Berawal dari sebuah dapur sederhana di lorong kecil Kota Makassar, Sitti Maemuna memulai langkah yang tak pernah ia rencanakan sebelumnya. Berbekal kemampuan memasak dan dua bungkus songkolo seharga Rp20 ribu, ia perlahan membesarkan Kedai Dapur Ibuku hingga dikenal banyak pelanggan.
Edward AS
Kecamatan Ujung Pandang
Suasana Car Free Day (CFD) di Jalan Jenderal Sudirman, Makassar, Minggu pagi itu dipenuhi warga yang berolahraga dan berburu sarapan. Di antara deretan tenda sederhana yang berjajar di sisi jalan, aroma ketan hangat berpadu dengan wangi kelapa parut yang baru dikukus menguar, mengundang siapa saja untuk singgah.
Di salah satu sudut, sebuah lapak sederhana bertuliskan Kedai Dapur Ibuku tampak ramai didatangi pembeli. Tangan Sitti Maemuna bergerak lincah membungkus pesanan. Sesekali ia menyapa pelanggan yang sudah dikenalnya.
“Yang biasa, Bu?” katanya sambil tersenyum, Minggu, 7 Juni 2026.
Kesibukan seperti itu kini menjadi bagian dari hari-harinya. Namun beberapa tahun lalu, perempuan yang akrab disapa Ibu Sitti itu tak pernah membayangkan akan berada di titik tersebut.
“Awalnya saya tidak pernah merencanakan jualan seperti ini,” tuturnya.
Memasak sudah menjadi bagian dari kesehariannya sejak lama. Dapur adalah tempat yang paling akrab baginya. Di sanalah ia menyiapkan makanan untuk keluarga. Keterampilan memasak yang selama ini dijalani sebagai rutinitas seorang ibu rumah tangga, ternyata menjadi jalan yang mengubah kehidupannya.
Semua bermula ketika keadaan memaksanya mencari sumber penghasilan baru. Ia mulai memikirkan apa yang bisa dikerjakan dari rumah.
“Di rumah ada kelapa putih. Saya sempat berpikir, mau dijual apa,” kenangnya.
Pertanyaan sederhana itu kemudian membawanya pada songkolo, makanan tradisional khas Bugis-Makassar yang sudah begitu akrab dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan.
Tanpa banyak perhitungan, ia mencoba membuat beberapa porsi. Pesanan pertama datang dalam jumlah yang sederhana. Dua bungkus dengan nilai Rp20 ribu.
“Ada yang pesan dua bungkus, Rp20 ribu. Dari situ saya mulai jualan,” ujarnya.
Tak pernah ia sangka, dari dua bungkus songkolo tersebut, pesanan terus berdatangan. Ada yang membeli dua porsi, sepuluh porsi, hingga lima puluh porsi dalam sehari.
Perlahan, nama Dapur Ibuku mulai dikenal. Kepercayaan pelanggan pun semakin besar. Tidak hanya songkolo, pesanan nasi dos mulai berdatangan. Jumlahnya meningkat dari 20 kotak hingga 50 kotak sekali pesan.
Memasuki tahun 2023, usaha rumahan yang dirintisnya memasuki babak baru. Dapur Ibuku mulai menerima berbagai pesanan untuk acara keluarga maupun pertemuan. Salah seorang pelanggan setianya, Raman, bahkan beberapa kali memesan lima hingga sepuluh loyang makanan dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp5 juta.
Meski demikian, bagi Ibu Sitti, perjalanan itu tidak datang begitu saja. Seiring berkembangnya usaha, ia menyadari bahwa kemampuan memasak saja tidak cukup. Ada banyak hal yang harus dipelajari agar usaha yang dirintis dari dapur rumah dapat terus bertumbuh.
Di tengah perjalanan tersebut, ia kemudian bergabung dengan Rumah BUMN Makassar binaan BRI. Di tempat itulah, ia mulai mendapatkan pendampingan dan berbagai pelatihan untuk mengembangkan usahanya.
“Dulu saya hanya tahu memasak dan jualan. Setelah ikut pembinaan, saya banyak belajar bagaimana mengelola usaha,” katanya.
Melalui pendampingan tersebut, ia belajar mengenai pengelolaan usaha, pemasaran, hingga pentingnya menjaga kualitas dan pelayanan kepada pelanggan. Baginya, Rumah BUMN Makassar bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang yang mempertemukannya dengan pelaku UMKM lainnya.
