Protes Pembangunan Karantina Ebola AS, Satu Demonstran di Kenya Tewas

metrotvnews.com
18 jam lalu
Cover Berita

Nanyuki: Pada Selasa, 9 Juni, sedikitnya satu orang dilaporkan tewas setelah kepolisian Kenya melepaskan tembakan ke arah ratusan demonstran.

Massa menggelar aksi unjuk rasa menolak pembangunan pusat karantina bagi warga negara Amerika Serikat (AS) yang terpapar virus Ebola, yang saat ini tengah dikebut oleh pemerintah AS di kota pusat Nanyuki.

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Vocal Africa, mengonfirmasi melalui platform X, bahwa seorang korban meninggal dunia akibat luka tembak di bagian kepala oleh kepolisian Kenya. Sebelum melepaskan tembakan, aparat keamanan terpantau sempat menggunakan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan kerumunan massa.

Aksi protes ini dipicu oleh kekhawatiran masyarakat sipil terhadap risiko kesehatan dari penanganan para pasien yang terpapar wabah Ebola, yang saat ini sedang menyebar di wilayah timur Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda.

Pekan lalu, ratusan warga juga telah turun ke jalanan di Nanyuki di tengah meningkatnya rasa frustrasi penduduk karena otoritas Kenya dan AS secara terbuka menegaskan komitmen mereka untuk melanjutkan proyek tersebut, meskipun pengadilan telah mengeluarkan perintah pembatalan. Demonstrasi terdahulu tersebut juga berujung fatal dengan menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai satu warga lainnya.

Mengenai status wabah, Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mendeklarasikan status darurat kesehatan masyarakat internasional pada 17 Mei lalu, setelah mendeteksi penyebaran varian langka, Bundibugyo, yang telah bersirkulasi selama berminggu-minggu di DRC dan meluas ke negara tetangga, Uganda. Berbeda dengan varian, Zaire, yang lebih umum ditemukan, sejauh ini belum ada vaksin atau metode pengobatan resmi yang disetujui untuk menangani varian Bundibugyo.

Terdapat kekhawatiran besar bahwa wabah kali ini dapat menjadi salah satu yang terburuk dalam sejarah akibat adanya keterlambatan deteksi dini, yang diperparah oleh penurunan dana kesehatan dari pihak AS serta donor Barat lainnya.

Pada tahun lalu, AS tercatat memotong sebagian besar bantuan luar negerinya dan secara efektif menutup Badan Pembangunan Internasional AS (USAID) menyusul dimulainya masa jabatan kedua Presiden Donald Trump.

Pemerintahan Trump sendiri telah menegaskan bahwa mereka tidak dapat dan tidak akan mengizinkan kasus Ebola apa pun masuk ke dalam wilayah kedaulatan AS. Kebijakan ketat ini kontras dengan penanganan wabah Ebola tahun 2014-2016 di Afrika Barat, di mana saat itu beberapa warga negara AS yang terinfeksi diizinkan dievakuasi dan dirawat di tanah Amerika.

Fasilitas kesehatan di Nanyuki ini secara spesifik diperuntukkan bagi warga Amerika yang telah terpapar virus namun belum menunjukkan gejala klinis. Pejabat AS menyatakan bahwa bagi pasien yang mulai menunjukkan gejala sakit nantinya akan segera dipindahkan untuk menjalani perawatan di negara lain.

Berdasarkan data pelacakan penerbangan serta keterangan sumber diplomatik AS, pesawat militer Amerika terpantau masih terus menerbangkan personel logistik dan peralatan medis ke lokasi proyek, meskipun pengadilan telah mengeluarkan perintah pemblokiran, di mana beberapa pesawat dijadwalkan akan kembali mendarat pada pekan ini.

Koresponden Al Jazeera, Malcolm Webb, melaporkan langsung dari lokasi unjuk rasa bahwa aksi protes masih terus bertahan dan berjalan selama beberapa jam setelah polisi anti-huru-hara mulai membubarkan massa.

"Situasi meningkat secara signifikan pada sore hari. Ini telah berlangsung selama berjam-jam dan semua demonstran mengatakan bahwa mereka tidak percaya pada klaim pemerintah bahwa fasilitas Ebola ini akan membawa manfaat bagi mereka; mereka sangat skeptis. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak menginginkan fasilitas ini ada di kota mereka," ujar Webb, seperti dikutip Al Jazeera, pada Rabu, 10 Juni 2026.

Hasil tangkapan citra satelit yang dirilis oleh Kantor Berita Reuters memperlihatkan adanya peningkatan pembangunan tenda-tenda putih di atas sebidang tanah seluas sekitar 0,046 kilometer persegi, yang areanya berada di dalam lingkungan Pangkalan Udara Laikipia sejak 27 Mei lalu.

Pihak AS mengatakan telah mengetahui adanya gugatan hukum di pengadilan dan mengeklaim sedang bekerja sama dengan pemerintah Kenya untuk menyelesaikan segala bentuk keberatan yang muncul dari masyarakat.

Para pejabat Kenya mengklaim bahwa fasilitas karantina ini nantinya juga akan melayani warga lokal Kenya dan warga negara asing lainnya selain warga negara Amerika, namun klaim sepihak tersebut sejauh ini belum dikonfirmasi oleh para pejabat AS.

Seorang dokter medis sekaligus perwakilan serikat pekerja, Bill Muriuki, mengkritik keras proyek karantina AS tersebut karena dinilai sangat tertutup sehingga membuat masyarakat Kenya tidak mendapatkan kejelasan mengenai apa saja yang akan dilakukan di dalam fasilitas tersebut.

“Warga Kenya baru menyadarinya ketika Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, mengumumkannya kepada warga negara [AS]. Saat itulah warga Kenya diberi tahu; itu bukan dari pemerintah kami sendiri. Sampai hari ini, kesepakatan itu sendiri belum dibuka untuk publik, jadi kami bahkan tidak bisa mengatakan apa keuntungan di dalamnya bagi warga Kenya,” kritik Muriuki.

Ia menambahkan bahwa refleksi dari pengalaman penanganan pandemi virus corona sebelumnya telah menunjukkan dengan jelas bahwa sistem kesehatan Kenya belum siap untuk menghadapi ancaman wabah penyakit mematikan lainnya.

(Kelvin Yurcel)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Scooby-Doo Versi Live-Action Hadir di 2027, Netflix Ungkap Cuplikan Perdana Origins
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
KPK Kembali Periksa Heri Black Jadi Saksi Kasus Importasi Bea Cukai
• 3 jam laludetik.com
thumb
Viral Daftar Pejabat Terlibat Kasus MBG, Begini Penjelasan KPK
• 4 jam lalurepublika.co.id
thumb
DPR Sahkan RUU Polri, Menteri Hukum Sebut Regulasi Baru Dukung Adaptasi Teknologi
• 1 jam lalumatamata.com
thumb
Insentif PPN vs Kenaikan Avtur
• 16 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.