Pertumbuhan industri logistik nasional dan meningkatnya aktivitas perdagangan mendorong perluasan risiko di sektor marine cargo dan freight forwarding. Risiko yang dihadapi pelaku usaha kini tidak lagi terbatas pada proses pengangkutan barang, tetapi juga mencakup aktivitas pergudangan, gangguan rantai pasok, perubahan iklim, hingga tanggung jawab hukum terhadap pelanggan.
Marine and Aviation Group Head PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure) Jansen Kamedansen Siregar mengatakan kompleksitas risiko logistik saat ini menuntut pemahaman yang lebih mendalam terhadap kebutuhan perlindungan asuransi yang sesuai dengan karakteristik bisnis masing-masing.
“Perlindungan terhadap barang dan perlindungan terhadap tanggung jawab hukum memiliki fungsi yang berbeda. Pemahaman ini penting agar solusi yang diberikan lebih tepat sasaran sesuai eksposur risiko masing-masing bisnis,”ujar Jansen dalam kegiatan sharing session Tugure Academy di Toba, Sumatera Utara.
Menurut Tugure, perkembangan sektor logistik dan rantai pasok global telah mengubah profil risiko yang dihadapi pelaku usaha. Selain risiko kerusakan atau kehilangan barang selama pengangkutan, perusahaan kini menghadapi eksposur yang lebih luas akibat ketergantungan terhadap pihak ketiga, gangguan operasional, serta perubahan kondisi eksternal yang memengaruhi kelancaran distribusi.
Marine Underwriter Tugure Riski Vanra Risni Tarigan mengatakan bisnis marine cargo juga menghadapi tantangan berupa persaingan tarif yang semakin ketat di industri reasuransi. Di tengah kondisi tersebut, perusahaan melihat peluang pengembangan lini bisnis yang masih berada dalam ekosistem logistik, termasuk melalui produk Freight Forwarder Liability Insurance.
“Produk Freight Forwarder Liability memiliki potensi market yang cukup besar seiring meningkatnya kebutuhan perlindungan terhadap aktivitas logistik dan rantai pasok yang semakin kompleks,” ujar Riski.
Baca Juga: Klaim Bisa Tak Optimal, Tugure Minta Penetapan Sum Insured Lebih Akurat
Baca Juga: OJK Ungkap Arah Merger Asuransi BUMN, Reasuransi Berpotensi Jadi Satu
Sementara itu, Marine Division Manager PT Axis International Adjuster Muhammad Berly Sofianto menilai pertumbuhan transaksi digital dan belanja daring turut meningkatkan kebutuhan layanan logistik sekaligus memperbesar tanggung jawab freight forwarder terhadap barang milik pelanggan.
Menurut Berly, perusahaan freight forwarder saat ini menghadapi berbagai risiko, mulai dari kehilangan dan kerusakan barang, kesalahan dokumentasi, keterlambatan pengiriman, hingga potensi tuntutan hukum dari pemilik barang (cargo owner).
Perkembangan tersebut mendorong kebutuhan pengelolaan risiko yang lebih komprehensif di sektor logistik, terutama di tengah pertumbuhan volume pengiriman dan meningkatnya kompleksitas rantai pasok nasional maupun global.





