Usulan Jalan Tengah Pengelolaan Blok Andaman, Hybrid di Darat dan Laut

viva.co.id
7 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Kekayaan gas South Andaman senilai triliunan rupiah sudah di depan mata. Tapi pertanyaan yang mengemuka adalah apakah kekayaan itu hanya akan numpang lewat di laut lepas Aceh, atau benar-benar mendarat dan menghidupi masyarakat Aceh?

Saat ini, Plan of Development (POD) South Andaman ada di meja Menteri ESDM. Ada 2 pilihan ekstrim. Pertama, semua gas diproses di laut sebagaimana usulan Mubadala, atau semua diproses di darat sebagaimana usulan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf. Keduanya memiliki risiko.

Baca Juga :
Bambang Patijaya Apresiasi Kepastian Pasokan Gas Nasional, Dorong Keberlanjutan HGBT untuk Daya Saing Industri
Upaya PNM Hadirkan Masa Depan Generasi Muda Lewat Pelestarian Laut

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (ASPRINDO) yang juga sekaligus pengusaha Aceh, Jose Rizal, mengajak Gubernur Aceh memilih jalan tengah yang adil. Menurutnya, skema hybrid merupakan pilihan yang paling realistis. 

“Investor dipermudah, pemerintah pusat tidak dirugikan, dan masyarakat Aceh juga tetap mendapatkan benefit jangka panjang,” katanya dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu 13 Juni 2026.

FPSO vs OPF

Pemrosesan gas di laut dikenal dengan istilah FPSO (Floating Production Storage Offloading). Secara sederhana ini dipahami sebagai kilang raksasa yang mengambang di tengah laut. Gas disedot, diproses, kemudian langsung dimuat ke kapal LNG.

Proses ini cepat, biayanya relatif murah bagi investor, tapi efeknya ke darat Aceh sangat kecil. Tenaga kerja yang bisa diserap mungkin hanya ratusan.

Sementara itu, pemrosesan gas seluruhnya di darat, dikenal dengan istilah OPF (Onshore Processing Facility), kilang darat yang disarankan akan dibangun di Lhokseumawe. Gas dipipa dari laut dialirkan ke darat, kemudian diproses di Aceh.

Tentu saja, ini membutuhkan infrastruktur yang lebih kompleks. Karena itu capital expenditure (capex) tentu lebih berat. Final Investment Decision (FID) Mubadala mungkin membutuhkan waktu lebih lama. Tapi efeknya bisa menghasilkan 10 ribu lapangan kerja buat Aceh, gas murah untuk PLN dan pabrik pupuk, serta pajak daerah berputar di Aceh.

Pilih Hybrid 60:40

Agar polemik ini bisa diselesaikan, Jose Rizal menyarankan untuk mengambil jalan tengah.

“Jangan semua di laut. Jangan semua di darat. Bagi dua, 60% gas diproses di FPSO, biar investor Mubadala yakin dan FID 2026 jalan. Selebihnya, 40% gas dipipa ke OPF mini di Lhokseumawe. Cukup buat menyalakan PLTU PLN Aceh dan menghidupkan Pupuk Iskandar Muda. Ini sekaligus bisa membuka 3.000-5.000 lapangan kerja tetap untuk anak Aceh,” paparnya.

Baca Juga :
Bersih-bersih Laut dan Pesisir di 27 Daerah Operasional, ASDP Kumpulkan 13 Ton Sampah
Blok Andaman: Jangan Ulangi Sejarah, Gas Aceh Harus Berlabuh di Arun
Pemerintah Didorong Jaga Harga dan Pasokan Gas Bumi Demi Daya Saing Industri Domestik

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Abraham Samad Sebut Kejagung Wajib Usut 26 Nama terkait Dugaan Korupsi MBG
• 9 jam lalukompas.tv
thumb
Perkuat Kepedulian Lingkungan, NHM Gelar Aksi Bersih Pantai & Penghijauan
• 12 jam laludetik.com
thumb
Kepala BRIN Arif Satria Mendorong Periset Tingkatkan Kualitas Proposal demi Optimalkan Anggaran Riset Rp1,9 Triliun
• 1 jam lalupantau.com
thumb
WNA Australia Dideportasi Setelah Terbukti Menyalahgunakan ITAS Investor untuk Kelola Penginapan di Dompu
• 3 jam lalupantau.com
thumb
Perlengkapan Timnas Inggris Dicuri, Sepatu Bellingham Raib Jelang Laga Perdana Piala Dunia 2026
• 17 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.