JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus peserta yang pingsan hingga meninggal dunia dalam gelaran BTN Jakarta International Marathon (Jakim) 2026 menjadi sorotan publik.
Menanggapi hal tersebut, praktisi kesehatan masyarakat dr Ngabila Salama mengingatkan bahwa kolaps atau kematian saat maraton tidak selalu disebabkan oleh serangan jantung.
Menurut Ngabila, lari merupakan olahraga yang menyehatkan. Namun, aktivitas fisik dengan intensitas tinggi tanpa persiapan yang memadai dapat menimbulkan risiko serius.
Baca juga: Duka di BTN Jakim 2026, Sejumlah Peserta Pingsan dan 1 Meninggal
"Kematian saat maraton sering dikira selalu karena serangan jantung, padahal penyebabnya bisa bermacam-macam. Untuk edukasi masyarakat, justru penting menjelaskan bahwa lari itu sehat, tetapi olahraga ekstrem tanpa persiapan dapat berbahaya," kata Ngabila saat dihubungi Kompas.com, Senin (15/6/2026).
Ngabila menjelaskan, penyebab paling sering kematian mendadak saat lomba lari adalah sudden cardiac arrest atau henti jantung mendadak. Kondisi ini bahkan bisa terjadi pada orang yang terlihat sehat.
Pemicunya antara lain kelainan jantung bawaan, gangguan irama jantung, hingga penyakit jantung koroner yang belum terdeteksi.
Selain itu, pelari juga berisiko mengalami heat stroke atau serangan panas. Kondisi ini terjadi ketika suhu tubuh meningkat hingga lebih dari 40 derajat Celsius dan mulai memengaruhi fungsi otak.
Gejalanya meliputi kebingungan, sempoyongan, sulit merespons pertanyaan, hingga kehilangan kesadaran.
Baca juga: Sekarang Udah Finish Ya Kak, Akun Pelari BTN JAKIM Agus Putranadi Banjir Ucapan Duka
Penyebab lain yang perlu diwaspadai adalah dehidrasi berat akibat kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan selama berlari.
Namun, menurut Ngabila, terlalu banyak minum air putih juga dapat berbahaya. Kondisi yang dikenal sebagai hiponatremia terjadi ketika kadar natrium dalam darah turun drastis karena asupan cairan yang berlebihan tanpa diimbangi elektrolit.
"Justru karena terlalu banyak minum air putih tanpa elektrolit. Natrium darah turun drastis. Bisa menyebabkan kejang dan kematian," ujarnya.
Selain itu, ada pula risiko rabdomiolisis, yaitu kerusakan otot berat akibat olahraga berlebihan yang dapat berujung pada gagal ginjal akut.
Dalam kasus yang lebih jarang, peserta maraton juga bisa mengalami stroke, terutama jika memiliki faktor risiko tertentu.
Baca juga: Peserta BTN JAKIM 2026 Meninggal Dunia, Rekan Ungkap Sempat Ambruk di Km 14
Ngabila mengingatkan peserta lomba lari untuk tidak memaksakan diri apabila mengalami gejala tertentu selama berlari.
Beberapa tanda bahaya yang harus diwaspadai antara lain nyeri dada, sesak napas yang tidak wajar, pusing berat, pandangan gelap, jantung berdebar tidak teratur, kebingungan, mual hebat, hingga kram di seluruh tubuh.




