Bisnis.com, JAKARTA -- Sejumlah peritel mengatakan telah menyesuaikan kenaikan harga produk yang memiliki bahan baku impor ke tingkat konsumen seiring dengan berlanjutnya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Berdasarkan data TradingView, nilai tukar rupiah mengalami koreksi yang semakin dalam hingga menembus level Rp18.020 per dolar AS pada Kamis (4/6/2026).
Direktur Finance PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI) Suantopo Po mengatakan produk ritel yang menggunakan komponen impor seperti susu, kacang hijau, hingga kedelai dinilai paling rentan terdampak oleh pelemahan nilai tukar rupiah.
Menurutnya, apabila terjadi kenaikan harga dari sisi produsen imbas pelemahan rupiah, peritel juga akan menyesuaikan harga.
“Contohnya seperti susu atau bahkan kacang hijau atau kedelai, impor pasti. Produk yang menggunakan bahan baku tersebut pasti akan mengalami [kenaikan biaya]. Pada prinsipnya apabila ada kenaikan harga, ya pasti otomatis kita akan menaikkan harga juga,” ujarnya, Kamis (4/6/2026).
Kendati demikian, dia menegaskan bahwa peritel pada dasarnya hanya menjadi mata rantai distribusi yang mengikuti kebijakan harga dari pemasok.
“Kita adalah retailer. Jadi mungkin ada atau tidak ada kenaikan harga kembali tergantung pada pabrikan,” katanya.
Di tengah tekanan tersebut, MIDI tetap optimistis terhadap prospek bisnis tahun ini. Perseroan menilai sektor ritel kebutuhan sehari-hari masih memiliki karakter defensif yang relatif mampu bertahan di tengah berbagai gejolak ekonomi.
Selain memperluas jaringan usaha, Perseroan terus memperkuat ekosistem digital melalui pengembangan platform belanja online Midi Kriing yang semakin user-friendly. Hingga akhir 2025, jumlah member Alfamidi mencapai 7,02 juta yang berkontribusi sebesar 49,8% terhadap total penjualan Perseroan.
Dalam menghadapi dinamika pasar yang semakin kompetitif, Alfamidi juga melakukan optimalisasi jaringan gerai dengan menganalisis preferensi pelanggan guna menyesuaikan ketersediaan produk, menghadirkan promo yang relevan, serta memberikan pengalaman belanja yang lebih personal bagi konsumen.
Penyesuaian Harga Ranch MarketPandangan serupa disampaikan manajemen pengelola Ranch Market PT Supra Boga Lestari Tbk. (RANC). Perseroan mengakui bahwa penyesuaian harga sudah mulai terjadi pada sebagian besar produk yang dipasok vendor.
Direktur RANC Hady Purnama mengatakan kenaikan harga tersebut berasal dari pemasok yang lebih dahulu melakukan penyesuaian akibat tekanan biaya yang mereka hadapi.
“Sebagian besar sudah ada penyesuaian, karena dari pihak vendornya sendiri sudah melakukan penyesuaian harga,” ujarnya.
Perseroan memilih fokus menjaga pertumbuhan penjualan dengan meningkatkan daya tarik toko dan memperkuat strategi promosi. Langkah tersebut ditempuh di tengah kondisi daya beli masyarakat yang masih lemah serta nilai tukar rupiah yang terus mengalami tekanan.
Manajemen menilai keberhasilan mempertahankan trafik pelanggan akan menjadi faktor penting dalam mencapai target pendapatan tahun ini.
“Kita akan terus berusaha dengan kondisi daya beli masyarakat yang lemah dan nilai rupiah yang terus turun. Bagaimana caranya bisa memberikan penawaran produk yang menarik, promo yang tepat sasaran, kondisi toko yang menyenangkan, pengalaman berbelanja yang lebih dari sekadar belanja, sehingga bisa menarik trafik pelanggan ke toko kami,” ujarnya.
Menurutnya, kualitas operasional toko menjadi kunci untuk menjaga loyalitas pelanggan di tengah persaingan industri ritel yang semakin ketat.
“Harapannya dengan proses operasional yang baik, customer kami tetap setia dan tetap berbelanja di kami, sehingga target pendapatan yang kami letakkan untuk tahun ini bisa dicapai,” katanya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





