Layanan PSO dukungan Pemerintah melalui DJKA Kemenhub ini melayani 388.190 pelanggan Januari–Mei 2026, naik 38,29 persen, dengan tarif terjauh Rp32.000
Jakarta (ANTARA) - PT Kereta Api Indonesia (Persero) menghadirkan peningkatan layanan pada KA Rajabasa relasi Kertapati–Tanjungkarang PP sebagai respons atas tingginya antusiasme dan masukan pelanggan di lintas Lampung–Sumatera Selatan. Mulai Sabtu, 4 Juli 2026, KA Rajabasa menggunakan Kereta Ekonomi Premium Modifikasi, menggantikan sarana Kereta Ekonomi Tegak Lurus 106 tempat duduk.
Peningkatan sarana ini menjadi bagian dari proses perbaikan layanan yang dilakukan secara bertahap. KAI memahami bahwa pelanggan membutuhkan perjalanan yang semakin nyaman, terutama pada KA Rajabasa yang menempuh perjalanan antardaerah cukup panjang dan menjadi pilihan penting masyarakat di dua provinsi.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, setiap masukan pelanggan menjadi perhatian KAI dalam menyusun langkah perbaikan layanan.
“KAI mendengarkan masukan pelanggan KA Rajabasa. Kami memahami harapan masyarakat terhadap perjalanan yang lebih nyaman, terjangkau, dan tetap andal. Perbaikan layanan membutuhkan proses, mulai dari kesiapan sarana, pola operasi, keselamatan, hingga pelayanan di lapangan. Karena itu, peningkatan dilakukan secara bertahap agar manfaatnya dapat dirasakan pelanggan dengan baik,” ujar Anne.
Sebelumnya, KAI telah menambah stamformasi KA Rajabasa dari 5 kereta menjadi 8 kereta dalam satu rangkaian. Saat masih menggunakan sarana Ekonomi Tegak Lurus, penambahan tersebut menaikkan kapasitas dari 530 menjadi 848 tempat duduk per perjalanan, atau bertambah sekitar 60 persen. Langkah ini dilakukan untuk mengakomodasi kebutuhan pelanggan yang semakin tinggi.
Memasuki tahap berikutnya, KAI menghadirkan Kereta Ekonomi Premium Modifikasi untuk memperbaiki pengalaman perjalanan pelanggan. Dengan susunan 8 kereta ekonomi premium modifikasi, KA Rajabasa menyediakan 640 tempat duduk per perjalanan. Pelanggan dapat menikmati individual seat dengan arm rest, reclining seat, AC central, stop kontak, serta konfigurasi tempat duduk yang lebih nyaman untuk perjalanan jarak jauh.
KA Rajabasa merupakan kereta api Public Service Obligation (PSO) yang didukung Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan. Melalui dukungan tersebut, masyarakat dapat melakukan perjalanan jarak jauh antara Palembang dan Bandar Lampung dengan tarif terjangkau. Untuk jarak terjauh Kertapati–Tanjungkarang maupun sebaliknya, tarif KA Rajabasa sebesar Rp32.000.
Sepanjang 2025, KA Rajabasa melayani 686.788 pelanggan. Pada Januari–Mei 2026, layanan ini melayani 388.190 pelanggan, meningkat 38,29 persen dibanding periode yang sama pada 2025 sebanyak 280.719 pelanggan. Artinya, terdapat tambahan 107.471 pelanggan dalam lima bulan pertama 2026.
Menurut Anne, pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa KA Rajabasa memiliki peran kuat dalam kehidupan masyarakat Lampung dan Sumatera Selatan. Banyak pelanggan mengandalkan kereta api ini untuk bekerja, bersekolah, kuliah, berobat, berdagang, bertemu keluarga, hingga berwisata pada akhir pekan.
“Bagi pelanggan, perjalanan dengan tarif Rp32.000 untuk jarak terjauh sangat berarti. Biaya transportasi yang terjangkau membantu masyarakat mengatur kebutuhan lain, seperti pendidikan anak, biaya kesehatan, kebutuhan keluarga, atau modal usaha kecil. Karena itu, peningkatan kenyamanan KA Rajabasa diarahkan agar layanan PSO ini semakin dekat dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat,” kata Anne.
