Kasus dugaan keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi. Ironisnya, insiden ini muncul hanya sehari setelah Presiden Prabowo Subianto mengingatkan seluruh mitra pelaksana program agar menjalankan MBG dengan baik dan tidak menjadikannya sebagai sarana mencari keuntungan.
Dalam Konsolidasi Nasional Program MBG yang digelar oleh Badan Gizi Nasional di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Rabu (3/6), Prabowo menegaskan bahwa program penyediaan makanan bagi masyarakat harus dijalankan secara bertanggung jawab.
"Masalah makan ini masalah sakral. Makan bagi orang susah, tidak boleh jadi sarana memperkaya oknum-oknum. Makan paling gampang dikorupsi," kata Prabowo.
Namun sehari berselang, dugaan keracunan massal terjadi di Kecamatan Kokop, Kabupaten Bangkalan. Hingga Kamis (4/6/2026), sedikitnya 52 siswa dari berbagai jenjang pendidikan dilaporkan mengalami gejala keracunan dan harus menjalani perawatan di Puskesmas Kokop.
Para siswa yang terdampak berasal dari sejumlah sekolah tingkat SD, SMP, MTs hingga SMA. Mereka mengeluhkan gejala yang hampir seragam, seperti mual, muntah, sakit perut, dan diare setelah menyantap makanan yang dibagikan melalui program MBG.
Meningkatnya jumlah korban membuat ruang perawatan di Puskesmas Kokop penuh. Sejumlah siswa harus mengantre untuk mendapatkan penanganan medis, sementara petugas kesehatan bekerja ekstra melayani pasien yang terus berdatangan.
Berdasarkan data sementara, kasus ini pertama kali terdeteksi saat 21 siswa SMAN 1 Kokop dilarikan ke puskesmas karena mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG. Setelah mendapatkan perawatan, sebagian besar siswa diperbolehkan pulang, sementara satu siswa masih menjalani rawat inap.
Beberapa jam kemudian, jumlah korban terus bertambah. Puluhan siswa dari sekolah lain, termasuk SDN Bandasoleh 1 dan sejumlah sekolah swasta di Kecamatan Kokop, mengalami gejala serupa dan mendatangi fasilitas kesehatan untuk memperoleh penanganan.
Hingga sore hari, jumlah korban tercatat mencapai 52 siswa. Angka tersebut masih berpotensi bertambah karena proses pendataan dan pemantauan masih terus dilakukan.
Satgas MBG Pemerintah Kabupaten Bangkalan membenarkan adanya insiden tersebut. Namun hingga kini belum ada keterangan resmi mengenai penyebab pasti kejadian karena proses monitoring dan investigasi masih berlangsung.
Menurut sejumlah wali murid, keluhan kesehatan mulai dirasakan anak-anak mereka tidak lama setelah mengonsumsi makanan yang dibagikan di sekolah.
"Anak saya mengeluh mual, kemudian muntah-muntah. Beberapa temannya juga mengalami hal yang sama," ujar salah seorang wali murid.
Dari hasil penelusuran sementara, menu MBG yang dikonsumsi para siswa pada hari itu terdiri atas nasi, sate ayam, tempe goreng, acar, dan semangka. Paket makanan tersebut didistribusikan oleh sebuah yayasan yang berlokasi di Desa Dupok, Kecamatan Kokop.
Yayasan tersebut diketahui melayani sekitar 40 sekolah dan 10 posyandu dengan total penerima manfaat mencapai 3.700 orang.
Komunitas Jaringan Kawal MBG menduga terdapat salah satu menu makanan yang tidak layak konsumsi atau telah basi. Dugaan sementara mengarah pada menu acar maupun sate ayam yang disajikan kepada para siswa.
"Diduga ada salah satu menu yang tidak layak konsumsi. Namun untuk memastikan sumber masalahnya harus menunggu hasil pemeriksaan laboratorium," kata Mathur Khusairi dari Jaringan Kawal MBG.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Bangkalan, dr. Wiwid Mayasari, mengatakan pihaknya telah menerjunkan tim ke lokasi untuk melakukan investigasi epidemiologi sekaligus mengambil sampel makanan.
Baca Juga: 'Purbaya Bakal Dicopot dan Pindah Urusi Bank Indonesia', Rupiah Melemah dan Isu Makin Liar
Sampel tersebut akan dikirim ke laboratorium di Surabaya untuk diperiksa lebih lanjut. Hasil uji laboratorium nantinya akan menjadi dasar untuk mengetahui penyebab pasti insiden yang menyebabkan puluhan siswa mengalami dugaan keracunan.
"Kami sudah melakukan pengambilan sampel makanan untuk diuji di laboratorium. Hasilnya akan digunakan untuk mengetahui penyebab pasti kejadian ini," ujar dr. Wiwid.
Hingga kini, petugas kesehatan masih melakukan pemantauan terhadap kondisi para siswa. Sementara itu, pemerintah daerah menunggu hasil pemeriksaan laboratorium guna memastikan sumber keracunan serta mencegah kejadian serupa kembali terulang dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis.





