Aliansi mahasiswa Universitas Bung Karno dan Universitas MH Thamrin memberikan ultimatum kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Mereka memberikan batas waktu selama 5x24 jam untuk merealisasikan seluruh tuntutan aksi.
Konsekuensi berat akan diambil jika kesepakatan tersebut tidak kunjung terpenuhi oleh pemerintah. Mahasiswa mengancam bakal segera menggelar aksi unjuk rasa lanjutan dengan gelombang massa yang jauh lebih masif.
"Kami dari BEM Universitas Bung Karno (UBK) memberikan waktu 5x24 jam. Ketika aspirasi yang kami sampaikan tidak terealisasi, maka kami akan bentuk daripada pergerakan tersebut, aksi jilid-jilid berjilid," ujar Ketua BEM Fakultas Hukum UBK, M Abdi Maludin.
Perwakilan mahasiswa menyampaikan tuntutan tersebut melalui sebuah nota memorandum. Dokumen tersebut berisi tiga klaster pembahasan utama yang meliputi sektor fiskal, hukum, hingga energi.
Mahasiswa secara spesifik mendesak adanya evaluasi total terhadap program Makan Bergizi Gratis. Mereka juga menuntut pembatalan kebijakan kenaikan harga BBM jenis Pertamax yang dinilai membebani masyarakat.
Wapres Gibran merespons positif kedatangan para mahasiswa ke Istana. Pihak istana berjanji akan segera meneruskan berkas kajian tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto.
"Artinya Mas Wapres terbuka dan menerima hasil kajian. Dia akan mengaudit dan mengkonsolidasi, memberitahukan kepada pimpinan, lebih khusus Presiden Prabowo Subianto. Dia akan sounding lagi," tutur Abdi.
Di hadapan delegasi, Gibran mengakui bahwa roda pemerintahan saat ini masih memiliki banyak kekurangan. Ia pun mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk ikut serta memperbaiki performa kabinet.
“Yang sudah kita capai sekarang, apa yang sudah dibangun itu yang kita rawat bersama. Saya sadar masih banyak minus-minusnya, kekurangannya banyak, ya ini yang harus kita perbaiki bersama,” kata Gibran dalam keterangan tertulis.
Agenda penyampaian aspirasi di Jalan Medan Merdeka Selatan ini sempat diwarnai ketegangan fisik. Rombongan demonstran tercatat sempat dua kali diadang petugas kepolisian saat menuju lokasi aksi.
Aparat keamanan juga menutup total akses jalan menuju kawasan Patung Kuda menggunakan barikade taktis. Ketegangan baru mereda setelah 15 orang perwakilan mahasiswa diperkenankan masuk ke dalam kompleks istana.
Baca Juga: Mahasiswa Ultimatum DPR: Diam Sama dengan Khianat Rakyat!
Pihak istana menyatakan sangat menghargai sikap kritis yang ditunjukkan oleh para mahasiswa. Seluruh draf koreksi yang diserahkan oleh BEM akan dijadikan sebagai bahan evaluasi internal pemerintahan.
“Makanya ini saya terima kasih sekali dapat masukan-masukan,” ujar Gibran. “Saya senang mahasiswa kritis ikut mengevaluasi, ikut memberikan saran,” katanya.





