IPO Emiten Teknologi di Bursa Saham Indonesia Sepi, Kenapa?

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Initial public offering (IPO) sektor teknologi di Indonesia tercatat masih sepi pada semester I/2026. Sepinya IPO teknologi ini diperkirakan karena beberapa faktor, salah satunya karena investor yang lebih selektif saat ini.

Direktur Purwanto Asset Management Edwin Sebayang menjelaskan terdapat beberapa faktor yang membuat IPO perusahaan teknologi sepi di Indonesia. Pertama, kata dia, karena valuasi private market yang turun.

“Banyak startup yang sebelumnya berharap IPO dengan valuasi tinggi akhirnya memilih menunda karena kondisi pasar belum mendukung,” ucap Edwin, Minggu (14/6/2026).

Menurutnya, perusahaan-perusahaan tersebut tidak ingin IPO pada valuasi yang lebih rendah dibanding putaran pendanaan sebelumnya.

Faktor kedua, kata dia, karena investor asing yang lebih selektif. Dia menuturkan, saat ini investor global memiliki banyak pilihan.

Investor asing, menurutnya, bisa membeli Nvidia, Microsoft, Alphabet, Amazon, Meta, dan perusahaan AI yang memiliki profit besar dan likuiditas tinggi.

Baca Juga

  • Potret Kontras Saham Teknologi Indonesia ketika IPO SpaceX Pecahkan Rekor
  • OCBC Sekuritas Jagokan Saham Teknologi hingga Konsumer Tahun Ini
  • Berkshire Warren Buffett Jual Saham Teknologi, Beli Media Hingga Perusahaan Minyak

Akibatnya, kata dia, perusahaan teknologi di emerging market harus bekerja jauh lebih keras untuk menarik perhatian investor.

Faktor ketiga, likuiditas domestik terbatas. Untuk IPO teknologi berskala besar, kebutuhan dana sangat besar.

“Sementara kapasitas investor institusi domestik masih belum sebesar negara-negara maju,” tutur Edwin.

Lebih lanjut, Edwin juga menuturkan, Indonesia saat ini kekurangan emiten growth. Dia mengatakan, kapitalisasi pasar Indonesia saat ini masih didominasi oleh sektor perbankan, komoditas, telekomunikasi, konsumsi, dan energi.

Padahal, ucap dia, tren global menunjukkan investor asing semakin mencari eksposur pada perusahaan-perusahaan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, aerospace, hingga renewable technology.

Edwin mengatakan, Indonesia masih memiliki keterwakilan yang sangat terbatas di sektor-sektor tersebut. Akibatnya, ketika investor global ingin mendapatkan eksposur terhadap pertumbuhan teknologi dunia, mereka lebih memilih Amerika Serikat (AS), Taiwan, Korea Selatan, Jepang, dan India dibandingkan Indonesia.

Lebih lanjut, Edwin menuturkan, saat ini Indonesia perlu melakukan beberapa hal agar IPO teknologi kembali bergairah. Hal-hal tersebut seperti penurunan suku bunga global, munculnya startup yang sudah profitable, peningkatan kualitas investor institusi domestik, dan munculnya kisah sukses baru.

Edwin juga menjelaskan tantangan terbesar pasar modal Indonesia saat ini bukan sekadar kurangnya IPO teknologi, melainkan masih terbatasnya jumlah emiten growth berkualitas yang mampu menjadi tujuan investasi jangka panjang investor global. 

“Selama kesenjangan tersebut belum teratasi, daya tarik Indonesia terhadap arus modal asing kemungkinan masih akan kalah dibanding pasar yang menawarkan lebih banyak perusahaan berbasis teknologi dan inovasi,” ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menyambut Tahun Baru Islam 2026, Ini Daftar Amalan Utama di Bulan Muharam
• 18 menit lalukompas.tv
thumb
Hanya Dikabari Lewat WhatsApp, Alasan Polisi Tetap Kawal Demo BEM UI
• 4 jam laluliputan6.com
thumb
Pemkab Solok-Tanah Datar sepakat jaga kondusivitas perbatasan
• 18 jam laluantaranews.com
thumb
Meski Sibuk, Dedi Mulyadi Tetap Beri Rp40 Juta ke Kuli Bangunan di Cirebon untuk Perbaiki Rumahnya yang Reyot
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Ketika Lobster Mengubah Harapan di Desa Paccelekang
• 2 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.