PADANG, KOMPAS — Hasil investigasi Polisi Militer Komando Daerah Militer XX/Tuanku Imam Bonjol menyimpulkan peluru nyasar yang melukai mahasiswa di Universitas Negeri Padang atau UNP berasal dari lapangan tembak Lapai. Proyektil kaliber 9 mm itu bersumber dari pistol G2 Combat yang digunakan anggota TNI saat latihan tembak.
“Dapat kami simpulkan proyektil 9 mm yang ditemukan pada salah satu korban sangat identik dengan amunisi latihan yang digunakan oleh Batalion YTP 897/Singgalang,” kata Kepala Penerangan Kodam XX/TIB, Kolonel Kavaleri Taufiq, di Padang, Senin (8/6/2026).
Taufiq menjelaskan, tim sebelumnya melakukan investigasi di tempat kejadian perkara (TKP) di depan rektorat UNP, di lapangan tembak Lapai, dan lokasi lain sekitarnya. Dari proses penyelidikan, yang paling memungkinkan sebagai sumber peluru nyasar adalah lapangan tembak Lapai yang lokasinya sekitar 800 meter dari TKP.
Selanjutnya, tim investigasi melakukan pengujian terhadap proyektil 9 mm yang ditemukan pada paha kiri korban Nova Wirantika (25). Dengan melibatkan tim ahli, kata Taufiq, tim investigasi melakukan uji teori dan uji lapangan selama dua hari.
Proyektil 9 mm itu dipastikan berasal dari pistol G2 Combat. Saat latihan tembak Selasa (2/6/2026), anggota Batalion YTP 897/Singgalang menggunakan dua jenis senjata, yaitu pistol G2 Combat dan senjata laras panjang kaliber 5,56 mm.
Taufiq melanjutkan, ada beberapa aspek yang mempengaruhi jangkauan senjata api tersebut, yaitu sudut tembakan, arah/kecepatan angin, dan kelembaban udara. Dari proses pengujian, memang memungkinkan proyektil pistol G2 Combat sampai ke alun-alun Rektorat UNP dari lapangan tembak Lapai.
Pada sudut tembakan 2,5 derajat, kata Taufiq, jangkauan proyektil pistol G2 Combat mencapai 800 meter. Bahkan, pada sudut tembakan 7,5 derajat, jangkauannya hingga 1.100 meter.
“Menembak dengan pistol G2 Combat kaliber 9 mm pada sudut tertentu bisa mencapai 800 meter, bahkan 1.100 meter. Itu terbukti saat kami melakukan uji lapangan penembakan pistol itu pada Jumat (5/6/2026) dan Sabtu (6/6/2026) kemarin,” ujar Taufiq.
Atas kejadian ini, Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol menutup lapangan tembak Lapai sampai jangka waktu yang tidak ditentukan. Adapun untuk latihan tembak, personel TNI AD akan menggunakan lapangan tembak Secata di Kota Padang Panjang atau meminjam lapangan tembak Komando Daerah Angkatan Laut II di Kota Padang.
“Lapangan tembak kami tutup sambil berkoordinasi dengan instansi terkait dan pemerintah daerah tentang di mana tempat yang bisa kami gunakan untuk lapangan tembak yang baru,” kata Taufiq.
Terkait kondisi kedua korban, Taufiq menyebut, korban Nova dan teman dekatnya, Guruh Guwino (22), yang dirawat di Rumah Sakit Tentara (RST) Reksodiwiryo Padang mulai membaik. Nova sudah bisa berjalan meski dengan tertatih, sedangkan Guruh sudah bisa menggerakkan tangannya dan sudah memungkinkan untuk pulang.
“Pangdam berkomitmen, mulai dari pengobatan, perawatan, hingga pendampingan atau trauma healing akan kami berikan semaksimal mungkin sampai kedua yang bersangkutan betul-betul sehat dan beraktivitas seperti sediakala,” ujarnya.
Sekretaris UNP Erianjoni mengapresiasi langkah Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol dalam menyikapi kasus peluru nyasar ini, mulai dari penanganan korban hingga penutupan lapangan tembak Lapai dan rencana pemindahan lokasi lapangan Tembak.
“Ini sesuai dengan harapan Civitas Akademika UNP, masyarakat sekitar, dan orangtua yang menyekolahkan anaknya di UNP sehingga tidak ada lagi kecelakaan atau proses peluru nyasar yang menuju ke arah UNP,” katanya.
Sebelumnya, insiden peluru nyasar melukai dua orang di alun-alun depan Rektorat UNP di daerah Air Tawar, Kota Padang, Selasa (2/6/2026) sore. Kedua korban itu adalah Nova Wirantika, mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial UNP dan teman dekatnya Guruh Guwino.
Sekretaris UNP Erianjoni membenarkan peristiwa tersebut. Kecelakaan peluru rekoset atau peluru nyasar itu terjadi pada Selasa sekitar pukul 17.00 WIB. ”(Peluru) diperkirakan berasal dari lokasi latihan tembak TNI di Lapai, yang berjarak 800 m dari kampus induk UNP Air Tawar Padang,” katanya, Rabu (3/6/2026).
Saat kejadian, kata Erianjoni, dua korban dalam posisi duduk bersama teman-teman mereka di alun-alun depan Rektorat UNP. Tiba-tiba Nova dan Guruh terkena peluru nyasar. Tim medis UNP segera melarikan kedua korban ke Rumah Sakit Hermina Padang.
”Korban Nova Wirantika harus menjalani operasi Selasa malam karena peluru masih bersarang di paha kirinya,” ujar Erianjoni. Adapun Guruh Guwino yang terluka di bagian tangan telah mendapat tindakan medis dan dirujuk ke RST Reksodiwiryo Padang untuk proses pemulihan.
Ditambahkan Erianjoni, Rektor UNP Krismadinata sesaat setelah kejadian berkoordinasi dengan Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XX/Tuanku Imam Bonjol Mayor Jenderal Arief Gajah Mada, dan jajarannya terkait peristiwa ini.
Salah satu poin dari pertemuan tersebut, kata Erianjoni, juru bicara TNI Brigadir Jenderal Heri Prakosa mengatakan, TNI akan menginvestigasi kejadian tersebut sekaligus mencarikan solusi agar peristiwa serupa tidak lagi terulang.
”Tidak akan ada lagi latihan menembak di sekitar kampus UNP Air Tawar. Pihak TNI juga menyatakan akan menanggung semua pembiayaan atau perawatan sampai korban sembuh,” kata Erianjoni.





