MALANG, KOMPAS — Peran Muhammadiyah di bidang kesehatan terus berkembang. Organisasi ini memulai pembangunan pabrik infus di Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur, dengan memanfaatkan lahan milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dari total 14 hektar lahan yang tersedia, sekitar 3 hektar dialokasikan khusus sebagai kawasan industri terpadu.
Pembangunan pabrik melalui PT Suryavena Farma Indonesia, perusahaan farmasi milik Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, menelan investasi sekitar Rp 800 miliar dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. Produksinya diproyeksikan menjadi penopang rantai pasok bagi jaringan rumah sakit dan fasilitas kesehatan milik Muhammadiyah maupun fasilitas kesehatan lainnya.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, yang hadir dalam peletakan batu pertama pembangunan pabrik tersebut, Kamis (11/6/2026), mengatakan bahwa semangat membangun pabrik infus didasari keinginan untuk memperkuat ekonomi umat dan ekonomi rakyat.
Selama ini Muhammadiyah terus memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah. Namun, menurut Haedar, sudah saatnya organisasi itu naik kelas dan memasuki sektor industri yang lebih besar. "Karena kalau bukan kita, Muhammadiyah, dan kekuatan-kekuatan lain yang memulainya, siapa lagi yang akan memulai?" ujarnya.
Menurut Haedar, ada beberapa alasan mengapa infus dipilih sebagai produk pertama. Pertama, Muhammadiyah memiliki ratusan rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang membutuhkan pasokan infus secara berkelanjutan. Jika tidak dipenuhi oleh kekuatan sendiri, kebutuhan tersebut akan terus bergantung pada pihak lain.
Kedua, pembangunan pabrik infus menjadi langkah awal yang paling memungkinkan dilakukan dalam ekosistem bisnis rumah sakit yang dimiliki Muhammadiyah. Ia meyakini, ke depan Muhammadiyah juga akan bergerak di bidang produksi obat-obatan. "Biasanya kalau kita sudah memulai sesuatu, yang lain akan mengikuti," katanya.
Pendirian pabrik infus ini merupakan manifestasi dari konsep socioreligious corporation yang dikembangkan Muhammadiyah.
Menurut Haedar, inisiatif tersebut membuktikan bahwa organisasi keagamaan mampu membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan melalui aktivitas bisnis yang dikelola secara profesional dengan orientasi utama pada kemaslahatan publik dan kontribusi bagi negara, bukan semata-mata mengejar keuntungan finansial.
"Ini bukan untuk Muhammadiyah semata, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak," ujarnya.
Lebih lanjut, Haedar mengatakan bahwa agama tidak hanya mengatur akidah dan ibadah, tetapi juga urusan muamalah dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Karena itu, keterlibatan Muhammadiyah di sektor industri medis diposisikan sebagai bentuk pengabdian yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, akuntabilitas, dan keberlanjutan guna menopang berbagai layanan pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan umat.
Sementara itu, Ketua PP Muhammadiyah Muhadjir Effendy menjelaskan bahwa Muhammadiyah sebenarnya telah memproduksi infus melalui skema maklon atau menyewa fasilitas produksi pihak lain selama dua tahun terakhir. Dengan memiliki pabrik sendiri, proses produksi akan menjadi lebih efisien dan kualitas produk dapat dikontrol lebih ketat.
Selain itu, apabila harga produk dapat ditekan lebih rendah, infus yang diproduksi tidak hanya dapat dimanfaatkan oleh rumah sakit Muhammadiyah, tetapi juga menjangkau konsumen yang lebih luas. Dengan demikian, peluang pengembangan usaha menjadi semakin besar.
"Mengenai tenaga kerja, selain bisnis inti berupa produksi infus, nantinya juga akan berkembang rantai pasok, termasuk distribusi. Sejauh ini distribusi masih bekerja sama dengan Kimia Farma. Ke depan, jika jaringan sudah cukup luas, kami akan membangun jaringan distribusi sendiri," ujarnya.
Wakil Rektor II UMM Ahmad Juanda menjelaskan, kontribusi UMM tidak berhenti pada penyediaan lahan. Ke depan, kawasan tersebut akan diintegrasikan menjadi ekosistem laboratorium Direktorat Sains dan Teknologi UMM yang mempertemukan aktivitas industri dengan fungsi tri dharma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia.
Menurut Juanda, pembangunan kawasan industri ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia usaha dalam menjawab kebutuhan strategis nasional.
"Selain mendukung layanan kesehatan, kawasan ini juga dirancang menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri sehingga mampu mencetak sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan sektor kesehatan," ujarnya.





