Apa Itu Inverted Yield Curve dan Mengapa Dikaitkan dengan Risiko Resesi RI?

katadata.co.id
23 jam lalu
Cover Berita

Pasar obligasi Indonesia mengalami fenomena inverted yield curve atau kondisi ketika imbal hasil (yield) obligasi jangka pendek lebih tinggi daripada obligasi jangka panjang. Fenomena ini sering dianggap oleh pelaku pasar sebagai sinyal perlambatan ekonomi atau resesi ekonomi. Namun, benarkah sinyal serupa tengah terjadi di Indonesia?

Inverted yield curve  adalah kondisi kondisi ketika imbal hasil surat utang, termasuk Surat Berharga Negara (SBN) tenor jangka pendek lebih tinggi dibandingkan tenor jangka panjang. Kondisi ini tengah terjadi di pasar obligasi negara sejak pekan lalu. 

Imbal hasil atau yield surat berharga negara terpantau melonjak tajam pada awal pekan ini  menunjukan kurva berbalik atau inversi yang curam. Berikut data yield SBN tenor 1 tahun, 3 tahun, 5 tahun, dan 10 tahun pada Rabu (10/6).

 

Imbal Hasil SBN (Diolah Chatgpt/Agustiyanti)

 

 

Berdasarkan data tersebut, terlihat terjadi inversi pada yield SBN tenor 1 tahun dan 3 tahun, serta SBN tenor 5 tahun dan 10 tahun. 

Hubungan antara yield dan harga obligasi berlawanan arah, kenaikan yield berarti harga obligasi sedang turun. Pada posisi yang inverted, investor sedang menuntut imbal hasil lebih tinggi dari oblias tenor jangka pendek dibandingkan jangka panjang, karena melihat risiko jangka pendek lebih mengkhawatirkan. 

Purbaya sebelumnya mengatakan, kondisi inverted yield curve terjadi karena adanya intervensi kebijakan Bank Indonesia (BI) yang secara sengaja dengan menaikkan suku bunga instrumen jangka pendek. Hal ini dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan menarik aliran modal asing masuk.

Yield curve kita di sini enggak selalu sama dengan di buku-buku teori, bahwa kalau inverted berarti suku bunga jangka panjang akan turun, bank sentral akan turunkan bunga karena ekonominya resesi,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KITA, Jumat (5/6).

Pada kondisi saat ini, menurut dia, imbal hasil jangka pendek memang didorong naik oleh BI melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sedangkan yield tenor panjang lebih banyak dibentuk oleh mekanisme pasar. 

“Yang jangka pendek kan dinaikkan BI sengaja lewat SRBI, akhirnya inverted. Tapi bukan menggambarkan itu akan resesi karena enggak pure market condition yang menjalankan itu,” katanya.

Di banyak negara, kondisi inverted yield curve sering dianggap sebagai sinyal perlambatan ekonomi atau bahkan resesi karena pasar memperkirakan bank sentral akan menurunkan suku bunga di masa depan untuk menopang pertumbuhan ekonomi.

Purbaya menilai kondisi di Indonesia berbeda karena dipengaruhi kebijakan moneter aktif dari BI untuk menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah tekanan global dan pelemahan rupiah. Ia meminta investor dan pelaku pasar tidak hanya melihat teori secara tekstual tanpa memahami faktor di balik pergerakan kurva imbal hasil.

Menurut Purbaya, fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih kuat dan belum menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang mengarah ke resesi.

“Fondasinya ekonomi kita bagus dan tidak membutuhkan suku bunga yang rendah sekali gara-gara kita memasuki masa resesi. Kita masih ekspansi bahkan ekspansinya mengalami akselerasi,” ujarnya.

Mengapa Inverted Yield Curve Dikaitkan dengan Resesi?

Fenomena inverted yield curve atau kurva imbal hasil terbalik kerap dianggap sebagai salah satu indikator dini perlambatan ekonomi. Dalam kondisi normal, obligasi bertenor panjang menawarkan imbal hasil lebih tinggi dibanding obligasi jangka pendek sebagai kompensasi atas risiko yang lebih besar.

Namun ketika investor memperkirakan pertumbuhan ekonomi melemah dan suku bunga akan turun pada masa depan, permintaan terhadap obligasi jangka panjang meningkat sehingga imbal hasilnya justru turun di bawah obligasi jangka pendek.

Hubungan antara kurva imbal hasil dan resesi telah diteliti secara luas. Salah satu studi yang paling banyak dirujuk adalah paper karya ekonom Arturo Estrella dan Frederic S. Mishkin berjudul The Yield Curve as a Predictor of Recessions in the United States and Europe yang dipublikasikan oleh Bank for International Settlements (BIS) pada 1996. Dalam penelitian tersebut, keduanya menguji kemampuan kurva imbal hasil dalam memprediksi resesi di Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa.

Estrella dan Mishkin menemukan bahwa selisih antara yield obligasi jangka panjang dan jangka pendek memiliki kemampuan yang kuat dalam memperkirakan kemungkinan resesi beberapa kuartal ke depan. Indikator yang banyak digunakan adalah selisih antara obligasi pemerintah tenor 10 tahun dan surat utang jangka pendek tiga bulan.

Ketika selisih tersebut menyempit atau berubah negatif, probabilitas terjadinya resesi cenderung meningkat. Bahkan, dalam sejumlah pengujian, kurva imbal hasil terbukti lebih akurat dibanding beberapa indikator ekonomi dan pasar keuangan lainnya. Meski demikian, kurva imbal hasil terbalik bukanlah jaminan bahwa resesi pasti akan terjadi.

Temuan Estrella dan Mishkin menunjukkan bahwa inversi yield curve meningkatkan probabilitas perlambatan ekonomi, bukan memastikan terjadinya kontraksi ekonomi.  Karena itu, para ekonom umumnya memandang inversi kurva imbal hasil sebagai sinyal peringatan yang perlu dicermati bersama indikator lain, seperti kondisi pasar tenaga kerja, inflasi, pertumbuhan kredit, dan aktivitas sektor riil.

 

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Justice Collaborator MBG: Ungkap Tuntas, Bukan Tawar-menawar di Balik Meja
• 13 jam lalukompas.com
thumb
Camat Usul KJP 2 Pembacok Pelajar di Jakbar Dicabut, Soroti Kegiatan Belajar
• 7 jam laludetik.com
thumb
Pemerintah diminta jaga kredibilitas di tengah tekanan ekonomi
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
Farhan Bertemu Menteri, Bahas Rencana Pembukaan Bandung Zoo
• 3 jam lalujpnn.com
thumb
Bocah 6 Tahun di Jakpus Koma Kesetrum Tiang Listrik Usai Dibully 2 Remaja
• 17 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.