JAKARTA, KOMPAS.com - Sosok Dhery Rachman (43) tampak berjalan santai bersama ribuan pelari yang baru saja menamatkan rute lari dalam gelaran BTN Jakarta International Marathon (Jakim) 2026 pada Sabtu (13/6/2026) pagi di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Pusat.
Menariknya, berbeda dengan mayoritas peserta lain, warga Jakarta Barat yang sehari-harinya bekerja sebagai karyawan swasta di kawasan SCBD ini baru saja menuntaskan kategori 10K dengan satu kaki dan bantuan sepasang tongkat.
Dhery mengaku mulai menekuni dunia lari sejak tahun 2024.
Baca juga: Pelari Lansia di Garis Finish BTN Jakim 2026, Lari Jadi Investasi Saat Tua Nanti
Keputusannya untuk terjun ke lintasan maraton bermula dari rasa penasarannya melihat tren olahraga lari di Indonesia yang jarang melibatkan penyandang disabilitas pengguna tongkat.
"Saya tanya ke temen-temen pelari, jawabannya adalah kalau di luar (negeri) sih ada aja. Cuma kalo di Indonesia temen-temen tuh pada mikir dan jawabnya pada ya enggak dilarang sih," ujar Dhery saat ditemui Kompas.com, Sabtu.
"Memang istilahnya masih grey area, tapi karena tidak ada larangan, akhirnya saya berani mencoba ikut sejak 2024," sambung dia.
Ia melatih dirinya secara mandiri dengan melihat referensi dari YouTube.
"(Kondisi) saya kan unik ya. Jadi saya enggak ada coach, saya masih melatih diri saya sendiri," imbuh dia.
Baca juga: Asmara Hancur Jadi Pelari Kalceur, Motivasi Warga Bekasi Ikut Lari 10K di Jakarta
Teknis kekuatan tangan dan enduranceBerlari dengan satu kaki dan tongkat memberikan tantangan fisik yang berbeda.
Tumpuan kekuatan utamanya berpindah pada otot tangan dan daya tahan tubuh bagian atas.
"Latihannya luar biasa karena memang saya mesti kayak di push-up, rowing, di push-up rowing. Jadi mesti latihannya tuh pakai latihan beban, latihan kalistenik, terus juga mesti endurance. Ini kan lama, jadi saya bener-bener (kalau lari) kayak di push-up gitu kayak ditahan terus habis selama 10 kilo dan itu enggak boleh berhenti," jelas Dhery.
Terkait penggunaan alat bantu, Dhery mengaku masih menggunakan tongkat karena harga kaki prostetik khusus lari tergolong tinggi.
Hal itu tidak menyurutkan ambisinya untuk terus naik kelas ke kategori yang lebih jauh.
"Saya lagi nabung. Tapi mau juga. Target saya berikutnya mau mencoba jarak 21 kilometer atau half marathon," ungkap dia.
Bagi Dhery, keberhasilannya mencapai garis finish adalah pesan inklusivitas bagi warga Jakarta.





