Ruang Kesadaran Wigner dan Halusinasi Ternilai Cerdas

detik.com
2 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Di saat semua bangsa berpacu untuk berada di garis depan kejayaan ilmu pengetahuan, bagai tak usai, semesta kaum cendekia kita gaduh lagi. Kali ini dipantik kelompok yang menyaru sebagai peneliti. Mencoreng marwah Indonesia dalam sebuah konferensi di Denmark. Mereka melakukan academic misconduct secara sangat brutal.

Mencatut nama orang, memanipulasi dan melakukan fabrikasi data memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), menyajikan hasil riset fiktif dan palsu dengan afiliasi palsu pula. Menipu untuk mendapatkan biaya perjalanan konferensi demi hasrat melancong ke negeri asing. Nir adab dan integritas. Tentu nurani kaum cendekia tersayat, sekosong dan senista itukah ruang kesadaran kita?

Ruang Kesadaran Wigner

Akal sehat setiap orang tentu akan berkata bahwa tindakan itu pasti bukan ketidaksengajaan. Eugene Paul Wigner, pemenang Nobel Fisika tahun 1963 pernah berkata bahwa pengamat dan subyek yang teramati bertaut dalam relasi mendalam. Kesadaran berperan penting untuk menghadirkannya sebagai kenyataan.

Singkat kata, bersandar pada perspektif fisika kuantum, Wigner menciptakan ruang pandangan filosofis yang menegaskan bahwa realitas pada dasarnya dapat dibentuk oleh simulasi keasadaran. Artinya, sesuatu yang tidak terlebih dahulu tergambarkan di ruang kesadaran mustahil maujud menjadi tindakan.

Pandangan filosofis Wigner memberi sandaran berkeyakinan bahwa perbuatan kelompok tersebut terjadi dengan disertai niat kuat. Catatan perjalanan dan angka kesertaan mereka dalam berbagai forum konferensi internasional di berbagai negara dalam setahun yang begitu tinggi menguatkan dugaan penyimpangan serius dan brutal.

Berkesengajaan, sistematis dan terorganisir. Nalar kita tentu bertanya lagi, telah tidak tersisakah nilai-nilai etika akademik di kesadaran mereka? Halusinasi untuk ternilai cerdas dalam buaian hasrat melancong seperti menemukan muaranya dalam kehebatan AI. Merontokkan idealisme dan nilai-nilai etika akademis. Bagaimana semestinya sikap kampus?

Untuk menjawab pertanyaan itu, pertama, universitas harus terlebih dahulu didudukkan sebagai kubah harapan. Kedua, diperlukan sajian penyanding untuk menegaskan bahwa kemampuan berpikir kritis dapat menjadi fundamen keberpihakan dan bahkan jalan pembebasan. Melawan ketidakadilan hatta itu terjadi di domain akademik.

Kubah harapan itu merupakan tempat yang dituju para pendamba pencerahan, perindu jalan keluar pesoalan. Suarnya mencerahkan peradaban, sekali gus tempat dimana nilai kebenaran dibina dan terkawal berkeselamatan.

Atmosfirnya menghembuskan keterbukaan, kesetaraan, adil tanpa diskriminasi. Terbina dalam budaya akademik egaliter, dinamis berkejujuran. Dibingkai adab dan integritas sebagai penciri martabat kaum yang menghamba kepada Tuhan.

Kekuatan universitas dicirikan oleh kompatibilitas bernalar tinggi yang kuasa berselaras dengan laju arus perubahan. Teknologi telah sedemikian maju dan internet menghamparkan ruang belajar nyaris tanpa tepi. Menghadirkan pertautan persepsi yang menuntut koherensi berpikir. Bukan berfokus pada keseragaman apa pun melainkan menerima keberagaman sebagai berkah semesta untuk membangun resonansi akal budi tanpa batas.

Yang demikian itu merupakan keniscayaan dalam eksistensi kampus yang interaksi akademiknya melampaui batas wilayah dan negara. Sejajar dengan itu, AI, tak dapat disangkal juga merupakan keniscayaan yang dihadirkan oleh perubahan zaman.

Dalam posisi kampus yang sedemikian strategis, maka keteladanan tertelusur para professor dan dosen menjadi simpul insprirasi. Laksana obor yang memberi terang padang dharma. Tak terkecuali dalam adaptasi AI untuk kepentingan akademik maju secara taat kaidah.

Mengacu kepada pandangan Wigner, peran para professor itu laksana panglima dalam pertarungan melukis masa depan pengisi ruang kesadaran mahasiswa. Di ruang itu etika didefinisikan, disemai, tumbuh dan dimekarkan. Integritas dan adab dicontohkan. Kemampuan berpikir kritis yang berkawal etika dan integritas dipastikan selalu bertampuk di atas manfaat AI. Bukan sebaliknya justru etika dan integritas yang tergilas oleh buaian AI.

Dengan begitu, ruang-ruang kelas dan laboratorium di kampus menjadi laksana petak-petak persemaian daya yang membebaskan. Peretas belenggu ketertinggalan dengan tiga jaminan keutamaan.

Pertama, proses literasi yang memastikan bahwa mahasiswa cakap membaca dan mengenal kebenaran secara lebih cepat. Kedua, pendewasaan belajar yang memastikan mahasiswa mampu membangun pemahaman keilmuan yang lebih tepat, serta ketiga, sokongan budaya dan nilai-nilai kejujuran, etika serta integritas yang mengawal kinerja hantaran manfaat berpengetahuan yang lebih lebih hebat.

