Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas spot melesat setelah babak belur. Harga melonjak setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan penundaan serangan.
Merujuk Refinitiv, harga emas ditutup di posisi US$ 4213,84 per troy ons. Harganya melonjak 3,5%. Kenaikan ini menjadi kabar baik setelah harganya jatuh 8,9% dalam empat hari sebelumnya.
Kenaikan 3,4% dalam sehari juga menjadi yang terbesar sejak 31 Maret 2026 (3,53%).
Emas masih menguat pada hari ini. Pada Jumat 12/6/2026) pukul 06.28 WIB, harga emas menanjak 0,5% ke US$ 4216 per troy ons.
Harga emas melonjak ditopang pelemahan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS dan dolar AS sehingga mendukung kenaikan emas yang tidak memberikan bunga dan diperdagangkan dalam mata uang dolar AS.
Indeks dolar melemah ke 99,8 atau terendah dalam enam hari.
Dolar melemah setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan serangan terhadap Iran yang semula dijadwalkan dan mengatakan bahwa AS akan segera menandatangani kesepakatan dengan negara tersebut.
Trump mengatakan kepada wartawan di Ruang Oval bahwa dia memiliki kesepakatan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.
Dia melanjutkan AS akan segera melakukan penandatanganan, dan dokumen-dokumennya sudah hampir final. Ini akan selesai dan seharusnya selesai dengan sangat cepat.
Dalam beberapa pekan terakhir, harga emas kehilangan momentum seiring konflik Iran yang kini memasuki bulan keempat mengganggu arus energi melalui Selat Hormuz.
Kondisi ini mendorong kenaikan harga minyak, dan meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh bank sentral untuk mengendalikan inflasi. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya berdampak negatif bagi emas.
Harga emas telah turun sekitar 21% sejak konflik Timur Tengah dimulai pada akhir Februari.
Sebelumnya pada Kamis, data ekonomi AS menunjukkan harga produsen (producer prices) pada Mei naik dengan laju tercepat dalam lebih dari tiga tahun. Kenaikan tersebut mencerminkan dampak perang yang terus mendorong tekanan inflasi. Data ini menyoroti besarnya beban guncangan harga energi akibat penutupan Selat Hormuz terhadap perekonomian AS.
Meskipun emas sering dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga biasanya menekan logam mulia tersebut karena emas tidak memberikan imbal hasil.
(mae/mae) Add as a preferred
source on Google




