Chatib Basri Ungkap Penyebab Utama Rupiah Terus Keok Meski Mata Uang Regional Lain Stabil

tvonenews.com
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, tvOnenews.com-Pelemahan rupiah di Indonesia lebih banyak karena persoalan kepercayaan investor terhadap fiskal Indonesia. Demikian pendapat Menteri Keuangan RI periode 2013-2014 sekaligus ekonom senior Chatib Basri. “Soal kita itu adalah soal confidence di fiskal,” katanya dalam agenda Grab Business Forum 2026 di Jakarta, Selasa.

Dalam kesempatan tersebut, Chatib memaparkan analisis data kausalitas yang dilakukan antara pergerakan rupiah dengan risiko fiskal diukur melalui Credit Default Swap (CDS), yaitu biaya asuransi terhadap risiko gagal bayar obligasi negara. Hasil pengujian data menunjukkan sebesar 23 persen dari variasi yang menyebabkan pelemahan rupiah dapat dijelaskan secara langsung oleh pergerakan CDS. Sebaliknya, fluktuasi rupiah hanya mampu menerangkan 2,3 persen dari pergerakan CDS.

Data juga menunjukkan nilai CDS Indonesia sudah mulai memburuk sejak Januari 2026 sebelum pecahnya perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Zionis Israel), yakni ketika Moody’s mengubah outlook dan muncul kekhawatiran pasar mengenai defisit anggaran yang mendekati 3 persen.

Hal ini membuktikan bahwa faktor utama pelemahan rupiah tak hanya dampak dari perang global, melainkan bersumber dari perhatian investor terhadap kredibilitas fiskal domestik, sehingga tak heran jika melihat sejumlah negara lain yang juga terdampak perang, tak mengalami depresiasi mata uang sedalam Indonesia.

Mengenai dampak pelemahan kurs ke inflasi, estimasi Bank Indonesia (BI) menunjukkan setiap depresiasi Rp1 terhadap dolar AS hanya menyumbang tambahan inflasi sekitar 0,13 persen. Dengan depresiasi rupiah yang berada di kisaran 8 persen, dia mengatakan efek rembetan ke inflasi umum masih di bawah 1 persen.

Kendati demikian, dampak kenaikan harga disebut akan sangat terasa pada produk-produk berbasis impor seperti plastik dan besi.

Sektor swasta kini dihadapkan pilihan untuk meneruskan kenaikan biaya tersebut ke konsumen yang berisiko memukul daya beli, atau menyerapnya dengan menurunkan margin keuntungan yang akan membuat pertumbuhan korporasi melambat pada paruh kedua tahun ini.

“Sekarang pertanyaannya adalah sama nggak (kondisi ekonomi) 1998 dengan 2026? My answer is no. Kenapa? Yang membedakan paling besar 98 dengan 2026 itu adalah flexible exchange rate,” ungkap Chatib.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
UU Polri Baru, Masa Usia Pensiun Jadi 60 Tahun Bagi yang Punya Keahlian Khusus
• 18 jam laludisway.id
thumb
Daftar Nominasi AVC Gala 2026: Ada Megawati Hangestri Hingga Yolla Yuliana Berebut Penghargaan Bergengsi
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
BRIN Nilai Fast Charging Motor Listrik Ungguli Tukar Baterai, Lebih Prospektif
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
BI Akui Tak Ingin Naikkan Suku Bunga, Tapi Perlu Demi Tarik Dana Asing
• 25 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Said Abdullah Beberkan Tiga Langkah Pulihkan Kepercayaan Pasar
• 17 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.