Jakarta (ANTARA) - Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri secara khusus menegaskan bahwa dirinya bukan musuh Presiden Prabowo Subianto.
Ia menunjukkan bukti kedekatan mereka saat peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni lalu, guna menepis upaya pihak mana pun yang ingin membenturkan mereka.
“Pak Prabowo sama saya bersahabat. Tapi kan harusnya dipisahkan, bersahabat ya bersahabat, tapi berpolitik kita bisa untuk apa? Untuk demokratisasi. Tapi saya bukan musuh dia, itu teman saya. Kamu lihat toh waktu 1 Juni? Aku kan gandengan sama dia, ketawa-ketawa. Ayo, apa artinya? Nggak ada. Nanti baru orang teman-temannya yang maunya mem-berang-ko-kan (membenturkan), ‘Oh Ibu Mega itu coba gitu mau melawan Pak Prabowo’. Nanti bisa saya jawab. Jangan gitu dong! Kalian tuh harus berani, karena negara kita ini punya tata hukumnya,” kata Megawati dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin.
Hal itu disampaikannya usai meresmikan renovasi Istana Gebang dan patung Bung Karno di Blitar, Senin. Dalam kesempatan itu, Megawati juga menyampaikan pidato tanpa teks yang menyentuh langsung persoalan riil rakyat yakni kenaikan harga barang.
Megawati mencontohkan khususnya cabai yang dilaporkan mencapai Rp180.000 per kilogram di sejumlah daerah. Di hadapan ribuan kader dan simpatisan yang memadati halaman Istana Gebang, Senin (15/6/2026), Megawati mengakui bahwa harga kebutuhan pokok sedang melonjak.
Ia bahkan berdialog langsung dan meminta audiens menyebutkan harga cabai di wilayah masing-masing.
"Harga-harga di sini udah pada naik apa belum? (Audiens: Naik!) Cabe harganya berapa? Seratus ribu? Enam puluh ribu? Di daerah timur saya dapat laporan cabe itu harganya Rp180.000. Wes ora usah mangan lombok (sudah tidak usah makan cabai) wes ora usah. Atau apa? Bikin gerakan menanam cabe di rumah sendiri,” ujar Megawati.
Baca juga: PDI Perjuangan nilai hubungan Megawati dan Prabowo tetap terjaga
Namun, ia mengingatkan bahwa dalam menyampaikan keluhan terkait kebijakan ekonomi, masyarakat dan kader partai harus memahami tata cara serta etika dalam sistem hukum tata negara, terutama karena PDI Perjuangan saat ini berada di luar pemerintahan.
"Saya tahu harga udah pada naik. Tapi saya juga tahu tata cara. Saya tidak ada dalam pemerintahan. Ya saya akan menyampaikan, tapi menyampaikannya ke siapa? Yaitu ke DPR dari fraksi PDI Perjuangan. Gitu lho. Itu apa namanya? Itu tata cara, itu apa namanya? Etika dan moral,” ujarnya.
Selain menyoroti kenaikan harga di tingkat konsumen, Megawati juga menyampaikan keprihatinannya pada nasib petani sebagai "Soko Guru" bangsa. Mengambil pelajaran dari konsep Marhaenisme yang diajarkan Bung Karno melalui dialognya dengan Pak Marhaen di Bandung, Megawati menegaskan pentingnya mengorganisir petani agar mandiri dan mampu mewujudkan kedaulatan pangan.
Untuk itu, ia kembali mengingatkan instruksi yang telah ia keluarkan sejak tahun 2021 kepada seluruh struktur partai untuk menggalakkan penanaman 10 jenis tanaman pangan pendamping beras guna mencegah ancaman kelaparan.
"Sejak 2021 sebagai Ketua Umum, saya sudah memberikan instruksi ke seluruh daerah untuk menanam 10 tanaman pangan sebagai pendamping beras. Siapa yang sudah mengerjakan? Jangan sombong kalau jadi anggota PDI Perjuangan. Kalian tidak malu sama saya? Umur saya sudah mau 80 tahun, tapi saya masih bisa berteriak seperti ini. Mbok ya semangat!” selorohnya.
Baca juga: Prabowo dan Megawati tampak akrab pada upacara Hari Lahir Pancasila
Megawati mengingatkan kembali pesan mendasar dari Bung Karno bahwa urusan perut rakyat adalah prioritas mutlak yang harus dipenuhi demi mencegah terjadinya kerusuhan.
"Artinya nomor satu untuk rakyat adalah makanan. Makanya kenapa saya tadi nanya harga sudah naik apa belum,” tuturnya.
Peresmian renovasi Istana Gebang yang dihadiri ribuan kader dan pimpinan partai itu berlangsung khidmat. Setelah pidato dan penekanan sirine selesai, Megawati bersama keluarga, jajaran petinggi partai, dan sahabatnya, berjalan masuk untuk berkeliling meninjau interior rumah masa kecil Bung Karno tersebut.
Baca juga: Prabowo akui dibantu Megawati semasa tak berkuasa
Baca juga: Hasto: Pertemuan Prabowo-Megawati momentum bahas arah bangsa
Baca juga: Gerindra: Megawati adalah contoh elegan meski bukan koalisi pemerintah
Ia menunjukkan bukti kedekatan mereka saat peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni lalu, guna menepis upaya pihak mana pun yang ingin membenturkan mereka.