Peningkatan sarana yang mulai berlaku pada akhir pekan, Sabtu 4 Juli 2026, juga memberi pilihan perjalanan yang lebih nyaman bagi pelanggan yang ingin bepergian bersama keluarga. Perjalanan dari Lampung menuju Sumatera Selatan, maupun sebaliknya, dapat mendukung kebutuhan masyarakat untuk bersilaturahmi, mengakses pendidikan, memperoleh layanan kesehatan, berwisata, atau menjalankan kegiatan ekonomi.
KA Rajabasa melayani perjalanan hingga 389 kilometer dan menjadi salah satu rangkaian kereta api penumpang terpanjang di Pulau Sumatra yang beroperasi secara reguler. Kereta api ini menghubungkan dua simpul utama, yaitu Stasiun Kertapati di Palembang dan Stasiun Tanjungkarang di Bandar Lampung.
Dalam perjalanannya, KA Rajabasa melayani sejumlah stasiun pemberhentian, yaitu Kertapati, Lembak, Prabumulih, Peninjawan, Tigagajah, Baturaja, Martapura, Way Tuba, Blambangan Umpu, Tulang Buyut, Negara Ratu, Ketapang, Kotabumi, Sulusuban, Bekri, Tegineneng, Rejosari, Labuan Ratu, dan Tanjungkarang.
Nama Rajabasa diambil dari Gunung Rajabasa di Provinsi Lampung. Sejak beroperasi, KA Rajabasa dikenal sebagai penghubung penting masyarakat Lampung dan Sumatera Selatan. Keberadaannya membantu memperpendek jarak sosial antardaerah, memperlancar mobilitas masyarakat, serta menjaga akses transportasi publik tetap terbuka bagi lebih banyak lapisan masyarakat.
“KAI ingin pelanggan memahami bahwa setiap masukan menjadi bagian penting dari proses perbaikan. Kami menata layanan secara bertahap agar KA Rajabasa semakin nyaman, tetap terjangkau, dan dapat diandalkan masyarakat. Harapannya, pelanggan merasakan bahwa perjalanan dengan kereta api semakin sesuai dengan kebutuhan mereka,” tutup Anne.
Jakarta (ANTARA) - PT Kereta Api Indonesia (Persero) menghadirkan peningkatan layanan pada KA Rajabasa relasi Kertapati–Tanjungkarang PP sebagai respons atas tingginya antusiasme dan masukan pelanggan di lintas Lampung–Sumatera Selatan. Mulai Sabtu, 4 Juli 2026, KA Rajabasa menggunakan Kereta Ekonomi Premium Modifikasi, menggantikan sarana Kereta Ekonomi Tegak Lurus 106 tempat duduk.
Peningkatan sarana ini menjadi bagian dari proses perbaikan layanan yang dilakukan secara bertahap. KAI memahami bahwa pelanggan membutuhkan perjalanan yang semakin nyaman, terutama pada KA Rajabasa yang menempuh perjalanan antardaerah cukup panjang dan menjadi pilihan penting masyarakat di dua provinsi.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, setiap masukan pelanggan menjadi perhatian KAI dalam menyusun langkah perbaikan layanan.
“KAI mendengarkan masukan pelanggan KA Rajabasa. Kami memahami harapan masyarakat terhadap perjalanan yang lebih nyaman, terjangkau, dan tetap andal. Perbaikan layanan membutuhkan proses, mulai dari kesiapan sarana, pola operasi, keselamatan, hingga pelayanan di lapangan. Karena itu, peningkatan dilakukan secara bertahap agar manfaatnya dapat dirasakan pelanggan dengan baik,” ujar Anne.
Sebelumnya, KAI telah menambah stamformasi KA Rajabasa dari 5 kereta menjadi 8 kereta dalam satu rangkaian. Saat masih menggunakan sarana Ekonomi Tegak Lurus, penambahan tersebut menaikkan kapasitas dari 530 menjadi 848 tempat duduk per perjalanan, atau bertambah sekitar 60 persen. Langkah ini dilakukan untuk mengakomodasi kebutuhan pelanggan yang semakin tinggi.