“Kami dibimbing supaya usaha bisa berkembang. Banyak ilmu yang saya dapatkan di sana,” ujarnya.
Bekal pengetahuan itu membuatnya semakin percaya diri mengembangkan Dapur Ibuku. Pesanan yang datang semakin beragam, mulai dari songkolo, nasi dos, hingga berbagai hidangan untuk acara keluarga dan pertemuan. Meski usaha yang dirintisnya terus berkembang, Ibu Sitti tetap memegang prinsip yang sama seperti ketika pertama kali menjual dua bungkus songkolo. Menjaga cita rasa dan menjaga kepercayaan.
“Kalau orang sudah percaya, itu yang harus dijaga,” katanya.
Pagi semakin beranjak siang. Keramaian di Jalan Jenderal Sudirman belum juga surut. Sementara tangan Ibu Sitti terus bergerak membungkus pesanan yang tak henti berdatangan. Di tengah kesibukan itu, ia seolah mengingat kembali perjalanan panjang yang telah dilalui. Sebuah perjalanan yang bermula dari pertanyaan sederhana di dapur rumahnya.
“Mau dijual apa?”
Menjaga Rasa, Menjaga Kepercayaan
Di tengah ramainya CFD pagi itu, sejumlah pelanggan tampak kembali mendatangi lapak Dapur Ibuku. Nurhayati menjadi salah satunya. Hampir setiap pekan, perempuan tersebut menyempatkan diri membeli songkolo untuk sarapan bersama keluarga.
“Kalau hari Minggu ke CFD, saya memang cari songkolo Dapur Ibuku. Rasanya pas, ketannya pulen, kelapanya gurih. Sudah cocok di lidah,” ujarnya.
Menurutnya, yang membuat ia terus kembali bukan hanya soal rasa, tetapi juga konsistensi. “Rasanya selalu sama. Itu yang saya suka,” katanya.
Hal senada disampaikan Irwan. Awalnya, ia hanya mencoba membeli karena penasaran. Namun kini, ia menjadi pelanggan tetap.
“Awalnya coba-coba, ternyata enak. Sekarang kalau datang ke sini pasti beli. Kadang untuk sarapan, kadang dibungkus buat di rumah. Pelayanannya juga ramah,” katanya.
Untuk feature yang bertutur, komentar Koordinator Rumah BUMN Makassar, Ayu Anisela, sebaiknya ditempatkan setelah bagian perjalanan usaha Sitti Maemuna dan sebelum masuk ke bagian pelanggan. Dengan begitu alurnya tetap mengalir: perjalanan usaha → pendampingan BRI → pandangan pendamping → testimoni pelanggan.
Pendampingan yang Menguatkan Langkah
Koordinator Rumah BUMN Makassar, Ayu Anisela, mengatakan perjalanan Dapur Ibuku menjadi salah satu contoh bagaimana usaha mikro dapat tumbuh melalui proses yang konsisten. Menurutnya, kemauan untuk belajar menjadi salah satu kekuatan utama yang dimiliki Sitti Maemuna.
“Bu Sitti memiliki semangat yang luar biasa untuk terus berkembang. Beliau terbuka terhadap berbagai pembelajaran yang dapat mendukung kemajuan usahanya,” ujar Ayu.
Menurut Ayu, Rumah BUMN Makassar binaan BRI hadir untuk membantu para pelaku UMKM agar mampu naik kelas. Pendampingan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada penjualan, tetapi juga pada peningkatan kapasitas usaha.
“Kami ingin pelaku UMKM memahami pengelolaan usaha, pemasaran, dan penguatan identitas produk mereka,” katanya. Dengan demikian, pelaku usaha memiliki bekal yang lebih kuat untuk berkembang secara berkelanjutan.
Ia menilai kisah Dapur Ibuku menunjukkan bahwa usaha kecil memiliki peluang untuk tumbuh lebih besar. Hal tersebut dapat terwujud ketika dibarengi dengan ketekunan dan semangat untuk terus belajar.
“Kami berharap semakin banyak UMKM yang percaya diri untuk berkembang. Sebab usaha besar sering kali berawal dari langkah-langkah kecil yang dijalani dengan sabar,” ujarnya. (*)





