Badung, VIVA – Hasil tanpa medali yang diraih Indonesia pada Kejuaraan Asia Renang Perairan Terbuka atau Open Water Swimming (OWS) 2026 di Bali ternyata tak sepenuhnya dipandang sebagai kegagalan. Pengurus Besar (PB) Akuatik Indonesia justru melihat ajang bergengsi tingkat Asia tersebut sebagai momentum penting untuk menyiapkan generasi penerus atlet nasional.
Kejuaraan OWS Asia ke-12 yang berlangsung di pesisir InterContinental Jimbaran Bay, Kabupaten Badung, Bali, pada 13–15 Juni 2026 menjadi panggung pembelajaran bagi para perenang muda Indonesia. Mereka mendapat kesempatan berharga bersaing langsung dengan atlet elite dari berbagai negara Asia seperti China, Vietnam, hingga Korea Selatan.
Manager Tim Nasional Indonesia Renang Perairan Terbuka Donny Budiarto Utomo menegaskan bahwa fokus utama PB Akuatik saat ini bukan semata mengejar medali, melainkan membangun fondasi regenerasi atlet.
“Fokus kami untuk para junior, atlet baru. Kami sedang mencari bibit atlet pengganti karena kita cukup punya potensi di nomor renang perairan terbuka,” kata Donny pada hari terakhir kejuaraan di Bali, Senin 15 Juni 2026.
Menurutnya, pengalaman menghadapi lawan-lawan kuat Asia menjadi bekal penting bagi para atlet muda untuk berkembang di masa mendatang. Berbagai tantangan khas renang perairan terbuka seperti arus laut, angin, hingga kondisi alam menjadi pelajaran yang tidak bisa diperoleh dari latihan biasa.
PB Akuatik Indonesia juga menjadikan ajang ini sebagai persiapan menuju kompetisi berikutnya yang lebih spesifik di level Asia Tenggara.
Nantinya, federasi akan melakukan seleksi atlet untuk tampil di Southeast Asia OWS Championship yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026 di Boracay, Filipina.
“Kejuaraan itu kelompok umur dan tujuannya memang untuk pembinaan usia muda agar kami punya regenerasi yang baik,” imbuhnya.
Semangat pembinaan usia dini juga terlihat dari penyelenggaraan A Stream OWS yang digelar bersamaan dengan Kejuaraan Asia OWS 2026. Direktur Kompetisi sekaligus Wakil Kepala Bidang High Performance Renang dan OWS, Felix C Sutanto, menyebut ajang tersebut menjadi sarana efektif menjaring bibit-bibit baru.
Tak tanggung-tanggung, A Stream OWS di Bali diikuti 284 peserta, termasuk anak-anak berusia 7 hingga 10 tahun yang mulai mengenal renang perairan terbuka sejak dini.