Memasuki tahap berikutnya, KAI menghadirkan Kereta Ekonomi Premium Modifikasi untuk memperbaiki pengalaman perjalanan pelanggan. Dengan susunan 8 kereta ekonomi premium modifikasi, KA Rajabasa menyediakan 640 tempat duduk per perjalanan. Pelanggan dapat menikmati individual seat dengan arm rest, reclining seat, AC central, stop kontak, serta konfigurasi tempat duduk yang lebih nyaman untuk perjalanan jarak jauh.
KA Rajabasa merupakan kereta api Public Service Obligation (PSO) yang didukung Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan. Melalui dukungan tersebut, masyarakat dapat melakukan perjalanan jarak jauh antara Palembang dan Bandar Lampung dengan tarif terjangkau. Untuk jarak terjauh Kertapati–Tanjungkarang maupun sebaliknya, tarif KA Rajabasa sebesar Rp32.000.
Sepanjang 2025, KA Rajabasa melayani 686.788 pelanggan. Pada Januari–Mei 2026, layanan ini melayani 388.190 pelanggan, meningkat 38,29 persen dibanding periode yang sama pada 2025 sebanyak 280.719 pelanggan. Artinya, terdapat tambahan 107.471 pelanggan dalam lima bulan pertama 2026.
Menurut Anne, pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa KA Rajabasa memiliki peran kuat dalam kehidupan masyarakat Lampung dan Sumatera Selatan. Banyak pelanggan mengandalkan kereta api ini untuk bekerja, bersekolah, kuliah, berobat, berdagang, bertemu keluarga, hingga berwisata pada akhir pekan.
“Bagi pelanggan, perjalanan dengan tarif Rp32.000 untuk jarak terjauh sangat berarti. Biaya transportasi yang terjangkau membantu masyarakat mengatur kebutuhan lain, seperti pendidikan anak, biaya kesehatan, kebutuhan keluarga, atau modal usaha kecil. Karena itu, peningkatan kenyamanan KA Rajabasa diarahkan agar layanan PSO ini semakin dekat dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat,” kata Anne.
Peningkatan sarana yang mulai berlaku pada akhir pekan, Sabtu 4 Juli 2026, juga memberi pilihan perjalanan yang lebih nyaman bagi pelanggan yang ingin bepergian bersama keluarga. Perjalanan dari Lampung menuju Sumatera Selatan, maupun sebaliknya, dapat mendukung kebutuhan masyarakat untuk bersilaturahmi, mengakses pendidikan, memperoleh layanan kesehatan, berwisata, atau menjalankan kegiatan ekonomi.
KA Rajabasa melayani perjalanan hingga 389 kilometer dan menjadi salah satu rangkaian kereta api penumpang terpanjang di Pulau Sumatra yang beroperasi secara reguler. Kereta api ini menghubungkan dua simpul utama, yaitu Stasiun Kertapati di Palembang dan Stasiun Tanjungkarang di Bandar Lampung.
Dalam perjalanannya, KA Rajabasa melayani sejumlah stasiun pemberhentian, yaitu Kertapati, Lembak, Prabumulih, Peninjawan, Tigagajah, Baturaja, Martapura, Way Tuba, Blambangan Umpu, Tulang Buyut, Negara Ratu, Ketapang, Kotabumi, Sulusuban, Bekri, Tegineneng, Rejosari, Labuan Ratu, dan Tanjungkarang.
Nama Rajabasa diambil dari Gunung Rajabasa di Provinsi Lampung. Sejak beroperasi, KA Rajabasa dikenal sebagai penghubung penting masyarakat Lampung dan Sumatera Selatan. Keberadaannya membantu memperpendek jarak sosial antardaerah, memperlancar mobilitas masyarakat, serta menjaga akses transportasi publik tetap terbuka bagi lebih banyak lapisan masyarakat.
“KAI ingin pelanggan memahami bahwa setiap masukan menjadi bagian penting dari proses perbaikan. Kami menata layanan secara bertahap agar KA Rajabasa semakin nyaman, tetap terjangkau, dan dapat diandalkan masyarakat. Harapannya, pelanggan merasakan bahwa perjalanan dengan kereta api semakin sesuai dengan kebutuhan mereka,” tutup Anne.





