PT Freeport Indonesia (PTFI) menargetkan fasilitas pemurnian dan pengolahan (smelter) tembaga mereka yang ada di Gresik, Jawa Timur dapat beroperasi kembali pada kuartal III 2026. Smelter milik PTFI ini berhenti operasi setelah terjadinya longsor di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) pada September 2025.
“Kuartal III (mulai beroperasi), tapi ramp up (peningkatan bertahap) tergantung jumlah konsentratnya,” kata Presiden Direktur PTFI Tony Wenas saat ditemui di Kompleks DPR RI, Rabu (10/6).
Tambang milik Freeport yang ada di Papua memang sepenuhnya memasok bijih tembaga untuk diolah di smelter. Hasil tambang tersebut dikirimkan melalui kapal.
Tony mengatakan smelter tembaga bisa beroperasi dan memproses secara optimal jika sudah memperoleh pasokan dengan penuh.
Smelter Freeport Indonesia di Manyar, Gresik, itu memiliki kapasitas terpasang pemurnian hingga 1,7 juta ton konsentrat tembaga dan 6.000 ton lumpur anoda per tahun. Pabrik ini dapat mengolah lumpur anoda menjadi beberapa logam berharga, seperti emas, perak, platinum paladium, selenium, bismut, dan timbal.
Target operasi ini sebetulnya mundur dari perkiraan awal. Pada November 2025, Tony menargetkan fasilitas ini bisa beroperasi pada kuartal II 2026.
Selain smelter, Tony juga turut menjelaskan terkait progres tambang GBC yang mengalami longsor tahun lalu. Pada semester 2026, progres pemulihan tambang tersebut bisa mencapai 65%.
“Semester pertama tahun depan bisa mencapai 75% dan menjelang akhir tahun 100% (pulih),” ujarnya.
Freeport McMoran (FCX) sebelumnya melaporkan produksi emas dan tembaga anak usahanya PTFI menurun pada kuartal 1 2026. Penurunan produksi dipengaruhi oleh insiden longsor yang terjadi di tambang bawah tanah GBC.
Longsor ini terjadi di salah satu dari lima blok produksi di GBC, tetapi mengakibatkan kerusakan pada infrastruktur yang diperlukan untuk mendukung produksi blok lain.
Pada tiga bulan pertama jumlah produksi emas PTFI sebanyak 92 ribu ons, turun 67,61% dibandingkan periode yang sama pada 2025 mencapai 284 ribu ons. Selain emas, penurunan produksi juga terjadi pada komoditas tembaga. PTFI memproduksi 95 ribu pon tembaga pada kuartal 1 2026, turun 67,91% dibandingkan periode yang sama pada 2025 mencapai 296 ribu pon tembaga.
Tak hanya produksi, penurunan kinerja juga terjadi pada jumlah penjualan emas dan tembaga. Volume penjualan konsolidasi PTFI sebesar 82 juta pon tembaga dan 116 ribu ons emas pada kuartal I 2026. Angka itu lebih rendah dibandingkan volume penjualan kuartal I 2025 yang mencapai 290 juta pon tembaga dan 125 ribu ons emas.
“Penurunan ini mencerminkan tingkat operasi yang lebih rendah setelah insiden aliran lumpur pada September 2025,” kata FCX dalam laporan perusahaan dikutip Jumat (24/4).




