Menaklukan gunungan sampah dengan ekonomi sirkular

antaranews.com
1 jam lalu
Cover Berita
Dompu (ANTARA) - Aktivitas truk-truk pengangkut sampah yang membawa muatan aneka benda tidak terpakai dari berbagai sudut kota terus saja memasuki tempat pemrosesan akhir di Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Sebanyak 110 ton sampah muncul setiap hari. Angka itu terbilang cukup untuk membentuk gunungan sampah baru, hanya dalam hitungan pekan.

Konsep ekonomi sirkular mulai dipandang sebagai jalan—di tengah keterbatasan kapasitas pengelolaan sampah—untuk mengubah persoalan lingkungan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi, sekaligus membuka lapangan kerja bagi penduduk lokal.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Dompu Muhammad Syaukani mengatakan pengelolaan sampah tidak lagi bisa bertumpu pada pola lama yang identik dengan kegiatan mengumpulkan, mengangkut, dan membuang sampah ke tempat pemrosesan akhir.

Paradigma usang tersebut harus bergeser menuju pemanfaatan kembali sampah sebagai sumber daya yang bernilai secara ekonomi.

"Perbankan bisa mengambil peran strategis melalui penyediaan program pembiayaan khusus bagi pelaku usaha ekonomi sirkular dan daur ulang, misalnya kredit berbunga rendah atau skema pembiayaan lunak yang lebih mudah diakses," kata Syaukani.

Dukungan pembiayaan dapat dilakukan melalui kredit usaha rakyat, pembiayaan usaha ramah lingkungan, dan program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR yang menyasar komunitas pengelola sampah.

Konsep pembiayaan hijau sebenarnya telah berkembang di tingkat nasional. Namun, implementasi di daerah, termasuk di Kabupaten Dompu, masih memerlukan penguatan ekosistem usaha dan kelembagaan pengelolaan sampah.


Potensi besar

Kabupaten Dompu, saat ini hanya memiliki satu tempat pemrosesan akhir atau TPA yang berada di Desa Lune, Kecamatan Pajo. TPA seluas lima hektare itu menjadi lokasi penampungan utama sampah dari wilayah perkotaan dan sekitarnya.

Dengan timbunan sampah yang mencapai 110 ton per hari, kapasitas pengurangan sampah dari sumber menjadi kebutuhan mendesak agar umur layanan tempat pemrosesan akhir dapat lebih panjang.

Di sinilah ekonomi sirkular menjadi relevan. Berbeda dengan sistem ekonomi linear yang menerapkan pola "ambil-pakai-buang", ekonomi sirkular menempatkan sampah sebagai bahan baku yang bisa digunakan kembali melalui proses pemilahan, pengolahan, dan daur ulang.

Direktur Bank Sampah Induk (BSI) Dompu Green Asri Rony Haryato menilai potensi ekonomi dari sektor persampahan di Kabupaten Dompu masih sangat terbuka lebar karena sebagian besar sampah masyarakat belum dipilah sejak dari sumber.

Sesuai data, sekitar 70 persen komposisi sampah Kabupaten Dompu merupakan sampah organik, sedangkan sisanya merupakan sampah anorganik yang dapat didaur ulang dan residu.

Bank sampah di Dompu, saat ini menerima rata-rata enam ton sampah plastik dan sekitar enam ton kertas maupun kardus setiap pekan. Material tersebut berasal dari jaringan bank sampah, sekolah, pengepul, serta hasil pemilahan di level tempat pemrosesan akhir.

Secara keseluruhan, volume material daur ulang yang berhasil dikumpulkan mencapai sekitar 33 ton dan masih memiliki peluang besar untuk terus ditingkatkan.

Bank sampah itu didukung empat pengepul mitra kolektor sampah plastik, empat bank sampah unit desa, dan 46 bank sampah unit sekolah yang tersebar di berbagai wilayah.

Perjalanan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kabupaten Dompu bukanlah proses yang instan. Para penggerak memulai aktivitas pengelolaan sampah sejak 2012 melalui pendekatan sosial kepada masyarakat.

Konsep bank sampah berkembang lebih terstruktur pada 2018 dan memperoleh legalitas pada 2021 dengan dukungan berbagai pihak, termasuk startup teknologi pengelolaan sampah berbasis aplikasi Mountrash.

Bank sampah itu juga menjadi mitra Plastic Bank Indonesia dalam program pengumpulan sampah plastik berbasis teknologi finansial. Melalui program tersebut, masyarakat memperoleh insentif tambahan sebesar Rp1.000 per kilogram sampah plastik yang disetorkan, di luar harga jual sampah yang diterima.

Insentif dibayarkan setiap bulan melalui aplikasi digital, sehingga mendorong masyarakat untuk lebih aktif memilah dan mengumpulkan sampah dari rumah tangga.

