Pandangan tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam UBS Asian Investment Conference 2026 yang digelar di Hong Kong dan Singapura pada 25–29 Mei 2026. Acara yang diselenggarakan oleh UBS itu dihadiri lebih dari 6.000 peserta dari berbagai negara.
Konferensi ini mempertemukan pembuat kebijakan global, pemimpin bisnis, hingga investor untuk membahas perkembangan pasar, arah kebijakan ekonomi, serta tema investasi jangka panjang di tengah dinamika geopolitik dan perdagangan dunia.
Salah satu pembicara dari Indonesia adalah Suahasil Nazara yang memaparkan prospek investasi Indonesia di tengah perubahan lanskap perdagangan global. Ekonomi Indonesia dinilai tetap tangguh Dalam paparannya, Suahasil menyampaikan bahwa perekonomian Indonesia masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, sektor manufaktur, dan jasa yang kuat.
Ia menegaskan disiplin fiskal tetap menjadi fondasi utama kredibilitas kebijakan ekonomi nasional. Menurutnya, batas maksimal defisit APBN sebesar 3 persen menjadi sinyal komitmen pemerintah terhadap pengelolaan ekonomi yang berkelanjutan.
“APBN akan terus berfungsi sebagai shock absorber guna melindungi daya beli masyarakat serta menjaga stabilitas makroekonomi,” ujar Suahasil. UBS optimistis terhadap prospek Indonesia Head of UBS Indonesia Research UBS Investment Bank, Joshua Tanja, mengatakan AIC 2026 menghadirkan lebih dari 6.000 investor global dan memfasilitasi lebih dari 3.000 pertemuan dengan perusahaan publik, perusahaan swasta, serta investor internasional.
Menurut Joshua, UBS tetap optimistis terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinilai stabil di tengah tantangan global.
“Prospek pertumbuhan Indonesia didukung oleh permintaan domestik yang tangguh, kebijakan fiskal dan moneter yang bijaksana, serta momentum berkelanjutan di sektor manufaktur dan jasa,” katanya. Sorotan program Asian Investment Conference 2026 Asian Investment Conference 2026 menghadirkan beragam diskusi strategis mengenai arah ekonomi dan investasi global. Salah satu sesi utama mempertemukan Simon Johnson dan Kevin Rudd yang membahas bagaimana perkembangan teknologi dan dinamika politik global membentuk pertumbuhan ekonomi, inflasi, hingga arus modal dunia.
Konferensi ini juga menghadirkan dialog mengenai peluang investasi jangka panjang bersama David Rubenstein dan Iqbal Khan yang menyoroti perubahan pasar serta arah pergerakan modal global di tengah ketidakpastian ekonomi.
Pembahasan kebijakan moneter global turut menjadi perhatian melalui pandangan dari Adrian Orr dan Charles Evans mengenai tantangan inflasi, suku bunga, dan stabilitas ekonomi dunia.
Sementara itu, isu geopolitik dan stabilitas global dibahas oleh sejumlah tokoh internasional seperti Alastair Campbell, Ng Eng Hen, dan Carla Sands yang mengulas perubahan lanskap geopolitik dan dampaknya terhadap dunia usaha serta investasi.
Asian Investment Conference 2026 juga membahas perkembangan ekonomi Asia, termasuk transformasi ekonomi Jepang bersama Satsuki Katayama dan prospek ekonomi Tiongkok yang dipaparkan oleh Huang Haizhou.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(KIE)





