JAKARTA, KOMPAS.com - Hari Minggu sore tak pernah sepi dari tawa anak-anak di kawasan flyover Tomang, Jakarta Barat setiap pekannya.
Di area taman, di bawah jalan layang Tomang, puluhan anak tampak menikmati momen belajar sambil bermain bersama.
Di sanalah aktivitas para relawan dan murid-murid bermain dan belajar bersama, di sebuah ruang kelas terbuka bernama Sekolah Anak Mentari Indonesia.
Mereka tidak belajar di dalam gedung ber-AC, melainkan di sebuah lahan terbuka beralaskan tanah, tepat di bawah naungan pohon-pohon besar yang rimbun.
Anak-anak memulai kegiatan dengan berbaris dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Baca juga: Mensos: Tidak Boleh Ada Siswa Titipan di Sekolah Rakyat pada Tahun Ajaran Baru
Setelahnya, mereka melepas sandal yang dikenakan, lalu duduk melingkar di atas terpal.
Di tengah-tengah mereka, berbagai macam buku bacaan dihamparkan begitu saja untuk dipilih dan dibaca bersama para relawan.
Para anak kelompok umur yang lebih dewasa, mulai dari SD dan SMP, mereka berpindah tempat dan duduk berjejer di lahan miring yang tersusun dari bebatuan kali di samping jalan layang.
Mereka berkumpul dan membaca buku cerita, lalu menuliskan hasil bacaannya di secarik kertas yang disediakan oleh para relawan.
Sekolah Anak Mentari Indonesia merupakan inisiasi sekolah gratis di kawasan pinggiran Jakarta yang dihidupi oleh seorang guru les privat bernama Uli Zainuddin (40), atau yang akrab disapa Kak Uli.
Sejak tahun 2009, Kak Uli dan komunitas Anak Mentari Indonesia mendedikasikan hari Minggu mereka untuk mengajar anak-anak secara sukarela.
Uli menceritakan, gerakan ini bermula dari rutinitas ia dan teman-temannya berbagi makanan kepada para pengamen dan tunawisma saat bulan Ramadhan.
Baca juga: Koperasi Lapar, Sekolah Jadi Santapannya
Namun, sebagai seseorang yang berlatar belakang guru Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD), hati Uli terenyuh melihat realitas pendidikan anak-anak para pemulung tak bisa mengenyam pendidikan.
"Akhirnya ya kami coba membuka pendidikan, supaya anak-anak pemulung itu, yang tinggal di kolong jembatan bisa belajar membaca dan berhitung," ucap dia.
Tak Lagi Ajar Anak PemulungMeski begitu, hingga saat ini, target pengajarannya berubah karena sudah tak ada lagi pemulung-pemulung yang tinggal di kolong flyover Tomang setelah ditertibkan pemerintah.
Kini, para murid di Sekolah Anak Mentari Indonesia merupakan siswa-siswi yang membutuhkan bantuan pelajaran ekstra, tetapi tidak memiliki biaya.
Hal itu dilakukan karena tuntutan kurikulum formal dirasa berlari terlalu kencang, meninggalkan anak-anak dari keluarga prasejahtera jauh di belakang.
Baca juga: Berbekal Medali Emas Matematika, Fahreyza Lolos Sekolah Maung Bekasi
"Saya ngelihat anak yang enggak tahu baca tuh kayaknya gemas banget. Umur sudah SD tuh seharusnya sudah bisa baca, karena kurikulum sekarang harus bisa membaca untuk menjawab pertanyaan panjang. Kenyataannya, anak-anak di pinggiran ini belum bisa baca," keluh Uli.
Menurut dia, salah satu alasan tak berhasilnya sistem pembelajaran di sekolah negeri ialah perbandingan jumlah guru yang tak sesuai dengan murid.
Idealnya, satu guru seharusnya hanya memegang lima murid agar pembelajarannya maksimal.





