Bisnis.com, JAKARTA —Ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi pasar keuangan pada 2026 mendorong investor semakin selektif dalam menata portofolio investasi.
Di tengah volatilitas saham, emas, hingga aset kripto, deposito Bank Perekonomian Rakyat (BPR) mulai dilirik sebagai instrumen defensif yang menawarkan stabilitas dan kepastian imbal hasil.
Senior Marketing Manager DepositoBPR by Komunal R. Anggoro Putro Wibowo mengatakan berbagai faktor eksternal seperti tensi geopolitik, arah kebijakan suku bunga bank sentral global, hingga fluktuasi pasar keuangan internasional masih menjadi sumber ketidakpastian yang memengaruhi keputusan investasi masyarakat.
Kondisi tersebut membuat sebagian investor mulai mengedepankan perlindungan modal dan kestabilan hasil investasi tanpa sepenuhnya meninggalkan peluang pertumbuhan jangka panjang.
Menurutnya deposito DPR kini menjadi salah satu instrumen yang masuk kategori defensif.
"Produk simpanan deposito saat ini menawarkan tingkat bunga kompetitif yang dapat mencapai sekitar 6% per tahun, sekaligus memberikan kepastian imbal hasil sesuai tenor yang dipilih," ujarnya, Minggu (7/6/2026).
Baca Juga
- Setengah Portofolio BPR/BPRS Sudah Mengalir ke UMKM
- OJK: Aset BPR/BPRS Tembus Rp236,69 Triliun hingga Maret 2026
- Konsolidasi 4 BPR, Aset Tembus Rp1 Triliun
Selain itu, lanjutnya, dana nasabah juga mendapatkan perlindungan dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) hingga Rp2 miliar per nasabah per bank, sepanjang memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku.
Dengan inflasi domestik yang relatif terkendali, deposito BPR dinilai mampu membantu menjaga daya beli dana masyarakat sekaligus menjadi tempat penyimpanan dana yang lebih stabil di tengah gejolak pasar.
Instrumen ini juga menawarkan fleksibilitas tenor, mulai dari satu bulan hingga lebih dari satu tahun, sehingga dapat dimanfaatkan baik untuk kebutuhan dana terencana maupun pengelolaan kas jangka pendek hingga menengah.
Dalam lanskap investasi saat ini, setiap instrumen memiliki karakteristik risiko dan potensi keuntungan yang berbeda. Saham masih menawarkan prospek pertumbuhan jangka panjang, namun dengan tingkat volatilitas yang relatif tinggi. Sementara itu, emas tetap menjadi aset lindung nilai (safe haven), meskipun harganya juga dipengaruhi oleh pergerakan dolar AS, inflasi, dan arah suku bunga global.
Di sisi lain, aset kripto menawarkan potensi keuntungan yang besar, tetapi dibarengi risiko fluktuasi harga yang sangat tinggi sehingga lebih sesuai bagi investor dengan profil risiko agresif.
Di tengah dinamika tersebut, para ekonom terus menekankan pentingnya diversifikasi portofolio agar investor tidak bergantung pada satu jenis aset. Kombinasi instrumen pertumbuhan dan instrumen defensif dinilai mampu menjaga keseimbangan antara potensi imbal hasil dan pengelolaan risiko.
DigitalisasiAnggoro juga menyebut masyarakat kini semakin mempertimbangkan instrumen investasi yang tidak hanya aman, tetapi juga mudah diakses secara digital.
"Kami melihat semakin banyak masyarakat yang ingin menempatkan dana pada instrumen yang stabil dengan proses yang praktis dan transparan. Akses digital membuat masyarakat dapat membandingkan pilihan deposito sesuai kebutuhan finansial mereka dengan lebih mudah," imbuhnya.
Seiring berkembangnya layanan keuangan digital, deposito BPR kini dapat diakses melalui berbagai platform digital yang menghubungkan masyarakat dengan pilihan BPR di seluruh Indonesia. Kemudahan tersebut dinilai menjadi faktor yang turut mendorong minat masyarakat terhadap instrumen investasi berisiko rendah.





