Transaksi Digital Melonjak, OJK Minta Industri Perkuat Sistem Keamanan

metrotvnews.com
17 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Kepala Direktorat Pembelaan Hukum Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tri Herdianto mendorong pelaku industri sektor keuangan untuk semakin siap dalam memperkuat keamanan transaksi digital.
 
"Kesiapan industri dalam memperkuat keamanan transaksi digital saat ini menjadi sangat krusial. Kita harus memahami fraud resilience bukan lagi sekadar isu teknis atau teknologi, melainkan pilar utama dalam menjaga trust dari masyarakat dan memastikan keberlanjutan bisnis di sektor jasa keuangan," kata Tri dalam keterangan bersama Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) di Jakarta, dikutip dari Antara, Kamis, 4 Juni 2026.
 
Adapun Bank Indonesia (BI) mencatat transaksi pembayaran digital mencapai 14,82 miliar transaksi pada kuartal I-2026, meningkat 37,69 persen dari periode yang sama tahun lalu.
 
Di tengah pesatnya pertumbuhan tersebut, ancaman kejahatan siber pun kian meningkat. Para fraudster kini bahkan telah memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk melancarkan aksinya dengan lebih canggih dan sulit terdeteksi.
 
Sementara, BSSN juga mencatat sepanjang 2025 terdapat 5,2 miliar trafik internet yang berpotensi menjadi jalur serangan siber, 94 persen di antaranya merupakan malware dengan risiko tinggi bertransformasi menjadi serangan ransomware.
 
"Terkait hal tersebut diperlukan kolaborasi dari seluruh pemangku kepentingan di sektor keuangan digital karena perlindungan konsumen dan ketahanan terhadap fraud merupakan tanggung jawab bersama dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sektor jasa keuangan," papar Tri.
  Baca juga: Industri Kripto Indonesia Kini Jadi Bagian dari Ekosistem Keuangan Digital

(Ilustrasi logo OJK. Foto: dok MI)
  FDS jadi infrastruktur krusial bagi industri keuangan digital  
Wakil Ketua Umum II AFTECH Budi Gandasoebrata menambahkan, keamanan, ketahanan infrastruktur, dan manajemen risiko merupakan fondasi utama dalam membangun sistem pembayaran yang sehat dan berkelanjutan.
 
"Industri tidak lagi hanya dituntut untuk tumbuh cepat tetapi juga harus tumbuh resilient. Dan dalam konteks tersebut, Fraud Detection System atau FDS saat ini bukan lagi sekadar fitur pendukung, melainkan infrastruktur krusial bagi industri keuangan digital," kata Budi.
 
Senada dengan hal tersebut, PT Jalin Pembayaran Nusantara (Jalin) sebagai digital enabler nasional bagian dari Holding BUMN Danareksa turut menegaskan pentingnya respons kolektif terhadap ancaman yang terus berkembang.
 
Direktur Utama Jalin Ario Tejo Bayu Aji menyebutkan lanskap ancaman yang kini mengintai platform pembayaran digital menuntut pendekatan keamanan yang bersifat kolektif melalui penguatan shared services & infrastructure di bidang fraud management.
 
"Model ini juga memberikan ruang bagi pelaku industri untuk tetap fokus pada pengembangan inti bisnis mereka, sementara fondasi keamanannya dikelola secara lebih profesional dan terkoordinasi," jelas dia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dicokok Kejagung, Sony Sonjaya Tulis Sepucuk Surat untuk Kepala BGN Baru: Terima Kasih atas Hadiah Indahnya
• 20 jam laludisway.id
thumb
Wujud Keberhasilan Swasembada Pangan dan Energi, Komisaris Pertamina Apresiasi Program TJSL Uma Palak Lestari
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
Noel Terima Divonis 4,5 Tahun Penjara: Sesuai dengan Kejahatan Saya
• 19 jam laludetik.com
thumb
Resmi! Prabowo Copot Silmy Karim dari Jabatan Wamen Imipas
• 15 jam lalubisnis.com
thumb
Investasi Rp3 Triliun untuk PSEL Semarang Raya Diminati 85 Investor, Dorong Pengelolaan Sampah Jadi Energi Listrik
• 15 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.