Ketergantungan Impor dan Rupiah Melemah, Nasib Perajin Tahu Jakut Menjaga Usaha

kompas.com
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah tumpukan karung kacang kedelai di sudut pabrik tahu Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara, terselimut kegelisahan.

Kegelisahan itu dirasakan oleh pengelola pabrik rumahan dan perajin tahu sejak beberapa bulan belakangan ini, karena harga kedelai terus naik.

Pengelola Pabrik Tahu bernama Sugeng (42) mengatakan, kenaikan harga kacang kedelai sudah terjadi sebelum bulan Ramadhan tahun 2026 hingga saat ini.

"Sekarang Rp 11.000 per kilogram, padahal sebelumnya hanya Rp 9.300 per kilo," kata Sugeng ketika diwawancarai di lokasi, Selasa (9/6/2026). Meski kenaikannya belum mencapai Rp 2.000, Sugeng mengaku cukup terbebani selama beberapa bulan terakhir.

Pengaruh pelemahan rupiah

Peneliti Pusat Industri, Perdagangan dan Investasi INDEF Agung Satria Permana, mengatakan mahalnya harga kedelai juga disebabkan karena melemahnya rupiah.

Pasalnya, pasokan kedelai Indonesia sebagian besar masih bergantung pada impor pada saat ini.

"Ketika rupiah melemah, harga kedelai impor dalam rupiah otomatis lebih mahal dan pada akhirnya meningkatkan total biaya produksi," ungkap Agung ketika dihubungi Kompas.com, Kamis.

Baca juga: Potret Pabrik Tahu Rumahan Jakarta, Bertahan di Tengah Lonjakan Harga Kedelai

Tapi tekanan pabrik tahu tersebut berlipat ganda, karena bukan hanya rupiah yang melemah, namun harga kedelai global juga mengalami kenaikan.

Harga kedelai global berikisar 410 US Dollar per ton atau setara Rp 7.373.440.

Artinya, ada kenaikan sekitar 12 persen dari sebelumnya.

Kenaikan harga kedelai secara global itu disebabkan karena adanya konflik geopolitik di Timur Tengah.

Sementara negara-negara pemasok kedelai berasal dari Timur Tengah, sehingga tidak heran adanya konflik geopolitik itu memengaruhi harga kedelai secara global.

"Dengan demikian, pelemahan rupiah dan kenaikan harga kedelai global menciptakan tekanan ganda bagi produsen tahu," sambung Agung.

KOMPAS.com/ SHINTA DWI AYU Pabrik tahu rumahan di Cilincing, Jakarta Utara, yang bertahan di tengah lonjakan harga. Selasa, (9/6/2026).

Kondisi yang harus dihadapi para industri pabrik tahu rumahan semakin sulit, karena substitusi ke kedelai lokal tidak mudah dilakukan.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Jumlah dan kualitas kedelai lokal sampai saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan industri di Indonesia, sehingga banyak pelaku usaha yang terpaksa masih mengandalkan impor.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cherrybelle Mendadak Viral Lagi, Jejak Lama Sarwendah Jadi Bahan Gunjingan Netizen
• 13 jam laluviva.co.id
thumb
SMAN 1 Kota Bekasi Diserbu Pendaftar Usai Jadi Sekolah Maung, Bakal Adaptasi Kurikulum Cambridge
• 16 jam lalukompas.com
thumb
Ruben Onsu Sentil Giorgio Antonio soal Kedekatan dengan Anak-anaknya: Saya Tidak Akan Tinggal Diam
• 6 jam laluviva.co.id
thumb
ToolGen Resmikan Fasilitas Uji Lapangan Canggih di Osong, Lengkapi Platform Komersialisasi "Dari Laboratorium ke Lahan" untuk Pasar SAF
• 3 jam laluantaranews.com
thumb
Puji Pengelolaan Sampah RW 07 Joglo, Pramono bakal Replikasi di Ciangir
• 1 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.