Editorial MI: Bersihkan Birokrasi dari Korupsi

metrotvnews.com
10 jam lalu
Cover Berita

WAJAR jika Presiden Prabowo Subianto dalam dua hari terakhir ini merasa sedih dan kecewa. Orang-orang kepercayaannya baru saja ditangkap Kejaksaan Agung dan KPK karena diduga berada di pusaran korupsi. Tentunya bukan Presiden saja yang merasa kecewa. Rakyat satu negeri ini pun niscaya merasakan hal yang sama.

Para pejabat ring satu Presiden itu bahkan ditetapkan sebagai tersangka korupsi dalam waktu yang sangat berdekatan. Dimulai dari Badan Gizi Nasional (BGN), mantan Kepala BGN Dadan Hindayana bersama dua wakilnya, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung, diperiksa dan ditahan Kejagung. Berikutnya Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Silmy Karim juga dibekuk penegak hukum atas dugaan kasus korupsi.

Di BGN, korupsi diduga dilakukan tiga pejabat tersebut dalam pengadaan mitra dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Mereka juga diduga mengintervensi proses pengadaan barang dan jasa hingga mark-up harga dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Adapun Silmy Karim, bersama tujuh pejabat di Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, ditangkap atas tuduhan pemerasan dalam pengurusan dokumen keimigrasian.

Baca Juga :

Pesan Sony Sonjaya untuk Kepala BGN Baru: Terima Kasih Hadiah Indahnya
Jika ditilik lebih dalam, sesungguhnya teramat ironis dugaan perbuatan para pejabat negara tersebut. Mereka 'bermain' di layanan publik yang menyangkut kepentingan jutaan warga, bahkan anak sekolah. Khusus untuk dugaan korupsi di BGN, kasus itu jelas menjadi tamparan keras bagi Presiden. Dugaan korupsi terjadi di program MBG yang menjadi prioritas sekaligus unggulan pemerintahannya.

Bukan hanya untuk meningkatkan gizi anak demi pembentukan kualitas manusia Indonesia ke depan, program MBG juga menjadi andalan pemerintah untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi dari akar rumput. Tak terhitung berapa jumlah pelaku ekonomi terlibat di sana dan berapa juta anak Indonesia yang akan menjadi generasi unggul di masa depan.

Sayangnya, operasional program mulia itu dipimpin oleh orang-orang yang berorientasi pada keuntungan pribadi. Rakyat negeri ini jelas berhak marah kepada mereka. Di tengah sistem MBG yang terus diperbaiki segala kekurangannya, ternyata masih ada benalu di tubuh BGN. Parahnya lagi, benalu itu ada di pucuk organisasi. Wajar saja jika publik kemudian bertanya-tanya, jika kepalanya saja korupsi, bagaimana dengan yang di bawahnya?

Eks Wamen Imipas, Silmy Karim. Foto: Antara.

Berbarengan dengan itu, dugaan korupsi di tubuh Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan yang tengah disidik KPK juga membuat masyarakat kembali mempertanyakan keampuhan sistem pemberantasan korupsi di Republik ini. Kedua kasus tersebut jelas memberi benang merah masih lemahnya sistem pengawasan dan pencegahan korupsi.

Secara terang benderang publik dapat melihat korupsi bisa terjadi dengan mudahnya. Alih-alih mati, korupsi malah tumbuh kian subur akibat sistem pencegahan yang masih longgar hingga lembaga yang diisi orang-orang bermental lancung. Semuanya saling melengkapi.

Karena itu, penangkapan yang langsung diikuti penahanan oleh Kejagung dan KPK harus menjadi momentum penguatan kembali sistem pengawasan dan pencegahan terhadap tindak pidana korupsi.

Baca Juga :

KPK Sita Aset Rp17,5 Miliar dari Kasus Suap Izin Tinggal WNA Ditjen Imigrasi
Penangkapan tersebut juga mesti dilanjutkan dengan penegakan hukum yang tegas dan keras sehingga bisa menjadi shock therapy bagi pejabat negara lainnya agar tak main-main dengan uang rakyat.

Penersangkaan satu wakil menteri, satu kepala badan, dan dua wakil kepala badan di saat yang hampir bersamaan kiranya sudah cukup sebagai tamparan bahwa pemerintahan ini menginginkan birokrasi bersih tidak berhenti sebatas ilusi. Presiden harus mereformasi secara sistemis tata kelola birokrasi agar tak ada lagi celah korupsi di dalam sistem pemerintahan.

Jangan biarkan kepercayaan rakyat yang cukup tinggi kepada Presiden Prabowo saat ini tergerus lantaran perilaku korup para pejabat negara. Jangan biarkan tujuan besar dari program-program unggulan Presiden terganjal gara-gara gerogotan keserakahan yang terus menciptakan siklus korupsi di birokrasi yang tak berkesudahan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Visitasi Rektorat UIN Jakarta Terkait Integrasi Pendidikan Berjalan Lancar
• 8 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kim Jong-Un Sebut Kapasitas Produksi Material Nuklir Korut Naik Dua Kali Lipat
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kebakaran Minimarket di Tangerang Bikin Panik, Karyawan Siram Api Pakai Air Galon Dagangan
• 18 jam lalukompas.com
thumb
Buatkan Bantalan Ekonomi untuk Warga Jakarta, Pemprov DKI Buka 2.843 Lowongan Padat Karya
• 1 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kejagung Sebut Sudah Pelajari Kasus Korupsi MBG Sejak Lama
• 19 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.