Sekelumit Kisah Pengendara di Makassar: Pertamax Melejit, Pertalite Antre, Solar pun Sulit

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Kenaikan harga bahan bakar jenis pertamax membuat dampak signifikan ke masyarakat. Antrian Pertalite ikut mengular seiring pengguna yang beralih. Sementara itu, bahan bakar solar pun ikut sulit. Masyarakat bawah terus terdampak kebijakan pemerintah.

Umar (40) menunggu dengan kesal di balik kemudi bus di depan sebuah SPBU di Makassar, Sulawesi Selatan. Ia telah siaga selama empat jam untuk membeli biosolar, sejak gelap hingga matahari terang. Tujuannya satu: membeli biosolar subsidi agar bisa berangkat kerja kembali.

Tiba di Makassar, Jumat (12/6/2026) dini hari, ia tidak langsung pulang ke pool atau rumah. Namun, ia langsung ke SPBU untuk mengantre solar. Sejak sepekan terakhir, antrean solar mengular.

“Sampai sekarang belum ada tanda-tanda ada solar. Bisa sampai siang kita di sini,” kata ayah satu anak ini.

Padahal, ia akan berangkat menuju Toraja sore nanti. Ia khawatir tidak bisa berangkat jika tidak mendapatkan bahan bakar sesegera mungkin. “Pusing lihat situasi sekarang. Yang naik pertamax, tapi yang susah kami juga,” ujarnya.

Selama tiga hari terakhir, Wardah (38), uring-uringan seiring kenaikan harga bahan bakar pertamax. Mobilnya selama ini memakai pertamax dengan rata-rata pengeluaran Rp 378.000 setiap pekan. Harga satu liter pertamax sebesar Rp 12.600.

Baca JugaPertamax dan Suku Bunga Naik, Kaum ”Mendang-mending” Boncos

Namun, seiring kenaikan harga pertamax menjadi Rp 16.650 per liter, kini ia harus mengeluarkan Rp 500.000 setiap pekan. Situasi ini membuatnya harus menambah alokasi untuk bahan bakar dalam sebulan.

“Mana naiknya itu tiba-tiba, tidak ada pengumuman sama sekali. Jadi kesal betul,” ungkapnya. Pekerja swasta di Makassar ini menambahkan, “Kami ibu rumah tangga sudah mengatur pengeluaran setiap bulan. Ada perubahan itu berpengaruh besar terhadap alokasi yang sudah direncanakan.”

Di tempat lain, Ewin (31), baru saja mengantre pertalite untuk motornya. Pengemudik ojek daring ini harus antre lebih dari setengah jam untuk mendapatkan empat liter bahan bakar. Jumlah itu dipakai untuk menjemput penumpang, atau membawa barang setiap hari.

Hanya saja, kali ini ia merasa antrean kian panjang. Khususnya saat harga Pertamax melejit beberapa hari lalu. Semua SPBU alami penumpukan pembeli. Antrean mengular puluhan hingga ratusan meter.

Baca JugaPertamax Naik 32 Persen, Kelas Menengah Kian Terjepit

“Orang-orang pada antre pertalite jadi pasti tambah panjang. Ini yang bikin was-was kalau tiba-tiba pertalite juga naik,” ujarnya.

Sebab, situasi sekarang sudah kian mengkhawatirkan. Harga barang mulai merangkak naik perlahan. Kebutuhan rumah tangga meningkat, mulai dari kebutuhan dapur, hingga perlengkapan harian.

Menurut Ewin, kenaikan harga berdampak besar terhadap masyarakat sepertinya. Penghasilan bersih berkisar Rp 100.000 per hari pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan harian. Kenaikan harga sedikit saja telah membuat ekonominya berantakan.

“Mau ngutang siapa juga yang mau pinjamkan. Semua orang butuh sekarang,” keluhnya.

Baca JugaPertamax Prices Rise, Will People Switch to Pertalite?

Kenaikan harga Pertamax tak hanya menambah biaya bahan bakar kendaraan. Di tengah penghasilan yang cenderung stagnan dan tekanan biaya hidup yang belum mereda, lonjakan harga bahan bakar minyak nonsubsidi lebih dari 30 persen itu berpotensi mempersempit ruang belanja masyarakat kelas menengah, kelompok yang tidak menerima bantuan sosial, tetapi juga tidak cukup kuat menyerap kenaikan biaya hidup.

