REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Bidang UMKM, Anwar Abbas, menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang telah menembus level Rp 18.000 per dolar menjadi peringatan serius bagi perekonomian nasional. Menurutnya, kondisi tersebut sekaligus menjadi ujian nyata bagi nasionalisme dan patriotisme para konglomerat Indonesia.
Anwar menjelaskan, melemahnya rupiah tidak terlepas dari meningkatnya permintaan terhadap dolar AS di tengah berkurangnya pasokan mata uang tersebut di pasar. Salah satu pemicunya adalah keluarnya dana investor asing dari Indonesia yang kemudian ditukar ke dalam bentuk dolar.
Baca Juga
Mulai Besok, Tiket Kereta Ekonomi Komersial Diskon 30 Persen dari KAI
Pesawat Haji Garuda Delay Berjam-jam, Dahnil Minta Ada Kompensasi untuk Jamaah
Terungkap, Kapal Induk USS Gerald R Ford Rusak Parah Akibat Terbakar Usai Perang dengan Iran
"Ini jelas akibat meningkatnya permintaan terhadap dolar karena berbagai alasan, di antaranya banyak investor asing menarik dananya keluar," ujar Anwar saat dihubungi Republika.co.id, Jumat (5/6/2026).
Ia menuturkan, aksi penarikan dana oleh investor besar telah memicu efek berantai. Investor lain ikut menjual aset dan rupiah yang mereka miliki untuk memperoleh dolar AS. Akibatnya, tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin besar hingga kurs dolar menembus angka lebih dari Rp 18.000.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Menurut Anwar, pemerintah tidak boleh membiarkan kondisi tersebut berlangsung terlalu lama karena berpotensi memberikan dampak serius terhadap sektor industri nasional, terutama industri yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Ia menyebut sedikitnya ada lima sektor yang akan terdampak berat, yakni industri farmasi dan obat-obatan, elektronik, tekstil dan garmen, plastik serta petrokimia hilir, dan industri otomotif. Ketergantungan bahan baku impor pada sektor-sektor tersebut bahkan mencapai lebih dari 60 persen.
View this post on Instagram
A post shared by Republika Online (@republikaonline)