“Pak Prabowo sama saya bersahabat. Tapi kan harusnya dipisahkan, bersahabat ya bersahabat, tapi berpolitik kita bisa untuk apa? Untuk demokratisasi. Tapi saya bukan musuh dia, itu teman saya. Kamu lihat toh waktu 1 Juni? Aku kan gandengan sama dia, ketawa-ketawa. Ayo, apa artinya? Nggak ada. Nanti baru orang teman-temannya yang maunya mem-berang-ko-kan (membenturkan), ‘Oh Ibu Mega itu coba gitu mau melawan Pak Prabowo’. Nanti bisa saya jawab. Jangan gitu dong! Kalian tuh harus berani, karena negara kita ini punya tata hukumnya,” kata Megawati dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin.
Hal itu disampaikannya usai meresmikan renovasi Istana Gebang dan patung Bung Karno di Blitar, Senin. Dalam kesempatan itu, Megawati juga menyampaikan pidato tanpa teks yang menyentuh langsung persoalan riil rakyat yakni kenaikan harga barang.
Megawati mencontohkan khususnya cabai yang dilaporkan mencapai Rp180.000 per kilogram di sejumlah daerah. Di hadapan ribuan kader dan simpatisan yang memadati halaman Istana Gebang, Senin (15/6/2026), Megawati mengakui bahwa harga kebutuhan pokok sedang melonjak.
Ia bahkan berdialog langsung dan meminta audiens menyebutkan harga cabai di wilayah masing-masing.
"Harga-harga di sini udah pada naik apa belum? (Audiens: Naik!) Cabe harganya berapa? Seratus ribu? Enam puluh ribu? Di daerah timur saya dapat laporan cabe itu harganya Rp180.000. Wes ora usah mangan lombok (sudah tidak usah makan cabai) wes ora usah. Atau apa? Bikin gerakan menanam cabe di rumah sendiri,” ujar Megawati.
Baca juga: PDI Perjuangan nilai hubungan Megawati dan Prabowo tetap terjaga
Namun, ia mengingatkan bahwa dalam menyampaikan keluhan terkait kebijakan ekonomi, masyarakat dan kader partai harus memahami tata cara serta etika dalam sistem hukum tata negara, terutama karena PDI Perjuangan saat ini berada di luar pemerintahan.
"Saya tahu harga udah pada naik. Tapi saya juga tahu tata cara. Saya tidak ada dalam pemerintahan. Ya saya akan menyampaikan, tapi menyampaikannya ke siapa? Yaitu ke DPR dari fraksi PDI Perjuangan. Gitu lho. Itu apa namanya? Itu tata cara, itu apa namanya? Etika dan moral,” ujarnya.
Selain menyoroti kenaikan harga di tingkat konsumen, Megawati juga menyampaikan keprihatinannya pada nasib petani sebagai "Soko Guru" bangsa. Mengambil pelajaran dari konsep Marhaenisme yang diajarkan Bung Karno melalui dialognya dengan Pak Marhaen di Bandung, Megawati menegaskan pentingnya mengorganisir petani agar mandiri dan mampu mewujudkan kedaulatan pangan.
Untuk itu, ia kembali mengingatkan instruksi yang telah ia keluarkan sejak tahun 2021 kepada seluruh struktur partai untuk menggalakkan penanaman 10 jenis tanaman pangan pendamping beras guna mencegah ancaman kelaparan.
"Sejak 2021 sebagai Ketua Umum, saya sudah memberikan instruksi ke seluruh daerah untuk menanam 10 tanaman pangan sebagai pendamping beras. Siapa yang sudah mengerjakan? Jangan sombong kalau jadi anggota PDI Perjuangan. Kalian tidak malu sama saya? Umur saya sudah mau 80 tahun, tapi saya masih bisa berteriak seperti ini. Mbok ya semangat!” selorohnya.
Baca juga: Prabowo dan Megawati tampak akrab pada upacara Hari Lahir Pancasila
Megawati mengingatkan kembali pesan mendasar dari Bung Karno bahwa urusan perut rakyat adalah prioritas mutlak yang harus dipenuhi demi mencegah terjadinya kerusuhan.
"Artinya nomor satu untuk rakyat adalah makanan. Makanya kenapa saya tadi nanya harga sudah naik apa belum,” tuturnya.
Peresmian renovasi Istana Gebang yang dihadiri ribuan kader dan pimpinan partai itu berlangsung khidmat. Setelah pidato dan penekanan sirine selesai, Megawati bersama keluarga, jajaran petinggi partai, dan sahabatnya, berjalan masuk untuk berkeliling meninjau interior rumah masa kecil Bung Karno tersebut.
Baca juga: Prabowo akui dibantu Megawati semasa tak berkuasa
Baca juga: Hasto: Pertemuan Prabowo-Megawati momentum bahas arah bangsa
Baca juga: Gerindra: Megawati adalah contoh elegan meski bukan koalisi pemerintah





