Jakarta, VIVA – Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) RI, Prasetyo Hadi mengatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto akan melantik Nanik S Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pekan depan.
"Berkenaan dengan masalah pelantikan, kami agendakan di minggu depan," kata Prasetyo Hadi kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 4 Juni 2026.
Diketahui, Presiden Prabowo Subianto mencopot Dadan Hindayana sebagai kepala Badan Gizi Nasional terhitung sejak Selasa, 2 Juni 2026.
- Istimewa
Pencopotan tersebut diumumkan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, yang juga Juru Bicara Presiden RI, dalam jumpa pers di Kantor Presiden RI, Kompleks Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Selasa malam.
“Pada hari ini Selasa tanggal 2 Juni 2026, Bapak Presiden mengambil keputusan untuk melakukan pergantian pimpinan Badan Gizi Nasional,” kata Prasetyo.
Dadan digantikan oleh Nanik S. Deyang yang sebelumnya menjabat wakil kepala BGN.
Bersamaan dengan itu, Presiden juga mengangkat Agustina Arumsari sebagai wakil kepala BGN yang baru menggantikan Lodewijk Pusung serta Mayor Jenderal TNI Trenggono sebagai wakil kepala menggantikan Sony Sonjaya.
Alasan Prabowo Copot Dadan Cs
Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk menjaga integritas dan keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan memastikan tidak ada ruang bagi penyimpangan maupun penyalahgunaan kepercayaan dalam pelaksanaannya.
Ia pun mengungkapkan alasannya mencopot tiga eks pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) pada Selasa, 2 Juni 2026.
Ia mengungkapkan bahwa keputusan untuk mengganti sejumlah pihak yang sebelumnya diberi amanah dalam pelaksanaan program bukanlah keputusan yang mudah.
Prabowo menyebut bahwa ia teringat pesan almarhum ayahandanya, Prof. Sumitro Djojohadikusumo, yang selalu mengingatkannya untuk berpihak kepada rakyat ketika menghadapi keraguan dalam mengambil keputusan.
“Kalau suatu saat kau dalam keadaan bingung, atau keadaan ragu-ragu, ingat, berpihaklah selalu kepada rakyatmu,” ujar Prabowo.
- Kolase
Prabowo juga menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah dirinya menerima berbagai laporan mengenai adanya kekurangan, kejanggalan, hingga indikasi penyelewengan dalam pelaksanaan program. Menurutnya, kualitas kepemimpinan menjadi faktor penentu keberhasilan sebuah organisasi.
“Pemimpin baik, organisasi baik. Pemimpin tidak baik, organisasi tidak baik. Apalagi pemimpin tidak benar, tidak kompetensi, atau tidak jujur,” tegasnya.





