LPS Dorong UMKM di Denpasar Naik Kelas

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, DENPASAR – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mendorong pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Denpasar naik kelas dengan mengakses pembiayaan ke lembaga keuangan resmi atau perbankan. 

Salah satu upaya LPS dengan berkolaborasi bersama Bank Indonesia, OJK, dan Pemkot Denpasar memberikan edukasi dan literasi keuangan kepada UMKM di Desa Dauh Puri Kaja, Kota Denpasar. 

Kepala Kantor Perwakilan LPS II Bambang S Hidayat menjelaskan keberadaan pelaku UMKM di Denpasar sangat penting menopang perekonomian Bali, karena jumlahnya yang banyak dan serapan tenaga kerja tinggi. Menurutnya UMKM merupakan soko guru perekonomian yang harus tetap didukung dengan akses pembiayaan yang legal dan kompetitif. 

"Dengan kolaborasi bersama BI, OJK kami mendorong UMKM naik kelas, karena UMKM ini merupakan soko guru perekonomian nasional," jelas Bambang, Kamis (4/6/2026). 

Bambang menjelaskan, UMKM harus didorong bisa mengakses pembiayaan resmi dari perbankan, menghindari pinjaman online yang tidak resmi dan rentenir yang banyak menjerat UMKM. 

Edukasi ini mengarahkan UMKM mengelola keuangan secara profesional, seperti memisahkan rekening uang pribadi dengan uang perusahaan. Sebagian UMKM masih menyatukan antara uang pribadi dengan hasil usaha, dampaknya uang hasil usaha terpakai untuk keperluan pribadi. 

Baca Juga

  • Kala Tekanan Daya Beli Bayangi Pembiayaan UMKM Oleh Multifinance
  • Menteri UMKM Bongkar Modus Pengusaha Pecah PT & CV Demi PPh Final 0,5%
  • Aturan Baru UMKM di Marketplace Rampung Harmonisasi, Kapan Terbit?

Selain itu, pemisahan rekening dan pencatatan keuangan yang bagus tersebut akan memudahkan UMKM mengakses peminjaman di Perbankan. LPS juga mendorong UMKM menabung di perbankan yang menjadi anggota LPS, agar lebih aman karena dijamin langsung oleh LPS. 

Sebagai informasi, Indeks Menabung Konsumen (IMK) pada April 2026 meningkat 0,2 poin ke level 79,7 dibandingkan bulan sebelumnya. Komponen Indeks Kemampuan Menabung (IKPM) naik 1,7 poin ke level 73,6, sementara Indeks Kemauan Menabung (IKMM) mencatat penurunan sebesar 1,3 poin ke level 85,8.

Bambang menyebut perkembangan tersebut mengindikasikan kemampuan menabung konsumen relatif membaik, meskipun kemauan untuk menabung masih tertahan seiring meningkatnya ekspektasi pengeluaran konsumsi rumah tangga, terutama akibat tekanan kenaikan harga.

Peningkatan IKPM didorong oleh penurunan porsi responden yang menyatakan tidak pernah menabung, dari 34,0% pada Maret 2026 menjadi 31,7% pada April 2026. Pada periode yang sama, porsi responden yang menilai bahwa jumlah yang ditabung lebih kecil dari yang direncanakan juga menurun, dari 40,7% menjadi 38,9%.

Di samping itu, komponen IKMM mengalami pelemahan seiring dengan penurunan persentase responden yang menilai bahwa saat ini merupakan waktu yang tepat untuk menabung, yaitu dari 24,4% pada Maret 2026 menjadi 23,5% pada April 2026. Selain itu, persentase responden yang menyatakan bahwa tiga bulan mendatang adalah waktu yang tepat untuk menabung juga mengalami penurunan, dari 37,4% pada Maret 2026 menjadi 33,7% pada April 2026.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Analis Bongkar 4 Penyebab IHSG Koreksi Tajam 33% Sejak Awal 2026
• 12 jam lalubisnis.com
thumb
Pengamat Sebut Kaltim dalam Ancaman Bedol Desa Tenaga Kerja
• 17 jam lalubisnis.com
thumb
Operasi Patuh Jaya 2026: Penindakan dengan ETLE atau Tilang Manual?
• 17 jam lalukompas.com
thumb
Perang AS dan Iran Bawa Untung Singapura, Modal Asing Mengalir Deras
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Pentagon Tertekan, Biaya Operasi Iran Bebani Anggaran AS
• 2 jam lalucelebesmedia.id
Berhasil disimpan.