Grid.ID - Aksi Dedi Mulyadi ingin masjid di Jabar sekedar megah mendapat sorotan. Gubernur Jawa Barat itu bahkan berharap lebih banyak kembangkan masjid Tajug.
Usut punya usut, hal itu dilakukan Dedi agar pembangunan sarana ibadah di Jawa Barat ke depan tidak lagi berorientasi pada kemegahan bangunan. Melainkan untuk hal yang lebih baik lagi.
Seperti sebagai aktivitas warga dan berfungsi sebagai pusat pembinaan masyarakat. Itulah sebabnya Dedi Mulyadi ingin masjid di Jabar tak cuma sekedar megah.
Melaikan bisa memperkuat keberadaan masjid dan tajug di tingkat kampung agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Kalau masjid-masjid yang megah itu sudah banyak di Jawa Barat. Yang diperlukan hari ini adalah mengembangkan masjid-masjid dan tajug yang ada di lingkungan masyarakat," ujar Dedi di Masjid Raya Al Jabbar dikutip Grid.ID dari TribunJabar.id, Kamis (11/6/2026).
Lebih lanjut, fungsi dari masjid tidah boleh menjadi simbol kemegahan atau hanya sekedar tempat tujuan kunjungan wisata religi. Namun harus bisa pula menjadi ruang membangun simbol kemegahan.
"Masjid harus kembali menjadi ruang yang membangun spiritualitas, memperkuat hubungan sosial, dan melahirkan perubahan perilaku di tengah masyarakat," imbuh pria yang akrab disapa KDM itu.
Ia menyoroti kecenderungan sebagian masyarakat yang datang ke masjid megah hanya untuk berwisata. Alhasil hanya dipakai untuk tempat selfie dan rekreasi.
"Kalau masjid menjadi sarana rekreasi, maka masjid hanya akan menjadi tempat selfie, bukan tempat tafakur," tutur Dedi Mulyadi.
Lebih lanjut, ia juga menilai keberhasilan syiar Islam tidak diukur dari besarnya bangunan atau ramainya pengunjung, melainkan dari perubahan sikap setelah seseorang keluar dari masjid.
Dan hal-hal itu baru bisa dicapai dan tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Seperti tidang membuang sampah sembarangan di area masjid.
"Kalau datang ke Al Jabbar tidak meninggalkan sampah, tidak membuat kesemrawutan, pulang dengan hati penuh kebahagiaan dan cinta kasih, itulah orang yang benar-benar masuk masjid," Dedi Mulyadi dikutip Grid.ID dari Kompas.com.
Terakhir, usai Dedi Mulyadi ingin mengajak masyarakat menjadikan momentum Tahun Baru Hijriah sebagai sarana introspeksi diri.
"Syiar Islam harus sejalan dengan perubahan perilaku umat Islam. Tidak temperamental, tidak emosional, tidak menebar kebencian, dan mampu menahan diri," tandasnya. (*)
Artikel Asli




