JAKARTA, KOMPAS.com - Di sepanjang trotoar Jalan Raya Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, geliat usaha duplikat kunci bukan hanya soal ekonomi jalanan, tetapi juga cerita panjang perubahan teknologi, dari kikir manual hingga mesin otomatis modern yang kini berjejer di gerobak-gerobak sederhana.
Salah satu saksi hidup transformasi itu adalah Edi (55), yang telah bertahan di lokasi tersebut sejak 1990. Ia melihat langsung bagaimana pekerjaan yang dulu sepenuhnya mengandalkan ketelitian tangan kini bergantung pada mesin potong dan mesin ukir berteknologi tinggi.
Di antara deretan gerobak kayu di pinggir jalan yang ramai lalu lintas, Edi tetap duduk di tempat yang sama setiap hari, menjaga lapak kecilnya yang telah menjadi bagian dari lanskap Jalan Raya Ragunan.
Baca juga: Teka-teki Paspor Jemaah Haji Berserakan di Serpong Tangsel Terungkap, Mayoritas Hanya Sampul
Suara bising mesin, kilatan serbuk kuningan, dan lalu-lalang pelanggan menjadi rutinitas yang tidak berubah meski zaman di sekitarnya terus bergerak cepat.
Edi masih mengingat betul masa-masa awal ia memulai usaha duplikat kunci pada 1990. Saat itu, semua dikerjakan dengan tangan, menggunakan kikir besi sederhana untuk membentuk ulang anak kunci.
KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Gerobak DUPLIKAT KUNCI VGS di Jalan Raya Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (9/6/2026).
“Dari tahun 1990. Jadi sudah sekitar 36 tahun. Saya dari dulu di sini saja, tidak pindah-pindah,” kata Edi saat ditemui Kompas.com di lapaknya, Selasa (9/6/2026).
Kini, wajah usaha itu berubah drastis. Di gerobaknya, Edi tidak lagi hanya mengandalkan alat manual.
Mesin potong otomatis dan mesin bor vertikal sudah menjadi bagian penting dalam proses kerja sehari-hari.
Teknologi itu membuat pekerjaan lebih cepat, presisi, dan bisa melayani lebih banyak jenis kunci, termasuk model modern dengan pola dimple yang lebih rumit.
Namun, di balik modernisasi itu, Edi tetap memegang prinsip sederhana, yakni bertahan selama masih ada pelanggan yang datang.
Baca juga: Menggugat Rente Makan Gratis
“Iya, makin banyak. Sampai ujung jalan itu ada sekitar sepuluhan juga yang jualan seperti ini,” ujarnya tentang persaingan yang kini mengisi sepanjang jalan.
Meski begitu, ia tidak melihatnya sebagai ancaman besar. Ia menilai rezeki tetap berjalan selama usaha tetap dibuka.
“Ya begitu lah. Banyak yang dagang, jadi pelanggan terbagi. Tapi tetap saja yang penting kita buka usaha saja. Soal rezeki sudah diatur,” kata Edi.
Dalam sehari, Edi bisa melayani berbagai jenis pesanan, mulai dari kunci rumah hingga kendaraan.
Harga yang ditawarkan pun bervariasi, tergantung jenis dan tingkat kesulitan kunci yang hendak diduplikat.
KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Detail mesin duplikat kunci yang digunakan pelaku usaha di Jalan Raya Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (9/6/2026).
“Kalau kunci rumah sekitar Rp 15.000 sampai Rp 20.000. Kalau motor sekitar Rp 30.000, tergantung jenis kuncinya juga,” ujar dia.
Meski terlihat sederhana, usaha ini menjadi penopang hidup utama Edi selama puluhan tahun.
Ia bahkan mengaku dari usaha tersebut mampu membiayai pendidikan anak-anaknya hingga jenjang perguruan tinggi.