Kurs mata uang rupiah diproyeksi masih melemah pada awal pekan mendatang. Menurut data Bloomberg, kurs rupiah berada di Rp 18.036 per dolar AS pada Sabtu (6/6) pukul 16.01 WIB.
Chief Economist Bank Tabungan Negara (BTN), Myrdal Gunarto, menyatakan penguatan dolar AS yang terjadi secara global pada akhir pekan lalu dipicu oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan pasar tenaga kerja masih kuat dan berada dalam fase ekspansi.
“Sehingga kalau saya lihat untuk hari Senin (mendatang), rupiah sangat berat untuk menguat terhadap dolar,” ucap Myrdal kepada kumparan, Sabtu (6/6).
Selain itu, meskipun tensi perang geopolitik global mulai mereda, harga minyak dunia masih bertahan di atas USD 90 per barel. Menurutnya, kondisi tersebut membuat investor global cenderung bersikap lebih hati-hati terhadap aset di negara berkembang termasuk Indonesia, sehingga tekanan jual di pasar keuangan domestik berpotensi berlanjut.
“Jadi aksi jual di pasar keuangan kita kelihatannya akan lumrah terus terjadi pada pekan ini. Lalu yang ketiga dari sisi dividen, kita lihat juga ini kelihatannya flow-nya juga masih terus berlangsung untuk keluar,” tutur Myrdal.
Dengan berbagai faktor tersebut, ia menilai tekanan terhadap rupiah yang kini berada di kisaran Rp 18.000 per dolar AS masih cukup tinggi pekan depan. Meski demikian, ia menilai Bank Indonesia (BI) masih memiliki ruang dan amunisi yang memadai untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing.
“Tapi pertanyaannya apakah Bank Indonesia mau untuk terus melakukan kebijakan intervensi di tengah pressure dolar yang kuat?” ujar Myrdal.
Di sisi lain, ia mencermati adanya perpindahan dana dari Indonesia, khususnya pada komponen investasi lainnya dalam neraca pembayaran. Menurutnya, arus keluar dana tersebut bisa berasal dari investor asing maupun domestik yang memindahkan dananya ke aset yang dianggap lebih aman atau menawarkan imbal hasil lebih tinggi di luar negeri.
Ia juga menyoroti realisasi konversi devisa hasil ekspor (DHE) yang dinilai masih belum optimal. Padahal, Indonesia telah mencatat surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut.
“Jadi seharusnya kalau hanya untuk meng-counter pelemahan rupiah jangka pendek dengan realisasi konversi valas yang tinggi. Harusnya tren pelemahan rupiah terhadap dolar itu tidak terjadi,” lanjut Myrdal.
Karena itu, ia menilai eksportir perlu segera merealisasikan konversi valuta asing yang dimiliki agar pasokan devisa di pasar domestik meningkat. Dengan bertambahnya suplai valuta asing, kebutuhan devisa untuk mengantisipasi arus keluar modal maupun membiayai impor strategis seperti BBM dan komoditas penting lainnya dapat terpenuhi dengan lebih baik.
“Memang kalau lihat awal pekan pressure tinggi,” sebut Myrdal.
Kemudian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menyatakan terdapat beberapa strategi utama yang dapat ditempuh pemerintah untuk memperkuat stabilitas rupiah secara berkelanjutan.
Menurut Fakhrul, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan normalisasi fiskal secara bertahap sehingga upaya menjaga stabilitas ekonomi tidak hanya bertumpu pada kebijakan Bank Indonesia maupun pergerakan nilai tukar rupiah.
Ia menilai pemerintah perlu mengembalikan peran pasar obligasi melalui normalisasi kurva imbal hasil sebagai strategi kedua.
“Kita membutuhkan pasar keuangan yang semakin dalam, semakin likuid, dan semakin mampu menjadi magnet bagi modal global. Rupiah yang kuat pada akhirnya harus ditopang oleh pasar keuangan yang sehat, bukan hanya oleh instrumen stabilisasi jangka pendek,” jelasnya.
Selain itu, Fakhrul menekankan pentingnya membangun kembali kepercayaan pasar melalui komunikasi kebijakan yang konsisten serta koordinasi yang kuat antar otoritas.
Menurutnya, pergerakan nilai tukar tidak semata-mata dipengaruhi indikator ekonomi, tetapi juga sangat bergantung pada persepsi investor terhadap arah dan kredibilitas kebijakan pemerintah.
“Pada akhirnya, rupiah yang kuat adalah hasil dari kepercayaan. Ketika fiskal, moneter, strategi ekspor, dan komunikasi kebijakan bergerak ke arah yang sama, maka tekanan terhadap rupiah akan berkurang secara alami,” jelas Fakhrul.





