Podium MI: Kebisingan Akut

metrotvnews.com
7 jam lalu
Cover Berita

SADARKAH kita kalau dunia saat ini semakin bising dan berisik? Bahkan sejak pagi kita sesungguhnya sudah diganggu dengan rutinitas kebisingan. Bukan dari yang jauh-jauh datangnya, kebisingan awal di pagi hari itu berasal dari bunyi notifikasi di ponsel kita yang bersahutan seolah berebut perhatian.

Ada notifikasi tentang berita politik yang memancing amarah, video singkat yang mengundang tawa, siniar yang menampilkan perdebatan yang terkadang konyol, gosip selebritas dan pejabat, tawaran promo dari toko daring, dan entah berapa banyak pesan dan komentar yang menunggu untuk dibalas.

Dari layar ponsel yang privat, suasana berisik itu kemudian beranjak ke ruang-ruang publik. Dari meja makan siang di warung-warung hingga forum-forum diskusi, baik luring maupun daring. Suara-suara bising semakin berseliweran. Tanpa jeda. Terkadang tanpa makna, yang penting nyaring.
 

Baca Juga :

108 Solusi Kebijakan Presiden Prabowo Didokumentasikan Lewat Sebuah Buku

Indonesia, mungkin juga negara-negara lain, hari ini tampak seperti sebuah negeri yang tak pernah sepi. Level kebisingannya sudah akut. Belum selesai satu kegaduhan, datang kegaduhan berikutnya. Belum tuntas satu perkara dipahami, perkara lain sudah menuntut reaksi.

Seakan-akan hidup hari ini ialah perlombaan bereaksi. Semua orang berbicara. Semua orang berkomentar. Siapa paling cepat berpendapat, dialah yang dianggap paling tahu. Yang paling kencang bersuara, dialah yang paling didengar. Yang viral, dialah yang dianggap punya nilai.

Entahlah, apakah memang seperti itu karakter zaman digital? Kecepatan reaksi seolah menjadi segalanya. Pada akhirnya yang tenang sering kalah oleh yang gaduh. Yang mendalam kerap tenggelam oleh yang sensasional. Yang membutuhkan pemikiran kalah cepat ketimbang yang memancing emosi. Keributan lebih mudah viral daripada kebijaksanaan.
 

Baca Juga :

Saatnya Pemimpin Teknologi Indonesia Menuju Level Global

Selama ini kita mengenal ungkapan yang dicetuskan filsuf Prancis, Rene Descartes, yaitu cogito, ergo sum atau 'aku berpikir maka aku ada". Sepertinya, kini rumusnya sudah berubah. Bisa jadi 'aku berisik maka aku ada' atau 'aku viral maka aku ada'.

Pertanyaannya, mengapa manusia pada era modern ini malah makin tenggelam dalam kebisingan? Salah satu yang kerap disebut sebagai penyebab ialah kian mudahnya informasi membanjiri kepala kita. Dulu, orang harus susah payah mencari informasi. Membeli koran, menunggu siaran berita radio atau televisi, membaca buku, literatur, juga mendatangi orang yang dianggap ahli, pakar, atau setidaknya yang lebih tahu.

Hari ini situasinya berbalik. Informasi datang tanpa diundang. Ia muncul di layar setiap saat, bahkan ketika kita tidak mencarinya. Ditambah lagi dengan kehadiran kecerdasan buatan (AI), yang hanya dengan sedikit effort untuk mencari informasi tentang satu hal, kita bisa langsung disodori informasi yang melimpah tentang segala hal.

Nah, celakanya, limpahan informasi itu tidak lantas membuat manusia semakin bijaksana, malah sering kali melahirkan ilusi pengetahuan. Bahasa gaulnya, sotoy alias sok tahu. Kita seolah merasa tahu banyak hal hanya dengan melihat potongan fakta yang belum tentu benar. Kita merasa memahami persoalan cuma gara-gara membaca beberapa paragraf atau menonton video berdurasi 1 menit.

Pada zaman ini, sekonyong-konyong semua orang bisa menjadi komentator, pakar dadakan, ahli politik dadakan, ahli hukum dadakan, dan macam-macam dadakan lainnya. Bahkan sekali waktu bisa menjadi hakim dadakan karena mereka dapat dengan mudah menghakimi seseorang atau suatu kelompok hanya berdasarkan informasi sepotong.

Tom Nichols, pakar strategi politik dan hubungan internasional asal AS, pernah menulis buku berjudul The Death of Expertise atau Matinya Kepakaran. Buku itu dengan brilian memotret situasi ironis pada era digital saat ini, ketika akses informasi terbuka sangat lebar, tapi masyarakat justru semakin enggan untuk belajar secara mendalam.


Ilustrasi media sosial. Foto: dok. Medcom.

Kepakaran 'palsu' itu kian menemukan habitatnya pada masa kesempatan berbicara terbuka selebar-lebarnya, tapi kemampuan mendengar semakin hilang. Semua orang ingin didengar, tetapi hanya sedikit yang mau diam sejenak untuk mendengar. Kebisingan kian mendapat ruang, kesunyian semakin tak kebagian tempat.

Padahal, kalau kita mau belajar dari sejarah, banyak gagasan besar justru lahir dari ruang yang sunyi. Banyak penemuan penting muncul dari perenungan yang panjang. Banyak keputusan bijak diambil setelah seseorang memilih jeda dari hiruk-pikuk dunia untuk mendengarkan suara akal sehatnya sendiri.

Dunia, pun negeri ini, kiranya tidak lagi membutuhkan lebih banyak orang yang berbicara. Kita sudah kelebihan pasokan alias surplus. Yang perlu kita cari ialah orang-orang yang mau mendengar, mau membaca sampai tuntas, berpikir sebelum bereaksi, dan berani diam ketika tidak memahami persoalan.

Kita tentu pernah mendengar nasihat bahwa manusia dikaruniai dua telinga dan satu mulut agar lebih banyak mendengar daripada berbicara. Nasihat yang terdengar sahaja itu terasa semakin relevan sebagai pengingat di zaman ini. Zaman suara berisik kian mendominasi lantaran setiap orang memiliki mikrofon sendiri.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BI Akui Tak Ingin Naikkan Suku Bunga, Tapi Perlu Demi Tarik Dana Asing
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Rabu, BMKG prakirakan cuaca sebagian besar wilayah Indonesia berawan
• 8 jam laluantaranews.com
thumb
Defisit Neraca Perdagangan AS Menyempit ke US$55,9 Miliar pada April 2026
• 14 jam lalubisnis.com
thumb
Menko Airlangga Tegaskan Kenaikan BI Rate Untuk Jaga Stabilitas Ekonomi
• 4 jam laluviva.co.id
thumb
Kebakaran Rumah di Ampel Surabaya, 4 Penghuni Terjebak Berhasil Dievakuasi
• 7 jam laluberitajatim.com
Berhasil disimpan.