Liputan6.com, Jakarta - Empat ruang kelas berwarna hijau berdiri rapi di lingkungan SDN 2 Pohgading, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sekilas, bangunan tersebut tampak seperti ruang belajar permanen pada umumnya.
Namun saat dilihat lebih dekat, dindingnya tersusun dari blok yang terbuat dari 100 persen sampah plastik daur ulang. Bangunan itu juga dirancang tahan gempa untuk membantu pemulihan pendidikan pascagempa Lombok 2018.
Advertisement
Kehadiran empat ruang kelas baru tersebut menjadi tambahan penting bagi SDN 2 Pohgading yang memiliki 342 siswa dan 14 kelompok belajar. Hingga kini, sekolah yang berdiri sejak 1956 itu masih membutuhkan ruang belajar tambahan setelah sejumlah bangunannya mengalami kerusakan berat akibat gempa bumi berkekuatan 7,0 SR pada 2018.
Kepala SDN 2 Pohgading, Rusman, mengatakan empat ruang kelas di sekolahnya rusak berat akibat gempa sehingga tidak lagi layak digunakan. Selama bertahun-tahun, ratusan siswa terpaksa belajar di bangunan sementara yang kondisinya jauh dari ideal.
"Jadi dulu ini kan sekolah biasa seperti pada umumnya gitu ya. Kenapa ini dibangun? Karena dulu dampak gempa. Jadi dampak gempa yang berkekuatan 7,0 SR dulu menghancurkan bangunan ini, sehingga proses belajar mengajar ya kita dapati kelas sementara," kata Rusman di lokasi, Rabu (10/6/2026).




