Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) kepergok berciuman dengan seorang pria di selasar perpustakaan kampus, Selasa (2/6). Kasus hubungan sesama jenis itu kemudian viral di media sosial, serta memicu berbagai tanggapan.
Terlepas dari kasus tersebut, Kemenkes memiliki publikasi berjudul Survei Terpadu Biologis dan Perilaku Populasi Kunci 2023. Publikasi ini merupakan publikasi terbaru yang dirilis Kemenkes pada 2024 untuk menggambarkan situasi kelompok masyarakat yang rentan terkena penularan HIV. Salah satunya adalah kelompok Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL).
Dalam konteks medis dan kesehatan masyarakat di Indonesia, istilah 'gay' tidak selalu mencerminkan populasi LSL secara keseluruhan. Hal ini karena kategori LSL memiliki cakupan yang lebih luas dan tidak hanya terdiri dari kelompok yang mengidentifikasi diri sebagai gay. Biseksual, misalnya, juga merupakan bagian dari LSL tersebut.
Terkait populasi ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan survei terhadap 4.959 laki-laki yang berhubungan seks dengan sesama laki-laki di 30 kota, termasuk Depok, Surakarta, Manado, Purbolinggo, hingga Mimika.
Pengumpulan data populasi LSL dilakukan Kemenkes menggunakan metode Respondent-Driven Sampling (RDS) untuk menjangkau kelompok yang tersembunyi. Para responden yang diwawancarai awal (seeds) kemudian menyebarkan tiga kupon kepada rekan di jaringannya. Survei dilakukan di 30 kabupaten/kota. Periode survei dilakukan Maret hingga September 2023.
Lalu, bagaimana kondisi LSL di Indonesia?
Demografi LSLBerdasarkan status pernikahan, mayoritas responden LSL berstatus belum menikah, yaitu mencapai 81 persen. Sementara itu, sebagian kecil lainnya atau sekitar 6,5% menyandang status menikah.
Menurut data Kemenkes, secara nasional 96 persen LSL di Indonesia memiliki tempat tinggal permanen. Sementara itu 22 persen di antaranya melaporkan tinggal bersama pasangan seksual mereka. Fenomena tinggal bersama pasangan seksual paling banyak terjadi di Depok. Angkanya di atas 50 persen.
"Di Kota Depok, 53 persen responden melaporkan tinggal bersama pasangan seksual mereka," tulis laporan tersebut dikutip Jumat (5/6).
Laporan itu juga turut membeberkan lokasi LSL bersosialisasi. Tempat paling umum dikunjungi adalah bar, kafe, dan bioskop. Selain itu, rumah kos/rumah atau apartemen juga sering digunakan sebagai tempat berkumpul yang lebih privat.
Namun, ada variasi yang signifikan antarkota. Misalnya, sebagian besar LSL di Aceh Timur bertemu dengan teman sebaya mereka di tempat pijat. Berbeda lagi jika di Pamekasan, sekitar tiga perempat LSL menyebut alun-alun. Serta ada lebih dari sepertiga LSL di Mimika bertemu teman sebaya mereka di hotel.
Dari sisi pendidikan, 15,1 persen responen LSL memiliki tingkat pendidikan SMP. Kemudian 66,1 persen lulusa SMA/sederajat, serta 18,8 persen merupakan lulusan universitas/akademi.
Aktivitas SeksualSurvei Kemenkes menunjukkan bahwa rata-rata nasional usia pertama kali LSL berhubungan seks adalah 19,5 tahun, dengan rentang antara 19,3 hingga 19,7 tahun. Kabupaten Simeulue menjadi daerah dengan LSL termuda yang melakukan seks pertama dengan rata-rata usia 14 tahun. Sedangkan di Tangerang Selatan, LSL pertama kali berhubungan seks pada usia rata-rata 21,2 tahun.
Dalam sebulan terakhir, mayoritas responden LSL dilaporkan memiliki pasangan seks lebih dari satu orang, dengan rata-rata nasional sebanyak tiga orang.
Secara wilayah, LSL di Kota Tegal, Mimika, Kota Manado, Kota Tangerang Selatan, dan Tangerang melaporkan jumlah yang lebih tinggi, yaitu memiliki empat pasangan seks atau lebih dalam sebulan terakhir. Sebaliknya, angka terendah ditemukan di Kabupaten Simeulue, di mana responden LSL rata-rata hanya memiliki satu pasangan seks.
Pasangan seks pertama di kalangan LSL di Indonesia bervariasi dengan luas, mulai dari istri, pacar, kerabat, teman, hingga guru.
"Distribusi pasangan seksual pertama ini relatif merata di berbagai wilayah, terutama untuk pacar laki-laki, teman, dan orang asing," tulis laporan tersebut.
Pacar menjadi sosok yang paling mendominasi sebagai pasangan seks pertama bagi LSL di Indonesia, dengan angka mencapai 44 persen. Di posisi kedua dan ketiga, responden mengaku melakukan hubungan seks pertama kali dengan teman (33%) serta orang yang tidak dikenal (16,2%).
Di luar kelompok tersebut, ada pula sebagian kecil responden yang menyebutkan istri (3%), kerabat (2%), pelanggan (0,7%), hingga guru (0,6%) sebagai pasangan seks pertama mereka.
Survei menunjukkan bahwa dalam setahun terakhir, sekitar 47 persen LSL memiliki pasangan seks tetap sesama pria. Dari jumlah tersebut, sebanyak 68 persen di antaranya mengaku masih aktif berhubungan seks dalam satu bulan terakhir.
Menariknya, dalam hal hubungan seksual yang aman dengan pasangan tetap ini, tingkat konsistensi penggunaan kondom baru mencapai 40 persen, sedangkan penggunaan pelumas justru jauh lebih tinggi, yaitu sebesar 75,6 persen.
Risiko HIVPrevelansi HIV LSL menjadi yang paling tinggi ketimbang penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) lainya. Bahkan ada peningkatan angka pengidap HIV di kalangan LSL saat membandingkan data di 2018.
"Data menunjukkan bahwa estimasi prevalensi HIV di kalangan LSL meningkat menjadi 24,4 persen pada tahun 2023, dengan prevalensi tanpa bobot naik menjadi 23,5% dari 17,8% pada tahun 2018, yang menunjukkan peningkatan sekitar 6% berdasarkan proporsi sampel," tulis laporan tersebut.
Kota Bogor dan Tangerang menunjukkan angka prevalensi HIV tertinggi, yaitu masing-masing 41 persen dan 42 persen. Sebaliknya, tidak ada kasus positif di Simeulue dan Aceh Timur.
Meskipun angka pervelansi HIV LSL meningkat, pengetahuan mereka mengenai penularan dan pencegahan HIV cukup tinggi. Sebanyak 86 persen responden memahami bahwa penggunaan kondom saat berhubungan seks bisa menurunkan risiko tersebut.





