Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melanjutkan tren pelemahan dan menguji level psikologis 5.500 pada pekan depan seiring minimnya katalis positif serta meningkatnya tekanan sentimen domestik.
Menurut Tim Riset Phintraco Sekuritas tekanan jual masih mendominasi pasar menyusul munculnya sejumlah ketidakpastian kebijakan pemerintah yang direspons negatif oleh pelaku pasar.
Salah satu isu yang menjadi perhatian investor adalah wacana revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK). Pasar mengkhawatirkan perubahan regulasi tersebut berpotensi mengganggu independensi lembaga-lembaga keuangan yang selama ini menjadi pilar stabilitas sistem keuangan nasional.
Pada saat yang sama, sentimen fiskal juga turut membebani pasar. Kementerian Keuangan melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Mei 2026 mengalami defisit sebesar Rp180,4 triliun atau setara 0,7% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan defisit Rp20,9 triliun atau 0,09% PDB pada periode yang sama tahun lalu.
Selain tekanan di pasar saham, nilai tukar rupiah juga terus menunjukkan pelemahan. Pada perdagangan Jumat (5/6), rupiah ditutup melemah 0,46% ke level Rp18.049 per dolar AS.
Baca Juga
- Bukan MSCI, Ternyata Ini Sentimen yang Bikin IHSG Ambles
- Proyeksi Nilai Tukar Rupiah Pekan Depan, BI Genjot Upaya Stabilisasi
- Tekan Bunga Utang APBN, Ini Cara Baru BI Amankan Nilai Rupiah
Pelemahan rupiah yang berkelanjutan memunculkan spekulasi di pasar bahwa Bank Indonesia berpotensi menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) darurat sebelum jadwal RDG reguler pada 17–18 Juni 2026 mendatang. Investor kini mencermati langkah-langkah yang akan diambil bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal dan domestik.
Analis Phintraco Sekuritas menilai sejumlah data ekonomi yang akan dirilis pada pekan depan berpotensi menjadi katalis bagi pergerakan pasar, antara lain data cadangan devisa Mei 2026 pada 8 Juni, indeks keyakinan konsumen Mei 2026 pada 10 Juni, serta data penjualan ritel April 2026 pada 11 Juni.
Namun, selama belum muncul sentimen positif yang kuat untuk mengembalikan kepercayaan investor, pasar saham domestik masih berisiko bergerak dalam tren melemah.
"Di tengah minimnya katalis positif dan masih kuatnya tekanan sentimen negatif, IHSG diperkirakan berpotensi menguji level 5.500 pada pekan depan," tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.
IHSG ditutup merosot 4,20% ke level 5.594,77 pada perdagangan Jumat (5/6/2026). Pelemahan terjadi secara merata di seluruh sektor, dengan sektor transportasi mencatat koreksi terdalam sebesar 5,97%.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