Program itu tidak hanya menyasar masyarakat umum, tetapi juga sekolah turut menjadi bagian penting dalam membangun budaya pengelolaan sampah sejak dini.

Sebanyak 46 sekolah telah menjadi mitra program pengelolaan bank sampah induk di Kabupaten Dompu. Para siswa diajarkan memilah sampah dari sumber, sekaligus menabung sampah yang memiliki nilai ekonomi.

Sebagai bentuk apresiasi, lima sekolah mitra tercepat yang mampu mengumpulkan 750 kilogram sampah plastik sepanjang tahun 2024 mendapatkan hadiah laptop. Pada tahun 2025, penghargaan serupa diberikan dalam bentuk proyektor untuk mendukung kegiatan belajar mengajar.

Pada 2026, jaringan sekolah mitra ditargetkan meningkat menjadi 200 sekolah, dengan dukungan Plastic Bank Indonesia. Jika target tersebut tercapai, Kabupaten Dompu berpotensi memiliki jaringan sekolah pengelola sampah terbesar di Indonesia.

Sebetulnya, potensi ekonomi terbesar berada pada sampah organik yang mendominasi timbulan sampah daerah.

Data di Bank sampah di Dompu menyebutkan sedikitnya 27,1 ton sampah organik per hari dapat masuk ke proses pengolahan jika sekitar 40 persen dari sampah organik yang dihasilkan setiap hari dapat diolah menjadi kompos, pakan ternak dan budi daya maggot.

Dengan tingkat konversi sekitar 40 persen menjadi kompos, Kabupaten Dompu berpotensi menghasilkan sekitar 10,84 ton kompos setiap hari.

Apabila harga jual kompos rata-rata mencapai Rp700 per kilogram, maka potensi pendapatan yang dihasilkan dapat mencapai sekitar Rp7,58 juta per hari atau lebih dari Rp227 juta per bulan.

Nilai ekonomi yang tercipta dari komoditas kompos diperkirakan bisa mencapai Rp2,7 miliar dalam setahun. Sementara itu, sampah anorganik berupa plastik, kardus, logam, botol, dan minyak jelantah juga memiliki nilai ekonomi karena menjadi bahan baku industri daur ulang.

Aktivitas ekonomi yang tercipta tidak hanya pada tahap pengumpulan sampah, tetapi juga melibatkan proses pemilahan, pencacahan, pengolahan, pengemasan hingga distribusi ke industri pengolahan.


Harapan baru

Sebanyak 10 truk pengangkut sampah milik Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Dompu yang masing-masing diawaki empat petugas memperoleh tambahan pendapatan dari hasil pemilahan sampah plastik yang dikumpulkan setiap hari.

Rata-rata tambahan penghasilan yang diperoleh mencapai sekitar Rp120 ribu per hari per tim atau berkisar Rp800 ribu hingga Rp900 ribu per pekan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sampah yang sebelumnya hanya dianggap limbah, ternyata dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat.

Dalam konteks yang lebih luas, ekonomi sirkular merupakan bagian dari konsep ekonomi hijau yang menekankan efisiensi penggunaan sumber daya, pengurangan emisi dan keberlanjutan lingkungan.

Pendekatan itu menempatkan pengelolaan sampah bukan semata sebagai upaya mengurangi pencemaran, melainkan sebagai instrumen pembangunan ekonomi yang mampu menciptakan usaha baru, memperkuat UMKM berbasis limbah serta membuka lapangan kerja hijau.

Bagi Kabupaten Dompu, ekonomi sirkular menawarkan harapan baru di tengah peningkatan tantangan pengelolaan sampah. Dukungan pemerintah daerah, sektor perbankan, dunia pendidikan, komunitas lingkungan, dan masyarakat menjadikan sampah, kini bisa diubah dari persoalan lingkungan menjadi sumber kesejahteraan.

Ketika pemilahan sampah dilakukan sejak dari rumah dan sekolah, ketika sampah organik diolah menjadi kompos, dan ketika sampah plastik kembali menjadi bahan baku industri, maka yang tercipta bukan sekadar lingkungan yang lebih bersih.

Lebih dari itu, lahir sebuah ekosistem ekonomi baru yang menjadikan sampah sebagai sumber daya, bukan lagi beban pembangunan.




Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Argentina Memburu Akhir Sempurna Era Messi di Piala Dunia 2026, Cedera Jadi Tantangan Besar
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Istana Jelaskan Alasan Prabowo Tiba-Tiba Datangi Wisma Danantara
• 5 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Viral Unggahan Soal Prostitusi di Gang Royal Jakut, Polisi: Lokasinya Tak ditemukan
• 12 jam lalukompas.com
thumb
Kebiasaan yang Bikin Celana Jeans Cepat Melar
• 16 jam lalubeautynesia.id
thumb
Pabrik Tekstil Setengah Menganggur, Tertekan Pelemahan Rupiah dan Impor Cina
• 13 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.