Tangan cekatan dua pekerja membuka kantong sampah dan mulai memilah isi di dalamnya untuk memilih sampah berbahan plastik di Depo Pawiyatan Kelompok Swadaya Mandiri (KSM) Pilah Berkah, Kecamatan Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta, Rabu (10/6/2026). Kedua pekerja itu mengelompokkan sampah plastik yang akan diolah menjadi bahan bakar dan menyisihkan sampah jenis lainnya.
”Plastik yang bagus langsung ke mesin pirolisis dan yang lainnya masuk ke mesin Sapu Jagad. Abu dari mesin Sapu Jagad akan digunakan untuk campuran bahan batako,” ujar Yoyok, salah satu pekerja yang turut memilah sampah di sisi depan tempat itu. Mesin pirolisis saat ini tengah menjadi andalan bagi tempat itu dalam proses mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar sejenis solar yang dinamakan Petasol.
Pirolisis merupakan proses dekomposisi termokimia bahan organik melalui pemanasan pada suhu tinggi dengan kisaran 300-500 derajat celsius. Metode pirolisis digunakan oleh KSM Pilah Berkah untuk memecah struktur kimia pada plastik menjadi cairan yang dapat digunakan untuk bahan bakar.
Mesin pirolisis di tempat itu dioperasikan oleh seorang petugas yang secara berkala memeriksa tetesan bahan bakar dapat tertampung dengan baik di botol kaca yang telah disiapkan. Pekerja itu juga bertugas memastikan suplai kayu bakar pada mesin itu selalu tersedia agar proses pirolisis berjalan lancar.
Menurut Pengelola KSM Pilah Berkah, Arif Solikhin, mesin mereka saat ini baru mampu mengolah sampah plastik sebanyak 50 kilogram untuk menjadi sekitar 47 liter Petasol per hari. Sejak tahun 2025, depo tersebut telah mengolah sekitar 1.000 ton sampah menjadi bermacam entitas yang dapat dimanfaatkan kembali, seperti Petasol ataupun bahan campuran batako.
Petasol dan bahan bakunya yang berupa sampah plastik.
”Petasol yang kami produksi aman digunakan untuk mesin kendaraan dan sudah mendapat rekomendasi dari BRIN dan Kementerian ESDM,” kata Arif. Bahan bakar dari sampah plastik itu saat ini telah digunakan di sejumlah mobil serta mesin genset milik beberapa anggota KSM tersebut yang sebelumnya mengandalkan bahan bakar solar.
Bahan bakar dari KSM Pilah Berkah itu sementara masih digunakan untuk lingkup internal karena mereka masih menunggu beberapa proses pengujian sebelum bisa digunakan secara luas di masyarakat. ”Petasol sudah digunakan di (mobil) Cruiser, Fortuner, (truk) Engkel, Traga, mesin Dongfeng, dan mesin genset. Jenisnya solar, tapi kadar Cetane Number (Petasol) melebihi (bio) solar,” kata Arif. Cetane Number atau Angka Setana adalah indikator kualitas pembakaran bahan bakar mesin diesel.
KSM tersebut dibangun secara mandiri dan saat ini memiliki sekitar 1.000 nasabah dari 66 bank sampah binaan yang berada di 10 kelurahan di kawasan Bantul. Selain menjadi sarana pengolahan sampah, KSM Pilah Berkah juga aktif mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pemilahan sampah sebagai bagian pelestarian Bumi.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyambut gembira sepak terjang KSM itu dalam menghasilkan energi baru lewat sampah. ”Setiap hari, kita memproduksi sampah plastik sekitar 180 ton. Jika plastik bisa diolah, tentu masalah plastik selesai,” kata Muslih.
Upaya tersebut juga membawa angin segar serta inspirasi bagi DIY yang beberapa waktu terakhir didera oleh permasalahan sampah yang kian menggunung dan relatif belum tertangani dengan optimal. Setiap tetes Petasol yang dihasilkan dari plastik juga memberi harapan bagi masyarakat di tengah terus naiknya harga sejumlah jenis bahan bakar yang mereka butuhkan sehari-hari.





