HARIAN.FAJAR.CO.ID, MONTERREY—Piala Dunia 2026 sudah di depan mata. Ini adalah edisi terbesar sepanjang sejarah dan banyak yang berharap kejutan.
Dengan format baru 48 negara peserta, peluang kejutan selama turnamen memang sangat mungkin. Termasuk dari tim-tim yang mendapat label kuda hitam.
Paling tidak, satu atau dua tim yang tidak diunggulkan akan mengubah prediksi dan melangkah jauh di Amerika Utara pada turnamen sepak bola terakbar empat tahunan ini.
Berbicara soal kuda hitam, Jepang berada di posisi teratas pembicaraan jelang kickoff Piala Dunia 2026 ini. Tim asuhan Hajime Moriyasu ini dianggap para pengamat sepak bola Asia lebih baik daripada Piala Dunia 2022.
Di Piala Dunia Qatar empat tahun lalu, Tim Samurai Biru mampu mengalahkan Spanyol dan Jerman di grup mereka sebelum kalah adu penalti dari Kroasia. Jadi, jika penilaian pengamat tepat, mereka benar-benar akan jadi ancaman nyata meski jejak sejarah memperlihatkan bahwa tim Samurai Biru belum pernah berhasil melewati Babak 16 Besar Piala Dunia.
Hajime Moriyasu sendiri datang ke arena Piala Dunia dengan kepercayaan diri tinggi. Ia bahkan tak ragu menyatakan secara terbuka bahwa tujuan Jepang adalah memenangkan Piala Dunia.
“Menjadi juara dunia bukanlah hal mudah. Saya pikir semua orang di tim dan semua pendukung kami memahami itu. Tetapi kami ingin lebih banyak orang di seluruh Jepang mendukung kami,” tegasnya dikutip dari The Japan Times.
Ia menyatakan bahwa timnya akan bertarung habis-habisan dari awal turnamen. “Para pemain akan memberikan segalanya di setiap pertandingan, berjuang dengan berani dan tangguh hingga akhir,” ujarnya.
Namun, seperti kata sang pelatih, jalan yang sulit menanti mereka. Bahkan, di Grup F, mereka sudah harus menghadapi Belanda, Swedia, dan Tunisia.
Berada di peringkat 15 FIFA jelang turnamen, Senegal bisa dibilang tim terbaik Afrika dan pantas mendapat respek dari tim mana pun. Skuad utama Senegal dipenuhi pemain berkualitas dari lima liga top Eropa dan kemenangan 3-1 atas Inggris dalam laga persahabatan tahun lalu menunjukkan bahwa mereka sangat berbahaya.
Seperti dikutip dari The National, Senegal cepat, terampil, dan tidak terduga. Mereka memiliki daya serang untuk merepotkan bahkan tim-tim papan atas sekalipun.
Talenta penyerang seperti Ismaila Sarr dan Iliman Ndiaye sudah dikenal luas oleh penggemar bola, terutama Liga Inggris dan siap menunjukkan kemampuan mereka di panggung dunia.
Masih dari Benua Afrika, ada Maroko.
Seandainya bukan karena pengunduran diri Walid Regragui, mungkin lebih banyak pengamat akan membicarakan semifinalis Piala Dunia 2022 ini.
Regragui mengatur prestasi bersejarah itu empat tahun lalu tetapi mengundurkan diri setelah Piala Afrika Januari lalu membuat hubungannya dengan federasi menjadi tegang.
Mohamed Ouahbi telah mengambil alih dan akan memimpin skuad yang bertalenta musim panas ini. Ia memenangkan Piala Dunia U-20 tahun lalu, mengalahkan Argentina 2-0 di final.
Ini adalah tim yang penuh dengan pemain sepak bola yang menarik dan teknis seperti Bilal El Khannouss, Ismail Saibari, Achraf Hakimi, dan Brahim Diaz. Dengan skuad mereka, Maroko hampir pasti sekali lagi akan menjadi ancaman.
Mewakili Amerika Selatan, Kolombia hampir dipastikan akan menjadi tontonan yang hebat mengingat banyaknya talenta menyerang yang luar biasa yang mereka miliki saat ini.
Siapa yang tidak ingin menonton tim yang memiliki James Rodriguez, Juan Fernando Quintero, dan Luis Diaz? Mereka juga punya talenta seperti bek kanan Daniel Munoz dan striker Luis Suarez, serta pilar lain yang mampu memberikan dampak besar.
Memiliki pemain seperti Erling Haaland, Martin Odegaard, Alexander Sorloth, Oscar Bobb, dan Antonio Nusa, memprediksi Norwegia sebagai salah satu calon kejutan di Piala Dunia 2026 jelas tidak mengejutkan.
Ini adalah tim Norwegia terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Sukses mereka mengalahkan Italia dalam persaingan kualifikasi menjadi bukti nyata bagaimana berbahayanya tim ini.
Mewakili tim tuan rumah, Meksiko yang dipandu pelatih veteran berpengalaman Javier Aguirre akan menjadi lawan sulit bagi siapa pun dan berpeluang mengulangi pencapaian perempat final yang mereka raih pada tahun 1970 dan 1986 ketika menjadi tuan rumah turnamen ini.
Tanpa perlu kampanye kualifikasi, El Tri mengandalkan pertandingan persahabatan untuk membangun momentum. Dan meskipun standar kompetisi sangat bervariasi, mereka tak terkalahkan dalam tujuh pertandingan, dengan enam kali tanpa kebobolan.
Rentetan hasil bagus itu termasuk imbang melawan Belgia dan Portugal. Di kandang sendiri di Stadion Azteca, mereka akan menjadi lawan yang sangat tangguh dan harusnya akan melenggang ke babak sistem gugur. (amr)





