PT Huayou Indonesia memanfaatkan sisa uap panas dari proses produksi asam sulfat untuk membangkitkan listrik melalui sistem cogeneration. Perusahaan mengklaim pemanfaatan kembali energi panas tersebut membuat rasio listrik yang diproduksi sendiri di fasilitas tersebut mencapai 77,69 persen pada 2025.
Director of Public Affairs PT Huayou Indonesia Stevanus menjelaskan, proses produksi asam sulfat yang digunakan dalam teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) menghasilkan uap panas (steam) yang kemudian dimanfaatkan kembali sebagai sumber energi.
"Steam ini sebagian kami pakai untuk produksi HPAL dan sebagian besar uap sisa, dalam tanda kutip waste, kami manfaatkan untuk pembangkitan listrik," kata Stevanus dalam diskusi CEO Talks: Industrial War Room: Winning the War on Waste through Circular Innovation di Jakarta, Kamis (11/6).
Huayou Indonesia mengoperasikan tiga pabrik asam sulfat dengan kapasitas masing-masing 800 ribu ton per tahun. Ketiga pabrik tersebut menghasilkan sisa uap panas sekitar 200 ton per jam yang dimanfaatkan melalui sistem cogeneration untuk menghasilkan listrik berkapasitas sekitar 50 megawatt (MW).
Menurut Stevanus, pemanfaatan limbah panas tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan meningkatkan efisiensi energi di fasilitas pengolahan nikel. Berdasarkan paparan perusahaan, rasio listrik yang diproduksi sendiri di fasilitas tersebut mencapai 77,69 persen pada 2025 berkat pemanfaatan kembali energi panas dari proses produksi.
Perusahaan juga mengklaim pemanfaatan limbah panas tersebut berperan dalam penurunan 31 persen emisi karbon, dari 9,11 ton CO2 ekuivalen per ton nikel pada 2023 menjadi 6,31 ton CO2 ekuivalen per ton nikel pada 2025. "Yang membuat kami menjadi salah satu penghasil nikel dengan jejak karbon paling rendah di dunia," ujar Stevanus.
Selain itu, perusahaan mencatat pemanfaatan kembali energi panas telah membantu perusahaan dalam menghemat konsumsi listrik sekitar 961 juta kilowatt-jam (kWh) dan mengurangi emisi sekitar 785.300 ton CO2.
Huayou menyebut perusahaan telah menginvestasikan sekitar Rp1,07 triliun untuk mendukung operasi yang lebih ramah lingkungan. "Perusahaan tidak segan atau tidak pelit untuk mengeluarkan investasi yang berkenaan dengan pemanfaatan energi," kata Stevanus.
Ke depan, perusahaan menargetkan peningkatan pemanfaatan sistem cogeneration. Berdasarkan paparan perusahaan, rasio listrik yang diproduksi sendiri ditargetkan meningkat menjadi lebih dari 96 persen.
PT Huayou Indonesia merupakan perusahaan asal Cina yang mulai beroperasi di Indonesia sejak 2018 dan menjadi bagian dari ekosistem industri baterai nasional. Perusahaan memiliki investasi di kawasan industri nikel di Morowali, Halmahera, dan Kolaka yang menjadi pusat pengembangan hilirisasi nikel di Indonesia.




