Di Balik Nisan Barney, Cookie, dan Fluffy, Ada Kisah Kehilangan yang Nyata

kompas.com
12 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Di balik deretan nisan kecil yang berjajar rapi di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan, tersimpan ratusan kisah tentang kehilangan, kasih sayang, dan cara manusia mengenang sahabat berbulu yang pernah menemani hidup mereka.

Taman Makam Satwa di Pondok Pengayom Satwa (PPS) bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir bagi anjing, kucing, kelinci, atau burung peliharaan, melainkan juga ruang duka yang memperlihatkan betapa erat hubungan manusia dengan hewan kesayangannya.

Baca juga: Saat Anabul Jadi Keluarga, Pemakaman Hewan Kini Jadi Kebutuhan Warga Jakarta

Di tempat ini, pemilik satwa tidak hanya datang untuk menguburkan anak bulu (anabul) mereka.

Sebagian kembali berziarah pada hari ketujuh, hari ke-40, hari ke-100, bahkan saat ulang tahun hewan kesayangannya.

Baca juga: Psikolog: Duka Kehilangan Hewan Peliharaan Bisa Setara dengan Kehilangan Anggota Keluarga

Tradisi yang lazim dilakukan untuk manusia itu perlahan menemukan bentuk baru di tengah masyarakat urban yang semakin menganggap hewan sebagai bagian dari keluarga.

Selama hampir empat dekade bekerja di Pondok Pengayom Satwa, Sumadi menjadi saksi perubahan tersebut.

Pria yang mulai bekerja sejak 1988 itu menyimpan banyak cerita tentang bagaimana pemilik satwa mengekspresikan kesedihan mereka saat kehilangan hewan kesayangan.

“Banyak sekali yang menangis. Ada yang sampai guling-guling di tanah karena enggak rela ditinggal hewannya,” ujar Sumadi saat ditemui Kompas.com di area makam satwa, Senin (8/6/2026).

Menurut dia, kesedihan para pemilik sering kali tidak berbeda dengan kehilangan anggota keluarga.

Ada yang datang setiap hari selama sepekan setelah pemakaman hanya untuk memastikan makam hewan kesayangannya tetap terawat.

“Pernah juga ada yang datang tujuh hari berturut-turut. Ada yang memperingati tujuh hari, 40 hari, sampai 100 hari seperti tradisi manusia,” kata Sumadi.

Tidak sedikit pula yang memilih cara lebih personal untuk mengenang anabul mereka.

Beberapa pemilik datang saat hari ulang tahun hewan kesayangannya dan membawa makanan untuk dibagikan kepada anjing serta kucing yang masih tinggal di shelter Pondok Pengayom Satwa.

“Kalau ulang tahun hewannya, mereka datang bawa makanan. Dibagikan ke hewan-hewan yang ada di shelter. Jadi seperti bentuk mengenang dan berbagi,” tutur Sumadi.

Ia juga pernah menjumpai pemilik yang datang membawa dupa, bunga, hingga uang yang diletakkan di sekitar makam sesuai kepercayaan masing-masing. Pengelola membiarkan praktik tersebut selama tidak mengganggu pengunjung lain.

Fenomena itu memperlihatkan bagaimana makam satwa tidak lagi sekadar fungsi praktis sebagai tempat penguburan, tetapi juga menjadi ruang memorial bagi para pemilik yang sedang berproses menerima kehilangan.

Berdasarkan pengamatan Kompas.com, kompleks makam yang berada di bagian belakang klinik satwa itu tampak teduh dengan pepohonan rindang yang menaungi ratusan nisan.

Sebagian nisan dibuat sederhana menggunakan marmer putih dengan ukiran nama dan tanggal kematian.

Namun, ada pula makam yang dihiasi foto berwarna, batu marmer hitam premium, hingga atap kecil untuk melindungi pusara dari panas dan hujan.

Nama-nama seperti Barney, Cookie, Grey, Fluffy, hingga Hinata terukir di sana. Beberapa nisan memuat pesan singkat yang menggambarkan kerinduan pemiliknya, seperti “We Always Love You”, “Rest in Peace”, dan “Thank You for Everything”.

Ketika Kehilangan Anabul Terasa Seperti Kehilangan Keluarga

KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Makam hewan peliharaan atas nama Gio dan Bona yang dikuburkan satu liang di Pondok Pengayom Satwa Ragunan, Jakarta Selatan, Senin (8/6/2026).
Bagi Rani (34), makam satwa menjadi bagian penting dari proses menerima kepergian Momo, kucing yang telah menemaninya selama hampir 11 tahun.

Momo bukan sekadar hewan peliharaan. Kucing yang ditemukan di selokan dekat kontrakannya pada 2013 itu menjadi teman hidup di masa-masa sulit.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

“Waktu ibu meninggal tahun 2018, saya tinggal sendiri. Pulang kerja enggak ada siapa-siapa. Yang nyambut ya dia,” kata Rani saat dihubungi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kata Pemerintah dan DPR soal Harga Pertamax Naik, PDI-P Kecewa
• 11 jam lalukompas.com
thumb
Net Sell Asing Capai Rp 5,57 Triliun saat IHSG Menguat, Kenapa?
• 7 jam lalukatadata.co.id
thumb
Bikin Ngilu, Lengan Bocah di Cimahi Tertancap Pagar Saat Kejar Layangan Putus
• 21 jam laludetik.com
thumb
Banyak Aset Pemprov DKI Jakarta Tak Dimanfaatkan Maksimal, Pramono Beberkan Alasannya
• 4 jam laluidxchannel.com
thumb
Edarkan Vape Narkoba Etomidate Senilai Rp 4,7 M, 2 Pria di Mojokerto Ditangkap
• 6 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.