”Istitaah” Diperketat, Angka Jemaah Indonesia yang Wafat-Sakit Menurun

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

MEKKAH, KOMPAS – Jumlah jemaah haji Indonesia yang wafat dan sakit pasca-Armuzna, rangkaian ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, menurun jika dibandingkan pada periode yang sama musim haji tahun lalu. Hal ini tak lepas dari kebijakan pengetatan istitaah sebagai syarat keberangkatan naik haji.

Data pada Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Mekkah per Kamis (4/6/2026) memperlihatkan penurunan jumlah jemaah wafat dan sakit tersebut. Plt Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Haji dan Umrah, dr Dani Pramudya, mengungkapkan, hingga Kamis atau 5 hari pasca-Armuzna, jemaah haji Indonesia yang wafat sebanyak 210 orang. Tahun lalu, pada periode yang sama, jemaah yang wafat mencapai 260 orang.

Penurunan juga terjadi pada jemaah yang dirawat pasca-Armuzna. Dani menyebutkan, jemaah yang dirawat pasca-Armuzna saat ini 210 orang. Tahun lalu, pada periode yang sama jumlahnya 300 orang.

Menurut Dani, penurunan angka jemaah wafat dan sakit itu tak lepas dari buah pengetatan istitaah, yakni yang kuat menjalani ibadah haji. ”Pengetatan istitaah ini membuat angka kesakitan berkurang,” katanya.

Istitaah dalam kesehatan, yang dibuktikan dengan hasil pemeriksaan kesehatan oleh dokter, merupakan syarat utama bagi jemaah. ”Istitaah itulah, yang benar-benar berdampak. Apalagi, saat di embarkasi (kami) sudah memotong (jumlah) jemaah-jemaah yang tidak layak untuk haji,” ujar Dani.

Baca JugaAtasi Haji Ilegal, Pemerintah Lakukan Penindakan dan Perkuat Upaya Preventif

Pada acara Konsolidasi Akbar Pra-Armuzna di Mekkah pada 24 Mei 2026 lalu, Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf mengatakan, sebanyak 345 jemaah diputuskan tidak bisa diberangkatkan setelah masuk embarkasi. Para jemaah tersebut dinilai tidak memenuhi syarat istitaah pada menit-menit akhir sebelum keberangkatan.

Irfan menyebut hal itu bagian dari pengetatan syarat istitaah, terutama dari segi kesehatan.

Berdasarkan data Kemenhaj, angka jemaah wafat sejak hari pertama hingga pelaksanaan haji berakhir pada musim haji tahun 2022 (di saat ini hanya separoh kuota dan tanpa ada jemaah lansia), ada 89 jemaah wafat. Kemudian, pada tahun 2023 ada 775 jemaah yang wahat, tahun 2024 (461 jemaah), dan tahun 2025 (447 jemaah).

Penyakit tekanan darah tinggi dan kencing manis, beberapa komorbid jadi pemicu jemaah sakit.

Terkait jemaah sakit pasca-Armuzna, Dani mengatakan, faktor pertama penyebabnya adalah kelelahan. Setelah itu, faktor penyakit komorbid pemicu berikutnya. Ia menyebut penyakit tekanan darah tinggi dan kencing manis, beberapa komorbid jadi pemicu jemaah sakit.

Menurut Dani, faktor kelelahan pasca-Armuzna itu terutama dialami oleh jemaah yang datang dalam gelombang kloter-kloter terakhir. ”Mereka baru datang, perjalanan lama, kemudian langsung persiapan Armuzna, sebelumnya juga ada umrah wajib. (Mereka) itu sebenarnya agak lama recovery-nya,” ujarnya.

Baca JugaHaji 2026, Babak Baru Manajemen dan Ujian Abadi Suhu

Jalan kaki 30 km

Kelelahan dialami jemaah haji saat Armuzna karena dalam waktu yang sangat ketat—empat atau lima hari—mereka diharuskan beraktivitas fisik, terutama berjalan kaki, dan waktu istirahat yang kurang. Lukminto Wibowo, jemaah Kloter 5 Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS 5), menuturkan pada 11 Zulhijah atau 28 Mei lalu, dirinya melakukan jalan kaki hingga lebih dari 30 kilometer dalam durasi hampir 12 jam.

Ia bercerita, saat itu seusai melempar jamrah kedua pada 11 Zulhijah, ia menemani pembimbing haji dan 19 perempuan jemaah yang memajukan jadwal tawaf ifadah di Masjidil Haram karena siklus menstruasi. Mereka berjalan kaki dari tenda di Mina menuju Jamarat, lalu berjalan kaki menuju terminal bus di sebelah Jamarat untuk naik bus ke Masjidil Haram.

