JAKARTA, DISWAY.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) prediski puncak musim kemarau terjadi pada periode Juli-September 2026.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menyampaikan papara puncak musim kemarau pada bulan Juli mencakup 83 zona musim (ZOM).
Sedangkan, puncak kemarau Agustus mencakup 369 ZOM dan September 169 ZOM.
BACA JUGA:Apa Penyebab Gempa Filipina M7.8 Picu Potensi Tsunami? BMKG Tegaskan Bukan Aktivitas Megathrust
Adapun wilayah yang diprediksi mengalami puncak musim kemarau Juli 2026 meliputi sebagian Sumatra, sebagian kecil Kalimantan dan Jawa, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, Sulawesi Barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat, sebagian kecil Maluku, Papua Barat Daya bagian selatan, Papua Barat bagian Tengah, dan Papua bagian timur.
Sementara itu, puncak musim kemarau yang terjadi pada bulan Agustus mencakup wilayah Sumatra bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku dan Maluku Utara, serta sebagian besar Pulau Papua.
Pada bulan September, kemarau akan terjadi pada kawasan Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatra Selatan, Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, dan Papua Pegunungan bagian tengah.
BACA JUGA:BMKG Peringatkan Potensi Cuaca Ekstrem, Siklon Tropis Jangmi Picu Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah Indonesia
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, memaparkan pemantauan hingga akhir Mei 2026, sebanyak 200 ZOM (11,83 persen luas daratan) sudah memasuki musim kemarau.
Wilayah yang telah mengalami kemarau di antaranya sebagian Sumatra, sebagian Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara, Kalimantan Tengah bagian timur, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, dan sebagian Papua.
Ardhasena juga mengungkapkan, musim kemarau di Indonesia pada tahun ini diprediksi lebih kering dan lebih panjang.
Kondisi ini memerlukan penyesuaian ekstra mengingat adanya peluang El Nino di Indonesia.
"BMKG memprediksi fenomena El Nino akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen" pungkasnya.




