Anindya Bakrie: Rupiah Mulai Bangkit, Dunia Usaha Percaya Ekonomi Indonesia Lebih Tangguh

viva.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menilai, penguatan rupiah dalam beberapa hari terakhir menjadi sinyal bahwa pelaku pasar mulai melihat ketahanan ekonomi Indonesia lebih baik dibandingkan sejumlah negara lain yang juga menghadapi tekanan global.

Di tengah penguatan dolar AS, gejolak pasar keuangan dunia, hingga kenaikan harga BBM nonsubsidi, dunia usaha justru melihat fundamental ekonomi nasional masih berada di jalur yang kuat.

Baca Juga :
Menlu Sugiono Ubah Arah Diplomasi RI, Tak Lagi Sekadar Urusan Politik Kini Diburu untuk Dongkrak Investasi
Diplomasi Ekonomi Prabowo di Prancis Hasilkan Komitmen USD 15 Miliar, Setara 25 Persen FDI RI

Karena itu, fokus utama saat ini adalah memperbesar arus investasi dan perdagangan untuk memperkuat posisi rupiah secara berkelanjutan.

“Pertama-tama kalau mengenai kenaikan Rupiah, kita tahu bahwa fundamental ekonomi kita kuat. Dan memang kenaikan Rupiah ini mulai dilihat bahwa ternyata Indonesia ekonominya lebih resiliensi daripada yang lain-lain sampaikan,” kata Anindya usai acara Kadin Diplomatic Economic Breakfast Meeting di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Jumat 12 Juni 2026.

Sebagai informasi, IHSG dibuka melonjak 81,33 poin atau 1,38 persen ke level 5.967 pada pukul 09.50 WIB. Pada saat yang sama, rupiah berhasil kembali menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat setelah menguat ke posisi Rp17.937 per dolar AS.

Menurut Anindya, penguatan rupiah yang terjadi saat ini perlu dijaga dengan meningkatkan masuknya devisa melalui investasi dan ekspor. Langkah tersebut dinilai menjadi fondasi penting agar penguatan nilai tukar tidak hanya bersifat sementara akibat sentimen pasar.

“Nah, tapi yang paling penting adalah bagaimana kita meningkatkan investasi dan juga perdagangan supaya membawa lebih banyak lagi apa nilai tukar asing ke Indonesia. Dan ini akan membuat penguatan yang lebih jangka panjang,” ujarnya.

Selain menyoroti nilai tukar, Anindya juga menanggapi dampak kenaikan harga Pertamax yang mulai berlaku sejak 10 Juni 2026. Menurut dia, kondisi inflasi Indonesia masih relatif terkendali dibandingkan banyak negara lain sehingga ruang ekonomi domestik masih cukup kuat menghadapi penyesuaian harga energi.

“Nah, kedua, kalau misal kenaikan harga, kita lihat dibanding negara-negara lain, kita masih inflasinya itu di bawah rata-rata,” katanya.

Meski mengakui kelompok masyarakat menengah ikut merasakan dampak kenaikan harga, Anindya menilai kebijakan pemerintah mempertahankan harga BBM subsidi dan LPG subsidi menjadi bantalan penting untuk menjaga daya beli masyarakat yang paling rentan.

Baca Juga :
Rupiah Terus Menguat ke Rp 17.916, Kenaikan BI Rate Disambut Positif Pelaku Pasar
Usai Dongkrak BI Rate ke 5,50 Persen, BI Sebut Aliran Modal Asing Mulai Masuk via SRBI
Rupiah Menguat ke Rp 17.928 Meski OECD Proyeksi soal Potensi Pelebaran Defisit APBN RI 2026

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kejagung Masih Teliti Permohonan Justice Collaborator Sony Sonjaya, Tersangka Kasus Korupsi MBG
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Populer: soal Opsi Pengurangan Anggaran MBG; Trump Senang dengan Inflasi AS
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
KPK Tetapkan Lima Tersangka Terkait OTT Pejabat BPK
• 23 jam laluokezone.com
thumb
Polisi dan TNI Berjaga Amankan Rencana Demonstrasi BEM UI di Bundaran HI, Imbas Anjloknya Kurs Rupiah
• 3 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Harga BBM Naik, Penjualan Mobil Listrik Bakal Makin Laris?
• 19 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.