JAKARTA, KOMPAS.com – Listrik telah menjadi kebutuhan dasar dalam kehidupan sehari-hari. Di rumah, hampir semua aktivitas kini bergantung pada listrik, mulai dari penerangan, pengisian daya gawai, hingga pengoperasian mesin pompa air, AC, dan pemanas air.
Di balik manfaatnya, listrik juga menyimpan risiko yang kerap luput dari perhatian. Selama lampu menyala, stopkontak berfungsi, dan miniature circuit breaker (MCB) tidak turun, instalasi listrik di rumah sering dianggap aman.
Padahal, bahaya kelistrikan tidak selalu tampak dari kabel terkelupas, percikan api, atau korsleting besar. Pada sejumlah kasus, risiko muncul dari masalah yang lebih tersembunyi, seperti sambungan buruk, beban berlebih, kerusakan isolasi kabel, busur listrik, hingga kebocoran arus.
Risiko tersebut tidak bisa dianggap sepele. Berdasarkan Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL) 2020, sekitar 60–70 persen kebakaran terjadi akibat listrik.
Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengatakan, 95 persen kebakaran yang terjadi di wilayah Jakarta disebabkan oleh hubungan arus pendek listrik atau korsleting.
“Di Jakarta, hampir rata-rata kebakaran terjadi karena korsleting listrik. Itu berdasarkan survei kita hampir 95 persen,” kata Rano seperti diberitakan Kompas.com, Selasa (2/6/2026).
Baca juga: Rano Karno: 95 Persen Kebakaran di Jakarta Disebabkan Korsleting Listrik
Temuan itu sejalan dengan Laporan Teknis International Electrotechnical Commission (IEC TR 63054) tentang Analisis Risiko Kebakaran dan Langkah Pengurangan Risiko.
Pada laporan tersebut, akar masalah kebakaran akibat listrik dapat berasal dari sejumlah faktor, mulai dari sambungan buruk, busur listrik lintas jalur berkarbonasi, busur listrik di udara, insulasi termal berlebihan, beban berlebih, hingga kerusakan dielektrik pada isolasi.
Salah satu contohnya terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soetomo, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (15/5/2026) pagi. Kebakaran melanda ruang farmasi lantai 5 Gedung Pusat Pelayanan Jantung Terpadu (PPJT) akibat korsleting listrik pada kabel lemari es dan membuat puluhan pasien harus dievakuasi.
Satu pasien dari lantai 6 dinyatakan meninggal dunia oleh tim medis IGD RSUD dr Soetomo. Api baru dapat dipadamkan sekitar pukul 09.58 WIB.
Kasus lain dialami kreator konten Septi Arshila. Melalui akun TikTok-nya, ia menceritakan pengalamannya saat rumahnya nyaris terbakar. Peristiwa itu dipicu oleh letupan disertai percikan listrik dari kabel yang sedang dipasang.
“Saya enggak sadar kalau ada salah satu kabel yang terbuka (terkelupas) saat sedang melakukan instalasi listrik mandiri dengan posisi soket menyala. Untungnya, saat itu, saya sudah memasang MCB yang secara otomatis memutus aliran saat terjadi korsleting listrik,” katanya.
Setelah kejadian tersebut, Septi memasang residual current circuit breaker (RCCB), yakni perangkat yang berfungsi mendeteksi kebocoran arus listrik.
Baca juga: Kerugian Kebakaran RSUD dr Soetomo Surabaya Mencapai Rp 10 Miliar
Selain kebakaran, ada pula risiko sengatan listrik akibat kebocoran listrik. Ancaman ini bahkan bisa terjadi, meski MCB berfungsi normal.
Contohnya, kejadian sengatan listrik yang menimpa warga negara asing (WNA) asal Jerman berinisial PP (53). Ia diduga tersengat listrik karena arus bocor pada water heater di tempat tinggalnya di kawasan Sanur, Denpasar, Bali, Senin (25/5/2026).
Beberapa warga sekitar yang membantu mengevakuasi korban mengaku merasakan sengatan listrik dari selang shower kamar mandi tempat kejadian.
Dari hasil pemeriksaan awal Tim Identifikasi Polresta Denpasar, ditemukan luka bakar di bagian punggung belakang korban serta bekas kulit menempel pada selang shower kamar mandi.
Akademisi Universitas Tarumanagara Hadian Satria Utama, MSEE, mengatakan, perlindungan terhadap risiko akibat listrik tidak cukup dengan MCB saja.