Ketiganya membentuk sistem nilai yang menjadi ruh setiap aspek akademik. Tanpa itu, universitas mustahil membangun reputasi andal. Mustahil melabuhkan inovasi dan solusi yang meneguhkan jejak kehadiran. Tanpa itu universitas mustahil menjadi bagian penting dalam ruang kesadaran publik.

Koherensi dalam kemampuan berpikir kritis adalah kunci. Tulisan Roei Golan dkk yang bertajuk artificial intelligence in academic writing: a paradigm-shifting technological advance di Nature Reviews Urology 24 Februari 2023 menggambarkan betapa kemampuan menyelaraskan dan adaptasi AI dapat memperkaya khazanah akademik.

Tentu saja terdapat catatan sangat penting bahwa para dosen dan professor harus berada di depan barisan. Sebagai pemandu kesadaran dalam kawalan integritas dan etika akademik. Bahwa kemampuan berpikir kritis berkejujuran harus selalu menjadi ruh berkhidmat para akademia. Sudahkah kita begitu?

"Kudeta" Elbakyan

Lalu bagaimana dengan daya pembebasan yang dapat dipantik kekuatan berpikir kritis? Saya memandang bahwa kisah dan kiprah Alexandra Elbakyan adalah contoh yang dapat memperkaya perspektif berpikir kritis semua pihak tanpa bermaksud menyiratkan keberpihakan maupun menentang jalan bertindaknya.

Alexandra Elbakyan, gadis Kazakhstan, bertarung melawan sesuatu yang dipandangnya sebagai ketidakadilan atas hak mendapatkan akses informasi ilmu pengetahuan khususnya jurnal ilmiah. Baginya, setiap jurnal ilmiah sepatutnya dapat diakses bebas oleh siapa saja.

Ia menilai bahwa journal paywalls justru bergerak ke arah sebaliknya. Maka Sci-hub muncul sebagai manisfestasi kudeta. Dalam hal ini Elbakyan menjadikan kemampuan berpikir kritis dan kecerdasannya di ranah komputer dan teknologi informasi sebagai suluh penegas keberpihakan.

Laksana Robin Hood, ia dibenci kalangan penerbit, nun sebaliknya menjelma sebagai hero di benak jutaan peneliti dan mahasiswa di berbagai belahan dunia. Data tahun 2022 menunjukkan bahwa pada bulan Juni saja terdapat lebih dari 25 juta akademia China yang mengakses dan mengunduh paper gratis via situs Sci-hub.

Lalu tercatat pula lebih 20 juta orang Russia dan lebih dari 9 juta orang Amerika. Sementara orang Indonesia tercatat lebih dari 916 ribu. Semua menikmati manfaat Sci-hub. Tak berhenti di situ, belakangan ia mengembangkan Sci-bot. Sebuah aplikasi AI yang menyasar para peneliti.

Itu mustahil terjadi tanpa kemampuan berpikir kritis teruji. Elbakyan tidak mengejar kesenangan pribadi melainkan menegaskan kredo yang diyakininya. Bahwa keadilan akses adalah hak siapa saja. Dalam perspektif academic misconduct dia tidak dapat disebut bersalah.

Nun di sisi yang lain, apakah ia kriminal atau hero karena merontokkan tembok akses jurnal ilmiah yang menjadi pundi bisnis pihak terbatas? Biarlah itu menjadi perdebatan di ruang diskursif para akademia.

Sekarang kita sampai pada pertanyaan krusialnya. Pada bagian mana para pelaku pencemaran dengan riset palsu itu menghadirkan keutamaan dalam dua sisi sudut pandang di atas?

Perbuatan mereka bahkan lebih tercela dibanding kasus Carl-Theodore zu Guttenberg di Jerman, Hendrik Schon di Bell Laboratories, Hwang Woo Suk di Korea, atau Vahesh Visvanathan dan Gerald Lushington di Amerika. Nama-nama terakhir itu tidak menipu demi kesenangan yang remeh, melancong.

Gelar akademik mereka dicabut bahkan ada yang harus menjalani hukuman penjara. Itu resiko yang setimpal. Intinya sederhana. Bahwa semesta kehidupan akademik sangat menjunjung tinggi kejujuran. Integritas adalah identitas, dan adab adalah ciri martabat.

Sembari menanti akan seberapa bernyali universitas terkait menerapkan resiko yang pantas, kita tahu bahwa negara tidak sedang diam. Mari selalu yakini bahwa terdapat jutaan anak bangsa yang masih lebih memilih berkhidmat dengan penuh integritas dan setia. Wallahualam.

Iwan Yahya. Dosen dan peneliti The Iwany Acoustics Research Lab (iARG) di Centre of Applied Physics for Wellness and Sustainable Living (CAPWell) Program Studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret.




(rdp/imk)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
ITB Somasi Prihantini, Alumni yang Diduga Memanipulasi Riset
• 4 jam lalukompas.id
thumb
Awal Juni, Harga TBS Sawit Sumut Tunjukkan Perbaikan Jadi Rp3.451,13 per Kg
• 13 jam lalubisnis.com
thumb
Kebut Perbaikan Jalan, Gubernur Jateng Instruksikan APBD Perubahan 2026
• 2 jam laludetik.com
thumb
Geger! Jose Mourinho Langsung Tendang 6 Bintang Ini dari Bernabeu, Dua Nama bikin Fans Syok Berat
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Erdogan Sebut Penutupan Selat Hormuz untuk Keamanan Energi
• 9 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.