Setelah tawaf ifadah dan sai, mereka kembali naik bus ke Jamarat. ”Di tengah jalan (kena) macet sehingga harus turun jalan kaki ke Jamarat sejauh 5 kilometer. Lalu dari Jamarat jalan kaki lagi ke Mina dalam sengatan cuaca berkisar 43-45 derajat Celsius,” tuturnya.

”Dari pagi, saya belum makan, hanya makan pisang. Total perjalanan 41 kilometer (dikurangi naik bus 10 kilometer) dalam waktu tempuh 11,33 jam,” ujar Lukminto.

”Saya sempat tumbang karena dehidrasi akut, dengan tensi 150/110. Telapak kaki pada melepuh,” lanjutnya.

Seusai Armuzna, dokter meminta Lukminto istirahat total untuk memulihkan kondisinya.

Baca JugaJemaah Haji Asal Pasuruan Wafat di Tanah Suci

Untuk melayani jemaah haji Indonesia, Kemenhaj mendirikan Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) di Mekkah dan Madinah. KKHI di Mekkah berlokasi di kawasan Al Aziziyah, dekat kompleks Tower Al Hidaya yang dihuni lebih dari 20.000 jemaah Indonesia.

KKHI Mekkah beroperasi 24 jam. Dani menyebut, KKHI Mekkah dilengkapi dengan ruang observasi yang menampung 12 orang—masing-masing enam untuk laki-laki dan enam untuk perempuan secara terpisah—dan laboratorium. Fasilitas ini didukung 200 tenaga kesehatan, yakni dokter dan perawat. Jemaah hanya bisa dirawat maksimal 4 jam. Jika belum membaik, jemaah yang sakit itu dirujuk ke rumah sakit Arab Saudi.

Jemaah yang sembuh dari sakit dan perawatan akan didahulukan pemulangannya ke Tanah Air bersama kloter satu daerah.

Dani menambahkan, jemaah yang sembuh dari sakit dan perawatan akan didahulukan pemulangannya ke Tanah Air bersama kloter satu daerah. Hal ini juga berlaku bagi jemaah gelombang kedua yang masih akan berkunjung ke Madinah.

”Walaupun dia belum sampai ke Madinah, kami usahakan dia cepat dipulangkan untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan,” kata Dani.

Ia mengakui, sejumlah jemaah bisa dirawat lebih lama di rumah sakit-rumah sakit di Arab Saudi. Sebagian jemaah itu dalam kondisi koma, dengan bantuan pernafasan ventilator.

Baca Juga”Haji Bonek” ala Orang Madura

”(Mereka) itu yang kami pantau, mungkin bisa lama perawatannya. Mungkin nanti kami pikirkan lagi, apakah akan lama di sini, atau bagaimana? Jadi, kami tetap evaluasi. Kami berharap, ke depannya jangan gawat-gawat lagi. Semoga jemaah sehat-sehat semua sampai pulang,” kata Dani.

Peningkatan ”istitaah”

Pentingnya istitaah kesehatan dibahas dalam pertemuan Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak dengan Wakil Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi Abdulfattah bin Sulaiman Mashat saat berkunjung ke Kantor Urusan Haji Indonesia di Mekkah, Kamis (4/6/2026).

Seusai pertemuan, Dahnil mengatakan, isu kesehatan menjadi salah satu pembahasan utama terkait tekad untuk mengurangi angka kematian jemaah haji. ”PR kita tentu akan terus menekan jumlah kematian atau mortality rate tahun depan,” ujarnya.

”Kami pastikan istitaah tahun depan akan lebih ketat terhadap jemaah, mulai dari dalam negeri. Supaya kemudian kasus dimensia, misalnya, kasus penyakit-penyakit yang komorbid, yang bisa meningkatkan kematian itu, akan kami kurangi,” kata Dahnil.

Ia mengakui ada permintaan dari Pemerintah Arab Saudi untuk lebih mengetatkan lagi syarat istitaah bagi jemaah haji Indonesia pada tahun 2027.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mengapa Tanggal Kedaluwarsa Diperlukan Meskipun Makanan Terlihat Baik?
• 50 menit lalukumparan.com
thumb
Di Balik Sister City Jember-Jinhua, Akademisi Unibraw: Kepemimpinan Gus Fawait Jadi Kunci Kerja Sama Global
• 6 jam laluliputan6.com
thumb
Indonesia Tertekan Kenaikan Harga Pangan Dunia dan Depresiasi Rupiah
• 5 jam lalukompas.id
thumb
Kebakaran di Gambir Tewaskan Lansia, Perjalanan KRL Tanah Abang-Duri Sempat Terganggu
• 15 jam lalukompas.id
thumb
OJK Catat IHSG Turun 11,92 Persen Sepanjang Mei 2026, Asing Net Sell Rp4,1 Triliun
• 6 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.