inspiratif dari Raras mengukuhkan bukti bahwa investasi negara lewat program beasiswa pendidikan mampu memicu efek domino bagi perekonomian nasional. Di balik setiap cangkir kopi yang dinikmati konsumen, terdapat rangkaian nilai ekonomi yang menghidupi ekosistem dari hulu hingga ke hilir.
 
"Di balik setiap cangkir kopi yang tersaji, ada rantai nilai yang menghidupi banyak orang," tutup dia. 
  Baca juga: Ada Dana Abadi Rp 13,9 Triliun untuk Periset, LPDP: Ayo Maksimalkan!
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penampakan Silmy Karim Pakai Rompi Oranye-Tangan Diborgol di KPK
• 4 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Kasus Eks Kepala BGN Dadan dkk: Penunjukan Mitra SPPG dan Mark Up Anggaran
• 8 jam lalukompas.com
thumb
Brooke Shields Kenang Masa Kelam Ketenaran, Penggemar Pernah Berusaha Memotong Rambutnya
• 12 jam lalutabloidbintang.com
thumb
3.791 Jemaah Haji Debarkasi Surabaya Sudah Pulang, Dua Masih Dirawat di Arab Saudi
• 19 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Mirza Mustafic Tinggalkan Bali United
• 10 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.