Permintaan tinggi

Sementara itu, Sales Branch Manager (SBM) Sulselbar I Fuel Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Muhammad Yoga Prabowo menyampaikan, antrean kendaraan yang terjadi di beberapa SPBU dipengaruhi oleh peningkatan kebutuhan Biosolar subsidi pada Juni 2026. Di saat yang bersamaan, tingginya permintaan berbagai produk BBM dari wilayah supply point Integrated Terminal Makassar menyebabkan intensitas distribusi mobil tangki meningkat.

Situasi itu juga ditambah adanya armada yang dalam program pemeliharaan berkala sehingga memerlukan penyesuaian pola pengiriman ke beberapa lembaga penyalur. ”Pertamina memastikan stok Biosolar subsidi untuk wilayah Sulawesi Selatan, khususnya Kota Makassar dan jalur lintas Sulawesi, dalam kondisi aman dan tersedia untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kami terus melakukan berbagai upaya agar penyaluran dapat berjalan optimal di tengah peningkatan konsumsi yang terjadi,” ujar Yoga.

Sebagai antisipasi, Pertamina telah menambah penyaluran Biosolar subsidi di wilayah Kota Makassar sebesar 10 hingga 15 persen dibandingkan rata-rata penyaluran normal. Selain itu, koordinasi bersama Elnusa terus dilakukan untuk mempercepat distribusi ke SPBU, termasuk melalui penambahan armada spot charter guna memperkuat kelancaran suplai di sejumlah wilayah.

Pertamina juga terus melakukan monitoring transaksi BBM subsidi jenis Biosolar maupun Pertalite secara rutin untuk memastikan penyaluran berjalan sesuai ketentuan dan dapat diterima oleh konsumen yang berhak. Di tingkat SPBU, pengaturan antrean melalui marshaling serta penambahan operator pelayanan turut dilakukan guna mendukung kelancaran pelayanan kepada masyarakat.

Sebelumnya, pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Malang, Yunan Syaifullah, mengatakan, Dampak yang bisa muncul dalam kondisi saat ini antara lain sebagai berikut. Pertama, biaya transportasi semakin tinggi. Pengguna kendaraan pribadi, pelaku usaha mikro, kurir, hingga pengemudi transportasi daring akan merasakan peningkatan biaya operasional. Bagi kelompok yang mobilitasnya tinggi, kenaikan ini dapat mengurangi daya beli karena sebagian pendapatan harus dialihkan untuk membeli BBM.

Kedua, potensi kenaikan harga barang dan jasa. Meskipun Pertamax merupakan BBM nonsubsidi, kenaikan harganya dapat memengaruhi biaya distribusi barang. Pelaku usaha akan menghitung ulang biaya operasional dan sebagian berpotensi meneruskan beban tersebut kepada konsumen melalui kenaikan harga produk.

Ketiga, perpindahan konsumen ke BBM yang lebih murah. Sebagian pengguna Pertamax kemungkinan beralih ke Pertalite atau alternatif lain yang lebih terjangkau. Jika perpindahan ini terjadi secara masif, tekanan terhadap konsumsi BBM bersubsidi dapat meningkat.

Keempat, penurunan daya beli masyarakat kelas menengah. Kelompok yang paling rentan bukan hanya masyarakat miskin, melainkan juga kelas menengah yang tidak menerima bantuan sosial tetapi harus menghadapi kenaikan berbagai kebutuhan pokok secara bersamaan. ”Kenaikan BBM sering kali menjadi faktor yang mempercepat penyesuaian pengeluaran rumah tangga,” katanya (Kompas, Rabu, 10/6/2026).


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ketua Komisi XIII DPR Jawab Pigai: Kami Apresiasi Kinerja, Bukan Anggarannya
• 22 jam laludetik.com
thumb
Pemerintah Mengevaluasi Program Makan Bergizi Gratis agar Lebih Tepat Sasaran dan Fokus pada Kelompok Prioritas
• 15 jam lalupantau.com
thumb
Makelar Audit Minta Rp 1,6 M ke Pemkab Muara Enim untuk Sulap Laporan BPK
• 22 jam laludetik.com
thumb
Bangun Spiritualitas Warga, KDM Prioritaskan Bangun Tajuk di Lingkungan
• 5 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kasus Pesta Gay di Karawang Viral di Medsos, Dedi Mulyadi Siapkan Solusi dengan Opsi Masuk Barak Militer
• 6 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.