Bisnis.com, JAKARTA — Setiap hari, rangkaian Commuter Line Rangkasbitung atau Green Line dipadati ribuan komuter yang bergerak dari kawasan penyangga Jakarta menuju pusat aktivitas di ibu kota. Di tengah pesatnya pembangunan perumahan dari sektor barat Jabodetabek hingga Rangkasbitung, pertumbuhan jumlah penumpang kini melaju lebih cepat dibandingkan peningkatan kapasitas layanan.
Kondisi itu mulai terlihat dari tingkat kepadatan yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Di saat permintaan perjalanan melonjak, kapasitas lintas masih dibatasi oleh keterbatasan pasokan listrik dan sistem persinyalan yang belum sepenuhnya modern.
Data PT Kereta Api Indonesia (Persero) menunjukkan jumlah pelanggan Green Line meningkat dari 43,31 juta orang pada 2022 menjadi 77,55 juta orang sepanjang 2025. Sementara itu, hanya dalam periode Januari–Mei 2026, jumlah pengguna telah mencapai 33,39 juta pelanggan.
Lonjakan tersebut menjadikan lintas Tanah Abang–Rangkasbitung sebagai salah satu koridor dengan tekanan kapasitas terbesar di jaringan KRL Jabodetabek. Tingkat okupansi pada jam sibuk mencapai sekitar 161%, melampaui lintas Bogor yang berada di kisaran 130% dan Bekasi/Cikarang sekitar 140%.
Di balik tingginya angka okupansi itu, KAI mengakui kapasitas sarana dan infrastruktur belum sepenuhnya mampu mengimbangi pertumbuhan permintaan masyarakat.
Tren Pengguna Green Line Tanah Abang-Rangkasbitung 2021-2026
Tahun Pengguna (orang) 2021 42.110.651 2022 43.317.716 2023 62.085.471 2024 69.999.362 2025 77.552.716 2026* 33.390.000Sumber: KCI, diolah
*Januari-Mei 2026
Salah satu kendala utama berada pada sistem kelistrikan lintas Green Line. Saat ini, pasokan daya masih berada di level 3.000 volt, lebih rendah dibandingkan lintas Bogor dan Bekasi yang telah menggunakan daya 4.000 volt.
Kondisi tersebut membuat rangkaian 12 kereta atau SF12 belum dapat dioperasikan secara optimal. Akibatnya, kapasitas layanan masih bertumpu pada rangkaian 8 dan 10 kereta. Seluruh rangkaian baru yang datang, baik produksi PT INKA maupun impor dari China, juga belum dapat dimanfaatkan di lintas ini karena seluruhnya menggunakan formasi SF12.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, KAI bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan menyiapkan penambahan 11 gardu traksi di lintas Tanah Abang–Rangkasbitung. Penguatan sistem listrik aliran atas menjadi prasyarat utama sebelum rangkaian yang lebih panjang dapat dioperasikan secara penuh.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan perseroan masih menunggu kesiapan infrastruktur sebelum menjalankan SF12 secara optimal.
Harapannya, peningkatan sistem persinyalan, penambahan kapasitas rangkaian, serta pengurangan headway dapat mulai terealisasi tahun ini.
“Kami upayakan tahun ini. Ini masih uji coba. Jadi untuk menambah kapasitas itu kami dapat menambah SF-nya dari 8 ke 10 menjadi 12 atau memperpendek headway,” ujarnya, Rabu (10/6/2026).
Menurut Anne, KAI telah melakukan uji coba SF12 dan terus mengevaluasi kesiapan gardu traksi untuk mendukung operasional rangkaian yang lebih panjang maupun pengurangan interval perjalanan.
Peningkatan kapasitas Green Line menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengakomodasi pertumbuhan pengguna KRL Jabodetabek. Saat ini jumlah penumpang harian telah konsisten menembus 1 juta orang. Bahkan pada akhir pekan, jumlah pengguna yang sebelumnya berkisar 600.000 orang kini kerap mencapai 800.000 orang.
Selain persoalan listrik, tantangan lain berada pada sistem persinyalan. Sebagian lintas Rangkasbitung masih menggunakan pola blok tertutup yang membatasi jumlah perjalanan kereta dalam satu lintas operasi.
Dampaknya terlihat pada interval perjalanan yang masih berada di kisaran 10 menit. Angka tersebut jauh lebih panjang dibandingkan lintas Bogor dan Bekasi yang mampu melayani perjalanan dengan headway sekitar tiga hingga empat menit.
Modernisasi persinyalan diharapkan dapat membuka ruang bagi penambahan frekuensi perjalanan, mengurangi waktu tunggu, sekaligus mendistribusikan penumpang secara lebih merata.
Permintaan Melonjak, Kapasitas TertinggalKetua Forum Transportasi Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Deddy Herlambang menilai keterbatasan kapasitas Green Line merupakan akumulasi dari persoalan persinyalan dan pasokan listrik yang belum memadai.
Menurutnya, tantangan tersebut makin mendesak karena pembangunan kawasan permukiman di sepanjang koridor rel terus berlangsung. Penambahan hunian baru dari Bintaro hingga Rangkasbitung berpotensi memperlebar kesenjangan antara permintaan dan kapasitas layanan apabila peningkatan infrastruktur tidak segera terealisasi.
“Namun jumlah perjalanan dan jumlah rangkaian tidak bisa bertambah, sehingga risiko KRL eksisting saat ini terlalu over capacity pada jam sibuk pagi,” katanya.
Dia menilai peningkatan kapasitas KRL akan memberikan efek berantai terhadap minat masyarakat menggunakan transportasi publik. Perjalanan yang lebih nyaman dan waktu tunggu yang lebih singkat berpotensi menarik lebih banyak pengguna baru.
Namun, Deddy mengingatkan bahwa persoalan ini tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah pusat semata. Diperlukan koordinasi yang lebih erat antara pemerintah pusat dan daerah, termasuk penyediaan layanan pengumpan menuju stasiun serta dukungan pendanaan transportasi publik.
Di lapangan, dampak keterbatasan kapasitas sudah dirasakan langsung oleh pengguna.
Fami (27), pengguna KRL dari Parung Panjang, mengatakan kepadatan rangkaian telah menjadi pemandangan rutin pada jam sibuk pagi.
“Padat banget, kayak semisal di waktu pagi, bahkan pagi di jam 6 pun rangkaian udah padat banget,” ujarnya.
Menurut dia, situasi makin sulit ketika kereta memasuki stasiun-stasiun dengan jumlah penumpang tinggi seperti Jurangmangu. Penumpang tetap berusaha masuk meski kondisi di dalam rangkaian sudah penuh.
“Orang-orang tetap maksain buat masuk dan ini sebenarnya bahaya banget, makin desek-desekan dan pendingin udaranya jadi enggak kerasa karena berebut oksigen,” keluhnya.
Karena itu, rencana penambahan rangkaian maupun pengurangan headway disambut positif oleh para pengguna. Dengan kapasitas yang lebih besar dan waktu tunggu yang lebih singkat, perjalanan harian di Green Line diharapkan tidak lagi identik dengan berdesakan sejak pagi hari.
“Senang banget kalau rangkaian ditambah karena sekarang juga sudah banyak perumahan di daerah Green Line. Enggak perlu terlalu berdesakan dan estimasi nunggu kereta jadi lebih cepat,” katanya.





