Artemisinin Obat Malaria Terbaik Dunia yang Lahir dari Naskah China Kuno

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Di suatu malam tahun 1971, seorang ilmuwan perempuan di Beijing dengan tenang menjadi orang pertama yang menyuntikkan sendiri senyawa yang belum pernah diuji pada manusia ke dalam tubuhnya. Bukan karena terpaksa. Tapi karena ia percaya pada apa yang sudah ia temukan. Senyawa itu adalah artemisinin, obat malaria yang kini ditetapkan WHO sebagai lini pertama pengobatan malaria di seluruh dunia. Dan perjalanan penemuannya dimulai bukan di laboratorium modern, tapi dari naskah pengobatan Cina yang ditulis lebih dari 1.700 tahun lalu.

Artemisinin Obat Malaria yang Berawal dari Krisis Perang Vietnam

Untuk memahami mengapa artemisinin ditemukan, kita perlu kembali ke era 1960-an ketika Perang Vietnam sedang berkecamuk. Baik Amerika Serikat maupun China sama-sama putus asa mencari obat malaria yang lebih baik. Parasit penyebab malaria sudah kebal terhadap obat-obatan yang ada, dan malaria menginfeksi separuh dari beberapa unit militer Amerika di Vietnam.

Di sisi China, pemerintah meluncurkan proyek rahasia bernama Proyek 523 khusus untuk menemukan pengobatan malaria baru. Tu Youyou memimpin Proyek 523 ini, yang bertujuan mengembangkan pengobatan efektif untuk malaria yang semakin resisten terhadap obat-obatan yang ada. Ia ditunjuk bukan karena gelarnya yang tinggi, tapi karena keahliannya yang langka di persimpangan antara farmasi modern dan pengobatan tradisional Cina.

Kunci Ada di Naskah Kuno yang Hampir Terlupakan

Tu Youyou melakukan sesuatu yang tidak lazim untuk ilmuwan di zamannya. Ia tidak hanya mencari di jurnal ilmiah modern. Ia menggali ratusan naskah pengobatan tradisional Cina, mencari petunjuk yang mungkin sudah ditinggalkan para tabib berabad-abad lalu.

Penggunaan tanaman Artemisia annua dalam pengobatan tradisional Cina untuk mengatasi demam bisa ditelusuri kembali ke buku "Zhou Hou Bei Ji Fang" karya Ge Hong yang ditulis pada 340 Masehi. Berdasarkan petunjuk Ge Hong yang menyebutkan merendam sejumput qinghao dalam dua liter air, memeras jusnya, dan meminumnya seluruhnya, metode ekstraksi suhu rendah untuk tanaman tersebut dikembangkan.

Di sinilah momen paling krusial terjadi. Ekstraksi awal Tim Tu menggunakan metode standar dengan suhu tinggi selalu gagal. Tanaman itu seperti tidak bereaksi. Sampai Tu menyadari bahwa resep kuno meminta perendaman tanaman, bukan perebusan. Ia beralasan bahwa panas tinggi mungkin merusak senyawa aktifnya. Ia mencoba lagi menggunakan pelarut berbasis eter pada suhu yang lebih rendah. Kali ini berhasil. Satu perubahan kecil dalam metode, terinspirasi dari catatan seorang tabib yang hidup 1.600 tahun sebelumnya, mengubah segalanya.

Dari 100 Persen pada Tikus hingga Pasien Manusia Pertama

Setelah metode ekstraksi ditemukan, hasil pengujian pada hewan luar biasa. Artemisinin yang diekstraksi menyembuhkan 100 persen infeksi malaria, pertama pada tikus dan monyet.

Tapi jalan menuju uji klinis pada manusia tidak mudah. Di era itu, prosedur etis yang ketat untuk uji klinis belum ada di China. Pada 1971, Tu dan dua koleganya secara sukarela menjadi orang pertama yang mengonsumsi sendiri senyawa tersebut. Ketika senyawa itu kemudian diuji pada pasien malaria di Hainan, semuanya sembuh.

Keberanian untuk menjadi kelinci percobaan sendiri adalah taruhan yang mengubah sejarah pengobatan malaria dunia.

Perjalanan Panjang Menuju Pengakuan Dunia

Yang menarik dan agak menyedihkan dari kisah ini adalah betapa lambatnya dunia mengakui kontribusi Tu Youyou. Tu awalnya dilarang mempublikasikan temuan timnya karena adanya pembatasan publikasi informasi ilmiah yang berlaku di China pada saat itu. Karya tersebut baru mencapai audiens internasional pada awal 1980-an.

Butuh dua dekade sebelum WHO akhirnya merekomendasikan terapi kombinasi artemisinin sebagai lini pertama pertahanan melawan malaria. Dan baru pada 2015, puluhan tahun setelah penemuannya, Tu Youyou menerima Hadiah Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran.

Tu Youyou adalah ilmuwan daratan China pertama yang menerima Nobel dalam kategori sains. Ia meraihnya tanpa gelar doktor, tanpa gelar dokter, dan tanpa pelatihan di luar negeri. Sebuah pencapaian yang membuktikan bahwa kejeniusan tidak butuh gelar panjang untuk mengubah dunia.

Artemisinin Hari Ini dan Potensi Masa Depan

Dampak artemisinin terhadap kesehatan global tidak bisa diremehkan. Pada 2022, terdapat sekitar 249 juta kasus malaria dan 608.000 kematian akibat malaria di 85 negara di seluruh dunia. Artemisinin dengan aktivitas antimalarianya yang poten menjadi andalan utama dalam menghadapi angka yang mengkhawatirkan ini.

Tapi kisahnya belum berakhir. Ketika tim peneliti Stanford Medicine baru-baru ini mencari obat untuk fibrosis jantung, sebuah kondisi pengerasan jaringan jantung yang mendasari banyak penyakit kardiovaskular, pencarian berteknologi tinggi mereka justru membawa mereka kembali ke turunan artemisinin. Sebuah obat dengan sejarah kuno kini sedang diteliti untuk penyakit modern yang sama sekali berbeda.

Ini bukan kebetulan. Ini adalah pola yang berulang dalam sejarah farmasi yaitu kearifan lama yang disaring oleh sains modern menghasilkan terobosan yang tidak terduga.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Survei: Meski Chronically Online, Sebagian Gen Z Berharap Media Sosial Tidak Pernah Ada! Ada Apa?
• 9 jam lalubeautynesia.id
thumb
Rakernas Apdesi Merah Putih: 75 Ribu Desa Siap Jadi Motor Ekonomi Nasional
• 7 jam laludisway.id
thumb
ASABRI Bayar Manfaat Jaminan Kematian Lebih dari Rp167 Miliar di 2025
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Aliansi MBG Watch Geruduk BGN, Tuntut Audit dan Rombak Total Program Makan Bergizi Gratis
• 11 jam lalunarasi.tv
thumb
Kapolri soal Batas Usia Pensiun Anggota: Perlu Penjelasan agar Tak Multitafsir
• 5 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.